Noda

Noda
Detik-detik Ijab Kabul


__ADS_3

Mayra, sahabat setia yang selama ini selalu ada. Bagiku, ia adalah sahabat terbaik yang tiada duanya. Kini, aku mendengar kabar bahwa dirinya tertangkap. Oh Tuhan, mengapa ada peristiwa seburuk ini menjelang hari bahagiaku.


"Kirana!" seru Reza, yang lantas membuatku tersadar dari lamunan.


"Aku, aku___" Aku gagal melanjutkan kalimat, karena air mata tiba-tiba tumpah tanpa permisi.


"Jangan terlalu khawatir, ada aku yang bersamanya. Percayalah, dia pasti baik-baik saja," sahut Reza.


"Mayra itu sahabat terbaikku, Za. Aku tidak tega jika dia ditangkap, dia terpaksa melakukan itu." Kuusap air mata dengan ujung selimut.


"Aku tahu. Bantu doa ya, semoga kasus ini dapat diselesaikan dengan baik, tanpa memberatkan Mayra," kata Reza.


"Itu pasti, Za. Tapi, sekarang dan nanti aku belum bisa datang ke sana. Tolong sampaikan maafku padanya, dan ... tolong jaga dia," ucapku dengan air mata yang terus menitik.


"Iya," jawab Reza, pelan dan singkat.


Kemudian, hening untuk beberapa saat. Aku dan Reza sama-sama diam. Aku kembali larut dalam lamunan, sedangkan Reza, entah apa yang ia lakukan di seberang sana.


"Kirana," panggil Reza di menit ketiga.


"Iya." Aku menjawab sambil beranjak dari tempat tidur.


"Selamat ya, aku ikut bahagia dengan pernikahanmu. Maaf, aku tidak bisa datang, tapi ... doaku selalu menyertaimu. Semoga kamu bahagia, Kirana."


Ucapan Reza pelan dan tertahan. Dari sana aku bisa menebak bahwa hatinya sedikit terkoyak. Aku menghela napas panjang dan memanjatkan doa dalam hati. Semoga Reza lekas membuka hati untuk cinta yang lain, karena aku pun ingin dia bahagia.


"Terima kasih. Aku pula berharap hal yang sama. Semoga kamu bahagia dan mendapatkan cinta yang lebih indah," ucapku.


"Aku akan berusaha," sahut Reza. Sebuah jawaban yang membuatku mengulum senyum.


Tak lama kemudian, Reza mengakhiri perbincangan. Namun, aku tak lantas memejamkan mata, justru duduk bersandar di dekat jendela kamar.


Dengan pelan, kusingkap tirainya dan kutatap langit malam yang berbintang. Aku teringat dengan sepenggal waktu, saat Mayra membantuku pergi dari rumah. Saat itu pula aku mulai tahu, tentang kesulitannya dan tentang pekerjaan terlarangnya.


"Ya Allah, berikanlah kemudahan untuk Mayra. Tegarkanlah hatinya dan kuatkanlah pendiriannya. Hamba berharap dia baik-baik saja," bisikku pada embusan angin lalu.

__ADS_1


Detik berikutnya, kunyalakan kembali ponselku dan kuhubungi Kak Darren. Namun, hingga lima kali panggilan ia tak memberi jawaban. Mungkin sedang tidur. Lantas, aku mengetik pesan untuknya.


[Reza baru saja menelfonku, katanya Mayra tertangkap dan sekarang di kantor polisi. Kak, nanti kita kunjungi dia, ya. Aku khawatir]


Kututup kembali tirai kamar, seusai mengirimkan pesan. Lantas aku menuju ranjang dan berbaring di samping Dara. Kutatap wajah imutnya yang terlelap dalam lena. Sangat damai.


"Maafkan Bunda yang tidak bisa membawa ayah kandungmu dalam hidup kita. Tapi, besok ada ayah lain yang akan hadir, Nak. Dia lelaki luar biasa yang akan menyayangi dan menjaga kita. Semoga kehadirannya membawa kebahagiaan untukmu, Dara." Kupeluk tubuh mungilnya dan kucium keningnya cukup lama.


Dengan tetap mendekap Dara, aku mulai memejamkan mata. Berusaha menjelajah alam lena sembari mengistirahatkan raga.


_________


Aroma melati menguar di sekitar, berbaur dengan wangi mekap yang diaplikasikan di wajahku. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Itu artinya, ijab kabulku tinggal setengah jam lagi.


Kebaya putih dan jarik cokelat terang sudah melekat di tubuhku. Sekarang, MUA tinggal merias wajah dan memakaian kerudung. Aku tak banyak bicara, hanya diam sembari memikirkan nasib Mayra. Bagaimana masa depannya kelak? Aku masih tak rela jika ia dipenjara. Aku tahu ia kesulitan dan dipaksa keadaan. Namun sekarang, apa yang bisa kulakukan?


