Noda

Noda
Berpisah


__ADS_3

Nadhea beranjak dan berdiri di hadapan Kaivan. Lantas, merentangkan tangan dan membiarkan angin menerpa. Poninya yang sedikit memanjang, juga anak rambut yang terlepas dari ikatan, tampak berantakan karena permainan angin. Namun, Nadhea tak peduli. Dia justru memejam dan seakan-akan menikmati buaian alam.


"Di dunia ini, hanya Tuhan yang Maha Penyayang. Dia selalu melindungi dan tidak pernah lelah mendengarkan keluh kesah. Hanya Dia yang tidak meninggalkan meski kita banyak kekurangan. Bahkan, Dia menciptakan alam dengan begitu indah dan luas, untuk kita berdiam diri bilamana dunia menghakimi. Kebebasan, ketenangan, ketenteraman, kedamaian, bisa kita dapatkan ketika menyatu dengan alam. Bang Kai, cinta dan kasih yang ada di dunia, tidak ada yang sebanding dengan cinta kasih-Nya. Jadi, jika pada suatu detik Dia berkata 'kembali', apa yang patut disesali? Apakah menurutmu rugi, meninggalkan sesuatu yang semu demi sesuatu yang nyata?" ucap Nadhea dengan panjang lebar.


Kaivan turut beranjak dan menilik Nadhea dari belakang. Perkataannya barusan sangat bertolak belakang dengan perkataan beberapa menit lalu. Kini, dia seperti orang bijak yang sudah paham benar dengan lika-liku hidup. Terlalu larut dalam rangkaian kalimatnya, Kaivan sampai tak mempermasalahkan panggilan 'Bang Kai' yang lagi-lagi disebutkan olah Nadhea.


Sebenarnya, siapa Nadhea? Seseorang yang pura-pura tegar di balik jiwa yang rapuh? Atau seseorang yang sekadar senang mencari simpati? Atau justru seseorang yang memiliki kepribadian ganda?


Entahlah!


"Kenapa sikapmu berubah-ubah? Apa ada yang tidak benar dengan hidupmu?" tanya Kaivan tanpa basa-basi.


Cukup lama Nadhea terdiam, tak bicara dan hanya mengulum senyum tipis. Lantas, dengan perlahan menurunkan tangannya dan menoleh ke arah Kaivan. Dia melangkah maju dan memangkas jarak di antara keduanya.


"Gue adalah seseorang yang jatuh cinta sama lo. Gue serius dengan perasaan ini dan gue berharap lo punya perasaan yang sama," kata Nadhea.


Kaivan membuang pandangan, tak habis pikir dengan Nadhea. Beberapa detik lalu menjadi orang bijak dan sekarang kembali menjadi gadis aneh. Ah, mungkin memang itu sifat yang sebenarnya—bergeser dari batas wajar.


"Kita baru ketemu dan kamu bilang cinta? Konyol," remeh Kaivan.


"Apa masalahnya? Bagiku, alasan dari cinta hanyalah rupa. Sejak melihatmu di pesawat, aku sudah kagum dengan wajah tampanmu. Jadi, apalagi yang perlu dipertimbangkan?"


Nadhea menatap Kaivan tanpa kedip dan yang ditatap langsung salah tingkah. Selain diterpa angin, wajah Nadhea juga diterpa cahaya matahari yang mulai meredup, sangat manis dan sedap dipandang. Apakah mungkin Nadhea sengaja berpose demikian untuk menegaskan bahwa dirinya pun good looking?


Entahlah! Lagi-lagi Kaivan hanya bisa menggeleng.


"Cinta bukan sekedar rupa, tapi juga ha___"


"Harta? Hati?" Nadhea terkekeh-kekeh. "Harta bisa dicari, Bang Kai. Toh, harta juga tidak menjamin kebahagiaan, yahh walaupun kuakui tanpa harta hidup itu sulit. Tapi, bagiku itu masih nomor dua. Kalau hati, menurutku itu malah nomor akhir. Semua orang yang mencari cinta pasti berusaha menjadi body perfect. Mereka akan menutupi sifat buruk dan menonjolkan sifat baik. Lantas, pada saatnya sifat asli akan keluar. Makanya, lebih baik milih cinta itu dari rupa karena hanya rupa yang nggak bisa bohong. Kalau aslinya gigi mancung ya kelihatan mancung, mata lebar sebelah juga kelihatan lebar sebelah. Begitu pun dengan warna kulit, mau hitam, putih, cokelat, merah, kuning, hijau, yang kelihatan tetep warna asli, nggak bisa diakalin," sambungnya.


"Terus kamu pikir tampan itu bisa membuat bahagia?" Kaivan kembali kesal.


