Noda

Noda
Siap Gassss


__ADS_3

Satu jam setelah pergi, Kaivan kembali ke galeri, dengan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. Dia turun dari taxi dan melangkah ringan menuju ruangan Nadhea. Dia berharap, tiga seniman angkuh sudah hengkang dari sana.


Akan tetapi, niat Kaivan urung sebelum tiba di ambang pintu. Ponselnya bergetar dan Kaivan meraihnya, ada satu pesan dari Nadhea.


[Kamu di mana? Aku cari sampai ke atas, kok, nggak ada.]


Kaivan tersenyum dan kemudian membalasnya—menanyakan keberadaan Nadhea saat ini.


Tak lama kemudian, Nadhea sudah membalas, ternyata dia sedang ada di lantai tiga. Tanpa pikir panjang, Kaivan langsung masuk lift dan menuju sana.


Setibanya di lantai tiga, Nadhea sudah menunggu di depan pintu. Entah perasaan Kaivan yang berlebihan atau memang benar adanya, sepertinya raut muka Nadhea menampilkan kekhawatiran.


"Kamu dari mana, Bang Kai? Aku cari dari tadi, tapi kamu nggak ada. Aku tanya sama yang lain, katanya juga nggak lihat kamu," ujar Nadhea dengan bibir yang sedikit manyun.


"Nggak dari mana-mana, aku tadi hanya ... menyendiri aja di luar." Kaivan tersenyum. "Mmm, seniman-seniman tadi ke mana?" sambungnya mengalihkan pembicaraan.


"Seniman?"


"Yang tadi sempat ngobrol di ruanganmu. Sorry, aku dengar dikit. Tadi aku mau nyamperin kamu di sana, tapi ... ada mereka. Sebel aku dengar kritikannya. Belagu banget," jawab Kaivan sembari mengikuti langkah Nadhea yang menuju ruang dapur.


Nadhea tertawa renyah, dan hal itu membuat Kaivan salah tingkah. Wajah ayu alami Nadhea makin terpancar ketika dia tertawa tanpa dibuat-buat.


"Ternyata dia lebih cantik dari yang kukira. Waktu di Rinjani dulu, apa dia juga secantik ini? Ah, bodohnya aku, tidak memperhatikan dia dari saat itu," batin Kaivan.


"Aku buatin teh krisan, mau? " tawar Nadhea.


"Boleh." Kaivan mengangguk sambil duduk di kursi plastik, di dekat wastafel.


Kaivan memandangi gerak-gerik Nadhea yang sedang menyeduh teh.

__ADS_1


"Mereka itu nggak belagu, Bang Kai. Apa yang dikatakan mereka benar, lukisanku masih mentah, belum layak bersanding dengan lukisan-lukisan lain. Aku memang harus banyak belajar. Beruntung banget, mereka tadi mau berbagi ilmu sama aku." Nadhea memberikan penjelasan sambil menarik kursi dan duduk di sebelah Kaivan.


"Tapi, bahasanya itu loh kasar. Nggak bisa diperhalus apa? Lagian, lukisan kamu udah bagus kok, mereka aja yang kurang teliti," gerutu Kaivan.


"Andai yang melukis itu bukan aku, kamu masih mengatakan hal yang sama, nggak?" tanya Nadhea, yang sontak membuat Kaivan gelagapan.


"Bang Kai, kamu juga seniman, bahkan bidangmu pun sama denganku, seni lukis. Hanya saja, kamu digital, alatmu kamera. Tapi, dalam bidangmu juga ada, kan, pengaturan cahaya, pengambilan sudut gambar, jarak, dan lain-lain? Waktu awal-awal dulu, kamu pernah nggak dikritik? Pernah nggak tidak puas dengan jepretan sendiri? Lantas, apa kamu marah dan menyerah?" sambung Nadhea karena Kaivan masih diam.


Perlahan, Kaivan mengingat masa lalunya, ketika dia kuliah dan belum menyemat gelar fotografer. Kritikan dan masukan bukan hanya pernah, melainkan sering. Mulai dari yang halus, kias, sampai yang pedas. Marah? Tentu saja tidak. Kaivan menjadikan hal itu sebagai motivasi untuk memperbaiki diri.


Usai mengenang kisah lama, Kaivan kembali menatap Nadhea, yang saat ini sedang menyesap teh.


"Iya, harusnya itu bukan masalah, tapi ... ah, kenapa aku yang begini? Sebesar inikah perasaanku padanya?" batin Kaivan.


"Aku masih belajar. Hal seperti itu sudah biasa. Kamu jangan berlebihan, Bang Kai, kalau tidak mau aku salah paham," ujar Nadhea beberapa saat kemudian.


