
Terima kasih untuk kakak semua, masih berkenan menunggu dan membaca ceritaku. Maaf, beribu maaf, baru muncul lagi sekarang. Kemarin ada problem yang sedikit anu, jadi di sini dan di akun sosmed sempat hiatus. Yang kemarin sempat hubungi dan aku-nya sangat selow respon, maaf banget. Juga untuk Kakak semua yang udah komen di sini dan belum kubales, maaf yang sebesar-besarnya. Sejak up beberapa hari lalu, baru hari ini buka aplikasi lagi.
ššššššš
š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·
Kak Darren membimbingku kembali ke ranjang. Lantas, kami duduk berhadapan dan Kak Darren menggenggam jemariku dengan erat.
"Angel adalah istrinya Fahri. Hubungan kami tak lebih dari rekan kerja, semua ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Sayang," terang Kak Darren yang lantas membuatku mengernyit.
Sebelum dia kembali membuka suara, aku kembali mengingat-ingat siapa Fahri, namanya seperti tidak asing di telingaku.
"Fahri adalah tangan kanannya Papa dan sekarang kami sedang bekerja sama untuk bisnis pribadi. Papa dan Mama juga tidak tahu soal ini," sambung Kak Darren.
Aku mengangguk pelan, mulai ingat dengan nama Fahri yang dulu sering disebutkan oleh Mama Renata. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal. Bisnis apa gerangan, mengapa sampai melibatkan istrinya Fahri?
Dengan tidak sabar aku menanyakan hal itu dan Kak Darren pun bergegas menjelaskan. Aku mendengarkannya dengan seksama.
"Angel adalah arsitek dan saat ini sedang bekerja di Surabaya. Rekan dekatnya adalah arsitek besar yang sering mendesain di Ibu Kota. Aku dan Fahri meminta dia untuk membantu bisnis ini. Sayang, sebenarnya ... aku dan Fahri sedang membangun hunian di Kota Batu." Ucapan Kak Darren membuatku membelalak seketika.
__ADS_1
"Hu-hunian?"
"Iya." Kak Darren mengangguk. "Dua bulan lalu ada tanah kosong yang dijual dengan harga murah. Aku dan Fahri membelinya, lantas berencana membangun hunian di sana. Bisnis properti semacam itu membutuhkan banyak dana dan investasi yang masuk sama sekali belum cukup. Aku dan Fahri mencari pinjaman di Bank untuk menutupi kekurangan. Bukan niatku menyembunyikannya darimu, Sayang, melainkan ... belum saatnya aku bicara," sambungnya.
"Kak, itu sangat beresiko. Kenapa___"
"Itu sebabnya aku belum ngomong sama kamu, Sayang. Aku tidak ingin kamu kepikiran, apalagi ... jika nanti gagal. Cukup aku yang menanggung bebannya." Kak Darren memungkas ucapanku sambil menunduk. "Prioritasku membuatmu bahagia dan bisa memberikan apa pun yang kamu inginkan. Harapanku, taraf hidup kita meningkat, jadi aku nekad mengambil bisnis ini karena menurut perincian keuntungannya sangat besar. Namun, dalam bisnis apa pun bisa terjadi. Kendati kecil kemungkinan, tetapi bisa saja gagal dan menimbulkan banyak kerugian. Andai itu terjadi, cukup aku yang menanggung, kamu jangan," sambungnya.
Aku hendak menyahut, tetapi Kak Darren kembali bicara.
"Saat ini, proyeknya sudah berjalan. Aku dan Fahri disibukkan dengan urusan itu. Entah memeriksa material dan pembangunan atau menyusun promosi terbaik untuk memasarkan huniannya. Itu sebabnya, aku selalu sibuk dan sering pulang-pergi pada malam hari, juga menerima telepon walau sudah larut. Besok pun kami ada jadwal ke sana, kalau kamu mau, aku akan mengajakmu ke sana. Soal Angel, waktu itu menelepon hanya untuk bertanya tentang hal ini, Sayang, bukan yang lain," terang Kak Darren.
"Kamu aneh, Kak. Aku ini istrimu, kenapa hal sebesar ini harus disembunyikan? Aku jadi berprasangka buruk sama Kakak, aku___"
"Kakak kira dengan menyembunyikan seperti ini aku tidak kepikiran? Siang dan malam aku berprasangka buruk, Kak, terlebih lagi setelah ada telepon dari Angel. Setiap saat aku menahan sakit, Kak!" Kutinggikan intonasi agar Kak Darren tahu bahwa aku tidak suka dengan prinsipnya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak menyangka kalau semuanya akan begini." Kak Darren berucap sambil memeluk erat. "Aku melakukan ini karena amat mencintaimu, Sayang. Maaf, jika ternyata aku bodoh dan justru membuatmu sakit," sambungnya dengan lembut.
"Sudahlah, jangan terus-menerus meminta maaf. Kita perbaiki saja apa yang belum terjadi, lain kali jangan menyembunyikan apa pun dariku, Kak," ujarku beberapa saat kemudian, setelah Kak Darren tak henti-hentinya mengucap kata maaf.
__ADS_1
"Kamu ... tidak marah lagi 'kan, Sayang?" Kak Darren bertanya sambil melepaskan pelukan.
"Tidak." Aku menggeleng, "tapi Kakak harus janji, jangan menyembunyikan apa pun lagi!" sambungku.
"Tidak, Sayang. Mulai sekarang ... semuanya akan kuceritakan sama kamu. Mmm, tapi kamu juga harus janji, tetap tenang, santai, dan jangan memikirkan apa pun. Cukup aku yang memikirkan bisnis ini."
"Mungkin sedikit memikirkan, tapi tidak kujadikannya beban. Kak Darren, aku percaya sama kamu. Sebesar apa pun resiko dari bisnis yang Kakak ambil, aku yakin sedikit pun tidak akan terjadi. Kak Darren berani memilih jalan ini, pasti sudah menyimpan solusi untuk semua kendala. Aku yakin Kak Darren pasti bisa," jawabku.
"Terima kasih, Sayang. Aku akan berusaha sebaik mungkin ... demi kamu." Kak Darren tersenyum lebar.
"Selain berusaha, jangan lupa juga berdoa. Serahkan semuanya kepada Allah, entah tentang bisnis atau masalah kesehatan yang sedang Kakak alami. Aku mencintaimu, Kak. Selama hati ini tidak berubah, aku akan tetap berdiri sebagai istrimu, apa pun keadaannya." Kusentuh dada Kak Darren dengan lembut.
"Aku juga mencintaimu, Sayang. Dari dulu, sampai saat ini, dan juga sampai nanti, hanya nama kamu yang ada di sini."
Aku tersipu malu kala hangat tangan Kak Darren menggenggam jemariku yang masih menempel di dadanya. Manis dan romantis, benar-benar awal pagi yang indah. Tidak ada curiga, prasangka, atau amarah. Segalanya terasa tenang dan tenteram.
"Sudah lama aku tidak merasakan cinta yang sedamai ini. Alhamdulillah, prasangkaku bisa berakhir indah. Terima kasih, Ya Allah," batinku.
Lantas, aku menghambur ke pelukan Kak Darren. Menyandarkan kepala dengan manja dan mencari kenyamanan di dadanya. Tak lama kemudian, aku memejam, menikmati sentuhan Kak Darren yang merayap mesra di pipiku.
__ADS_1
"Sayang, sekarang jelaskan padaku, kenakalan apa yang sudah kamu lakukan semalam?"
Bersambung.....