
Kaivan perlahan bangkit ketika mendengar namanya dipanggil, Prawira yang datang. Pria paruh baya itu masuk dan menyapa Kaivan dengan ramah.
"Bagaimana perjalananmu, Kai, lancar?" tanya Prawira.
"Lancar, Om." Kaivan tersenyum. "Bagaimana kabar Om, kata Papa abis sakit?" sambungnya.
"Iya, kemarin sempat sakit, tapi sekarang sudah membaik. Kaivan, terima kasih ya, kamu bersedia datang." Prawira menatap Kaivan dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kita bukan orang lain, Om, mana mungkin saya tidak datang. Mmm, tapi ... maaf ya, Om, Papa ke sininya telat. Besok ada saudara jauh yang mau datang. Kasih kabarnya mendadak jadi Papa tidak bisa menolak, kasihan kalau nanti tidak ketemu sudah jauh-jauh datang. Mana Reyvan lagi di luar kota, Reya juga di rumah mertuanya. Kennan dan orang tuanya lagi sakit, jadi Reya tidak bisa meninggalkan mereka," ujar Kaivan, menerangkan kebohongan dengan panjang lebar.
Prawira mengangguk sambil terkekeh-kekeh. Namun, Kaivan tak mempermasalahkan hal itu. Baginya, kebohongan itu sudah sempurna, tidak mungkin dicurigai.
"Dhea sangat senang waktu tahu kamu akan datang, bahkan ... sejak pagi dia bangun, belanja dan kemudian masak-masak. Sekarang, dia lagi menyiapkannya, nanti kita makan bareng ya," ucap Prawira.
"Iya, Om." Kaivan menunduk menyembunyikan girangnya.
"Nak Kaivan, kamu ... jangan salah paham ya sama Dhea," kata Prawira beberapa saat kemudian.
"Mmm, maksudnya, Om?" Kaivan menatap lekat.
Prawira mengembuskan napas kasar, "Kamu sudah tahu, kan, kalau Arsen meninggal?"
"Iya, Om. Waktu itu Nadhea yang kasih kabar. Tapi, saya tidak tahu kenapa tiba-tiba meninggal. Nadhea ... enggan cerita," jawab Kaivan. Dia berkata demikian agar Prawira menjawab rasa penasarannya.
Prawira tersenyum sembari menepuk bahu Kaivan, "Tidak semua aib bisa diceritakan kepada orang lain. Sampai meninggal, Arsen masih menjadi suami Dhea, tentu saja Dhea menjaga aibnya. Kecuali ... kalau kamu bukan lagi orang lain, mungkin Dhea bisa menceritakannya dengan gamblang."
Jantung Kaivan berdetak cepat, dia melihat lampu hijau dalam sorot mata Prawira.
"Saya___"
"Papa, Bang Kai, makan dulu yuk!"
Ucapan Kaivan terhenti karena tiba-tiba Nadhea muncul di depan kamar. Mau tidak mau, Kaivan beranjak dan mengikuti langkah sang tuan rumah.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka tiba di ruang makan. Kaivan duduk di kursi yang berhadapan dengan Nadhea. Tanpa sadar, bibirnya mengulum senyum. Melihat tangan Nadhea yang begitu luwes mengambilkan makanan untuk dirinya dan juga Prawira, mendadak pikirannya menerawang ke dunia khayal.
"Andai aku nikah sama dia, suasana kayak gini pasti bisa terjadi setiap hari. Ah, aku beneran yakin sekarang, aku benar-benar mencintainya. Aku harus dengerin Kennan, nggak peduli dia masih mencintai Arsen atau tidak, yang penting aku harus berjuang. Aku harus menyatakan perasan ini," batin Kaivan dengan tatapan yang hanya tertuju pada Nadhea.