Lagi-lagi Nadhea tertawa, "Udah jangan dipikirkan! Buruan diminum, setelah ini aku mau turun lagi. Kamu istirahat aja kalau capek."


Sebenarnya, Kaivan sedikit terusik dengan kata 'salah paham', tetapi tak banyak bertanya karena ponsel Nadhea tiba-tiba berdering. Alhasil, dia menghabiskan tehnya tanpa perbincangan.


________________


Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 pagi, Darren dan Kirana sudah tiba di Queen Galery. Mereka memang sengaja mencari penerbangan yang paling awal.


Kedatangannya disambut hangat oleh Prawira, Nadhea, dan juga Kaivan. Mereka langsung dijamu hidangan mewah dan kemudian diajak berkeliling galeri. Sungguh banyak obrolan mereka sewaktu bersama, mulai dari bisnis sampai hal pribadi.


Akan tetapi, pertemuan mereka tidak berlangsung lama. Darren dan Kirana pamit undur diri selagi tengah hari. Maklum, Darren juga pebisnis, jadi tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama.


"Baik-baik di sini, jangan membuat malu Papa," ujar Darren ketika ajakan pulangnya ditolak oleh Kaivan. "Pak Wira, telpon saja jangan sungkan kalau dia berulah dan merepotkan Anda." Darren kembali bicara sambil menatap Prawira.

__ADS_1


"Nak Kaivan tidak pernah merepotkan, justru membantu pekerjaan kami di sini. Terima kasih, sudah mengizinkannya tinggal lebih lama," jawab Prawira syarat akan senyuman.


Setelah itu, Darren dan Kirana benar-benar pulang. Mereka ke bandara diantarkan oleh Kaivan dan Nadhea. Sepanjang perjalanan, mereka banyak berbincang, terlebih Kirana dan Nadhea. Tak hentinya Kirana memuji Nadhea, entah itu paras, bakat, dan juga akhlak. Kirana juga mengatakan bahwa dirinya sangat mengharap kehadiran Nadhea di kediamannya.


"Hati-hati, Om, Tante. Semoga perjalanan lancar sampai tujuan. Terima kasih banyak sudah berkenan hadir di sini," ucap Nadhea ketika mereka sudah tiba di bandara.


"Kami juga berterima kasih. Suatu kehormatan mendapat undangan darimu, Nak," jawab Kirana sembari memeluk Nadhea sekilas.


Di sisi lain, Kaivan juga memeluk ayahnya. Selain mendoakan perjalanan, Kaivan juga membisikkan kalimat lain.


"Aku akan maju, Pa. Doakan semoga usahaku tidak sia-sia."


"Tidak ada kata sia-sia. Walaupun ada kegagalan, itu hanya bagian dari keberhasilan. Papa merestuimu," jawab Kaivan juga dengan bisikan.


Setelah itu Kaivan mengurai pelukan dengan hati yang luar biasa senangnya. Terlahir menjadi anak Darren dan Kirana adalah anugerah terindah. Bagaimana tidak, orang tuanya itu tak pernah memandang orang lain dari status. Tak peduli bagaimana masa lalu Nadhea, mereka tetap menganggapnya istimewa dan berharga. Pun saat Athreya dilamar Kennan. Mereka tak mempermasalahkan status sosial Kennan yang jauh di bawahnya.


"Om dan Tante adalah orang yang sangat baik," ujar Nadhea ketika Darren dan Kirana mulai menjauh. Bukan tanpa alasan dia berkata demikian, sikap ramah yang ditunjukkan Kirana jarang dimiliki orang lain, bahkan ibunya pun tak memiliki sifat itu untuk dirinya. Dalam diri Kirana, Nadhea seolah menemukan sosok ibu yang sebenarnya.


"Iya, mereka memang baik. Kamu mau nggak menjadi anaknya?" tanya Kaivan.


"A-apa maksudmu?" Nadhea mendadak gugup.


Tanpa basa-basi, Kaivan langsung menggenggam kedua tangan Nadhea, tak peduli meski banyak orang lain yang berlalu lalang di sekitar. Lantas, dia menatap wajah Nadhea dengan lekat. Kali ini, dia akan menyatakan perasaannya. Pikir Kaivan, untuk apa menunggu lama, toh restu orang tua sudah dikantongi.


"Bukan tanpa alasan aku berlama-lama di sini, melainkan karena kamu. Aku punya perasaan lain, yang lebih dari sekedar teman. Nadhea, aku____"


Sebelum Kaivan meneruskan kalimatnya, Nadhea terlebih dahulu memangkas jarak hingga tubuh keduanya hampir bersentuhan. Lalu, Nadhea mengarahkan bibirnya tepat di telinga Kaivan. Kemudian, membisikkan sesuatu di sana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2