Noda

Noda
Penyesalan Arsen


__ADS_3

"Nadhea!" panggil Arsen.


"Hmm."


"Pernahkah kamu berpikir tentang rasa, yang mungkin saja hadir dalam pernikahan kita?" tanya Arsen dengan ragu.


Nadhea terkejut, "Maksudmu?"


Arsen tidak menjawab dan sekadar menatap Nadhea dengan lekat. Dalam beberapa detik Nadhea juga diam. Dia berusaha memahami makna yang tersirat dalam sorot mata Arsen—ada setitik arti yang sulit dipercaya.


"Lupakan! Kamu mencintai Kaivan!" ujar Arsen dengan tiba-tiba.


"Jangan___"


"Tidak usah berkilah, aku tahu kamu mencintai Kaivan sejak lama!" pungkas Arsen dengan intonasi tinggi.


Nadhea menggigit bibir, "Sekedar kagum, itu pun terjadi karena seseorang tidak menghendaki perasaanku untuknya."


"Apa maksudmu?"


"Kalau kamu ingin tahu, aku pernah hampir mencintaimu. Tapi, perasaan itu kutekan jauh karena aku sadar di hatimu hanya ada Liora. Sedangkan aku sangat tidak sebanding dengannya. Dan berulang kali kamu malah menyuruhku jatuh cinta pada orang lain. Jadi, aku tidak punya pilihan lain, selain melupakan perasaan. Tapi, aku juga menghargai pernikahan kita walau sekedar dilandasi kesepakatan. Aku tidak pernah mendekati lelaki lain, apalagi menjalin hubungan dengan mereka. Bahkan, saat bertemu Kaivan, aku hanya mengaguminya dalam diam." Nadhea menjeda kalimatnya.


"Mas, andai aku mau, saat itu aku bisa meminta bantuanmu, mencari tahu identitas Kaivan dan kemudian menemuinya. Tapi, itu tidak kulakukan karena aku menghargai kamu. Aku sekedar bilang kalau bertemu lelaki yang sangat menyayangi adiknya. Aku nggak melakukan usaha apa pun untuk Kaivan. Bahkan, saat dia menjadi calon suaminya Luna, aku juga diam. Aku tidak menampakkan diri di hadapannya. Sampai akhirnya, malam itu kita tidak sengaja bertemu dengannya," sambung Nadhea masih dengan kalimat panjang.


"Mas Arsen, andai kamu memperlakukanku dengan cara yang baik, aku tidak keberatan melahirkan anakmu, walau di hatimu masih ada Liora. Andaikata ada kesempatan memiliki Kaivan, aku tidak akan memilih dia jika kamu menginginkanku bertahan. Aku tidak keberatan membina rumah tangga yang sebenarnya denganmu, Mas. Tapi, sejak malam itu kamu berubah. Sedikit demi sedikit, perlakuanmu membuatku ingin pergi dan lepas dari hidupmu." Mata Nadhea berkaca-kaca. Dia ingat benar betapa sakitnya saat menyadari kenyataan bahwa orang yang dianggap malaikat penolong berubah menjadi iblis kejam.


"Dhea, apakah yang kamu katakan itu benar?" tanya Arsen.

__ADS_1


"Sikapku selama ini, seharusnya sudah cukup dijadikan jawaban, Mas," jawab Nadhea.


Arsen terpaku. Kepingan-kepingan rasa telah menampakkan wujudnya. Namun, hati Arsen mendadak sakit karenanya.


Mengingat kilas balik masa lalu, rupanya dia telah salah menafsirkan hati. Sesungguhnya, bukan Liora yang mempengaruhi emosi, melainkan istrinya—Nadhea.


Dia memaksa meniduri Nadhea, bukan karena marah dan ingin membalas pengkhianatan Liora, melainkan cemburu dan ingin memiliki Nadhea seutuhnya. Untuk pertama kalinya melihat rupa Kaivan (ketika di rumah Prawira), Arsen merasa pesimis. Lelaki itu lebih tampan darinya, Arsen takut jika suatu saat Nadhea pergi darinya demi Kaivan. Dia bersikeras mempertahankan Nadhea bukan karena Liora, melainkan karena dirinya menginginkan wanita itu di sampingnya dan melahirkan anaknya.


Namun, sungguh sayang Arsen tak menyadari hal itu. Dia terjebak dalam kisah lalu sampai tak memahami perasaan yang sudah berbelok arah. Dia terlalu angkuh mengakui rasa cemburu, sampai akhirnya meredam dengan cara yang salah.


Ketika bertemu lagi di Kota Bandung, cemburu Arsen makin berapi-api. Melihat Nadhea tersenyum pada Kaivan, emosi tak bisa lagi dikendalikan. Dia gelap mata dan bersikap brutal. Maksud hati mengekang Nadhea tetap di sisi, tetapi tanpa sadar justru sikap itu yang mendorongnya pergi.


Sekarang, ketika bertatapan dan beradu pandang, Arsen merasa hampa. Dia telah kehilangan sesuatu yang amat berharga. Perlahan dia mulai sadar bahwa hatinya sudah berlabuh pada Nadhea. Entah kapan dimulainya, yang jelas jauh lebih awal dari yang dibayangkan.


"Aku benar-benar bodoh, tak bisa memahami perasaanku sendiri. Aku terlalu egois, sampai-sampai buta dan tak bisa melihat perasaan yang disimpan Dhea. Kenapa aku sangat terlambat menyadarinya?" batin Arsen penuh penyesalan.


"Maafkan aku." Arsen menunduk.


"Aku sudah memaafkanmu, bahkan tanpa kamu memintanya," jawab Nadhea.


"Sungguh mulia hatinya. Dhea, kamu berhak bahagia," batin Arsen.


"Mas, kamu mau, kan, menandatangani surat perceraian kita?" Nadhea kembali membicarakan topik awal.


Arsen terdiam cukup lama, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.


"Mas!"

__ADS_1


"Bolehkah aku menundanya?" tanya Arsen.


Nadhea mengernyit, "Kenapa?"


"Dhea, aku sangat menyesal. Entah kamu percaya atau tidak, tapi ... ah, bisakah seminggu saja kamu bertahan jadi istriku?" pinta Arsen.


"Untuk apa?"


Arsen menggenggam tangan Nadhea, "Aku mohon, seminggu saja. Aku masih di sini, Dhea, jadi kamu nggak perlu takut aku akan macam-macam. Aku janji, setelah seminggu tidak akan mengusikmu. Kamu bebas mengejar impian dan juga masa depan."


"Baiklah!" Nadhea mengangguk. "Minggu depan aku datang lagi, kuharap kamu tidak mengingkari janji," sambungnya.


"Terima kasih."


Tak lama kemudian, Nadhea pamit undur diri. Arsen memeluknya sekilas sebelum wanita itu benar-benar pergi. Ketika Nadhea sudah mulai melangkah, Arsen menatap punggungnya dengan lekat.


"Walau dengan cara yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan, tapi aku pastikan janji itu kutepati," batin Arsen sambil tersenyum.


Bersambung....


Kalau ada yang bingung, kok tiba-tiba Arsen cinta sama Nadhea? Ya, sebenarnya dia memang cinta cuma nggak sadar.


Kalau cinta, kok bisa kemarin sikapnya parah banget?


Tunggu episode selanjutnya yah, nanti ada penjelasan kenapa dia sangat temperamental.


Btw, ada yang mau nebak, Kira-kira Arsen mau ngapain. Kok, minta waktu seminggu segala.

__ADS_1


__ADS_2