"Mbak Kirana, silakan bercermin. Jika ada yang kurang pas, biar saya perbaiki."


Ucapan MUA membuyarkan renungan dan memaksaku beralih menatapnya. Lalu aku beranjak dan menatap bayangan di dalam cermin. Aku terpukau seketika, rasanya tak percaya jika itu adalah diriku.


Dalan balutan kebaya putih yang berhiaskan manik-manik, postur tubuhku terlihat lebih sempurna. Ditambah polesan wajah yang bak boneka barbie, juga kerudung panjang yang menjuntai hingga menyentuh kaki. Aku menjelma gadis elok yang amat memesona.


"Bagaimana, Mbak?" tanyanya.


"Sempurna," gumamku dengan pelan.


"Syukurlah kalau begitu. Sekarang, tinggal sentuhan terakhirnya." MUA memasangkan mahkota dan hiasan melati di atas kepalaku.


Aku makin terpukau, rasanya hari ini menjadi seorang ratu yang amat-sangat istimewa. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur atas anugerah yang telah Tuhan berikan.


"Kirana! Sudah apa belum?" tanya Bu Fatimah dari luar ruangan.


"Sudah, Bunda," sahutku.


"Kalau begitu ayo keluar, Darren dan keluarganya sudah datang."

__ADS_1


"Iya, Bunda." Aku menjawab sambil mengambil high hells di rak, di sudut ruangan.


Kemudian, aku dan MUA keluar kamar. Sebelum menutup pintu, kutatap bunga melati dan kelopak mawar yang menghiasi kamar. Tanpa dipinta, pipiku mulai merona. Sebentar lagi aku dan Kak Darren sah menjadi suami-istri, dan kami akan tidur dalam satu ranjang. Ahh, ada perasaan haru dan malu yang menyeruak begitu saja.


Tiba di luar kamar, aku langsung disambut oleh Ibu dan Bu Fatimah. Mereka memelukku dengan erat sembari memberi ucapan selamat. Aku makin terharu dibuatnya. Setelah itu, kami melangkah bersama menuju ruang tengah. Di sana sudah ada Kak Darren dan sekeluarga, mereka berbincang dengan Mas Bayu dan Mas Denis.


Dari sekian banyak orang yang hadir, tatapanku hanya tertuju pada satu sosok yang menyandang status calon suami. Dalam balutan kemeja putih dan jas hitam, juga songkok yang menghiasi kepala, ia tampak rupawan dan berwibawa. Benar-benar anugerah bisa berdiri di sampingnya.


"Cantik," gumam Kak Darren setelah aku tiba di hadapannya.


"Terima kasih." Aku menjawab sambil menunduk. Beradu pandang dalam waktu yang lama, menghadirkan rasa malu yang tidak terkira.


"Benar-benar cantik. Bersyukur sekali Darren bisa menikah denganmu, Nak," kata Mama Renata yang lantas membuatku makin menunduk.


"Aku yang lebih beruntung, Ma," gumamku dengan pelan.


"Apa itu pengakuan bahwa aku istimewa?" tanya Kak Darren.


Aku melirik Kak Darren yang dengan mudahnya melontarkan godaan itu. Ia tak merasa bersalah, justru tersenyum sembari menaikkan kedua alis. Aku tak menjawab, tetapi dalam hati menggerutu dan merutuki candaannya yang sangat tidak lucu.


Di saat kami asyik berbincang, tiba-tiba ada tamu yang datang. Seorang lelaki berperawakan tinggi yang dulu pernah menempati ruang hati, Rafael Daniel Vernandez.


"Selamat siang, saya sengaja datang lebih awal untuk menyaksikan ijab kabulnya," kata Daniel.


Kendati yang disapa adalah keluarganya Kak Darren, tetapi pandangan matanya tertuju ke arahku. Entah sedih entah bahagia, aku sama sekali tak bisa menebak perasaannya.


"Kirana."


Aku terkesiap kala Daniel menyebut namaku dan melangkah ke arahku. Apa yang akan ia lakukan?


Bersambung...


Kakak-kakak semua, maaf ya, up novel ini semakin lama. Saat ini aku sedang menggarap satu naskah yang akan naik cetak, jadi lanjutan novel ini sedikit terbengkalai. Tapi ... itu tidak lama kok, naskahnya akan kelar minggu depan. Jadi, setelah itu aku bisa up normal lagi seperti dulu. Semoga masih setia menunggu ya. Sekali lagi maaf dan terima kasih yang sebanyak-banyaknya (untuk dukungannya)


Oh ya, novel yang akan naik cetak, aku up juga di aplikasi ini. Jika Kakak-kakak ada yang berkenan, boleh cek profilku. Novel baru dengan judul ELEGI CINTA AYNARA.

__ADS_1


Kisah cinta terlarang antara Aynara Faradella dan Andra Dirgantara.



__ADS_2