"Aku harus optimis. Sainganku, kan, udah meninggal, harusnya peluang menang lebih besar. Untuk saingan yang lain ... ah, aku tampan kok, pasti bisa dipertimbangkan. Apalagi, Om Wira tadi kayak ngasih lampu hijau. Harusnya, nggak mempermasalahkan sikapku yang pernah meninggalkan Luna, kan?" Kaivan terus membatin, sampai tak sadar bahwa Nadhea dan Prawira sudah memulai suapan.
"Bang, kamu nggak makan?" tegur Nadhea untuk kesekian kalinya.
Prawira hanya menggeleng sambil terkekeh-kekeh. Rupanya, apa yang diucapkan Darren semalam memang benar adanya.
"Bang!" panggil Nadhea.
"Eh, emm, iya, sorry." Kaivan salah tingkah dan dengan segera mengambil sendok, lantas menyuap makanannya.
"Enak, nggak?" tanya Nadhea.
"Sangat enak," sahut Kaivan yang kemudian ditanggapi dengan tawa oleh Nadhea.
"Begitu ya? Oke deh, kalau gitu nanti aku ngelamar jadi koki di restoran kamu."
"Jangan koki, ngelamar jadi nyonya aja. Aku Terima dengan lapang dada." Kaivan beralih menatap Prawira, "Direstui, kan, Om?" sambungnya.
Sebelum Prawira menjawab, Nadhea sudah tersedak. Dia batuk-batuk dan kemudian berpaling sambil meneguk segelas air.
"Kalau___"
"Pa, sayurnya aku tambahin ya. Kata dokter kemarin, harus banyak-banyak makan sayur." Nadhea memungkas ucapan ayahnya.
Kaivan dan Prawira paham. Lantas mereka mengubah topik pembicaraan.
Usai makan, Kaivan membantu Nadhea membereskan meja makan. Sebenarnya, Nadhea sudah melarang, tetapi Kaivan bersikeras melakukannya. Bahkan, saat Nadhea mencuci piring pun, Kaivan yang membilas.
"Aku di sini sekitar semingguan boleh, nggak?" tanya Kaivan.
__ADS_1
"Boleh aja. Tapi ... apa kamu nggak kerja?" Nadhea balik bertanya.
"Enggak. Job sedikit sepi, jadi aku dikasih cuti seminggu," jawab Kaivan.
"Oh." Mengangguk pelan.
"Besok acaranya jam berapa?"
"Jam sembilan. Nanti malam, aku dan yang lain akan siap-siap. Nggak apa-apa, kan, kalau kutinggal sibuk?" Nadhea menatap Kaivan sekilas.
Kaivan mengangguk, "Mmm, galeri ini bukanya sampai jam berapa?"
"Untuk besok, mungkin sampai larut. Tapi, kalau hari-hari selanjutnya jam sembilan udah tutup." Nadhea menjawab sambil tersenyum.
"Oh. Mmm, kalau wisata pantai gitu, buka sampai malem nggak?" Kaivan kembali bertanya.
"Ada yang buka ada yang enggak. Kenapa?"
"Aku ke sini mau sambil travelling. Nggak mungkin, kan, aku pergi sendiri." Kaivan menggaruk kepala yang tidak gatal. Merasa payah dengan dirinya sendiri yang berbelit-belit.
Nadhea tertawa, "Ya udah, kalau gitu travelling-nya siang aja."
"Tapi___"
"Aku jaga galeri ini nggak sendiri, nanti ada teman yang bantu dan untuk sementara ada Papa juga. Jadi, nggak apa-apa meski perginya siang," potong Nadhea.
Kaivan tersenyum sambil bernapas lega. Sejauh ini, semuanya berjalan lancar. Dia harap, hasil akhir pun juga sesuai dengan ekspetasi.
Ketika masih asyik berbincang, tiba-tiba ponsel Kaivan bergetar, ternyata ada satu pesan masuk. Tanpa curiga, Kaivan membukanya. Namun, alangkah terkejutnya dia saat membaca baris demi baris tulisan yang tertera di layar ponselnya.
"Kenapa?" tanya Nadhea. Dia heran melihat Kaivan yang tiba-tiba memelotot tajam.
Bersambung...
__ADS_1