"Jelas dong. Ujung-ujungnya cinta kan nikah terus anu. Kalau tampangnya nggak pas di mata, nggak mungkin bisa melewati malam pertama dengan manis dan romantis. Akhirnya pernikahan hambar dan tanpa warna, terus masalah sepele jadi gede. Karena sering bertengkar, ujung-ujungnya KDRT, poligami, poliandri, dan ... cerai. Beda cerita kalau masing-masing pasangan pas di mata. Tiap hari na*su, tiap hari anu, pernikahan jadi berwarna. Makin harmonis, makin romantis, masalah gede pun jadi sepele. Nggak ada pertengkaran karena semua ditawar dengan keringat. Akhirnya hamil dan beranak pinak, bahagia deh sampai tua," jawab Nadhea dengan antusias.


"Emang kamu pikir nikah itu cuma tentang itu? Asal kamu tahu___"


"Mungkin memang enggak, tapi jangan munafik itu adalah poin penting. Ayo berpikir yang realistis, Bang Kai! Lo sanggup nikah tanpa itu?" pungkas Nadhea.

__ADS_1


Kaivan mengusap wajahnya dengan kasar. Andai saja yang digenggam bukan kamera, mungkin sudah mendarat di kepala Nadhea. Sayangnya itu adalah benda teristimewa, jadi dia tidak melakukannya. Sangat rugi bila kameranya mendadak eror karena bersentuhan dengan kepala tipis otak.


"Kenapa diam? Mulai tumbuh benih-benih cinta, ya?" Nadhea bicara sambil menyenggol lengan Kaivan.


Kaivan mengembuskan napas panjang, "Mungkin kamu benar, mustahil menikah tanpa itu. Tapi, bukan hanya si tampan dan si cantik yang boleh melakukan itu. Kamu barusan menyanjung Tuhan, tapi sekarang malah merendahkan makhluk ciptaan-Nya. Dosa kamu!" kata Kaivan tanpa menoleh.


"Kapan gue merendahkan makhluk ciptaan-Nya?"


"Kamu bilang pernikahan nggak akan harmonis kalau pasangannya jelek. Jadi, secara tidak langsung kamu merendahkan sebagian orang yang menurutmu jelek," jawab Kaivan.


"Emm, salah nih. Lo gagal paham, Bang Kai. Gue nggak bilang jelek loh ya, cuma nggak pas di mata. Tampan, cantik, jelek, itu relatif. Kriteria setiap orang berbeda-beda. Ada cewek putih, bersih, langsing, mancung, bibir merona, alis memesona, sangat cantik menurut sebagian orang. Tapi, dia nggak pas di mata kalau yang memandang cowok pecinta cewek bahenol dan eksotis. Dari sini paham, kan, Bang Kai?" Lagi-lagi Nadhea tersenyum lebar.


Kaivan tak menyahut, justru berbalik arah dan duduk di tempat yang sedikit jauh dari Nadhea. Namun, untuk kesekian kali gadis itu kembali mengikuti Kaivan.


"Di mata gue, ketampanan lo sangat sempurna. Itu sebabnya, gue langsung jatuh cinta," ujar Nadhea sambil mendaratkan tubuhnya di samping Kaivan.


"Pergi kamu!" bentak Kaivan. Dia sudah kehabisan kata-kata untuk menghadapi Nadhea.


"Apa rencana lo untuk pertemuan ketiga kita?" tanya Nadhea seolah tak mendengar bentakan Kaivan.


"Benarkah?" Nadhea merapatkan duduknya dan tak peduli meski Kaivan sangat enggan. "Gue Nadhea Queenaya, asal Bandung. Umur 24 tahun dan masih perawan. Kalau lo?" sambungnya.


Kaivan mengernyit, sedikit terkejut dengan pengakuan Nadhea. Ternyata gadis itu tiga tahun lebih tua darinya. Ah, sangat tidak adil. Wajahnya masih seperti remaja, bahkan menurut Kaivan, Nadhea lebih muda darinya.


"Nggak perlu tahu. Setelah ini kita nggak bertemu lagi!" jawab Kaivan masih dengan intonasi tinggi.


"Kalau misalkan nanti kita bertemu lagi, bagaimana?" tanya Nadhea.


"Tidak akan!"


"Nikahin aku, ya?" ujar Nadhea.


Kaivan berpaling, suasana hatinya benar-benar jatuh pada titik terburuk. Sampai-sampai dia kehilangan semua kata untuk bicara. Di sisi lain, alam seakan merasakan kekesalan Kaivan. Semburat sinar surya perlahan tertutup awan hitam. Embusan angin makin kencang, seiring cahaya kilat yang sesekali menoreh langit luas. Alam akan menangis.


"Karena dalam lima detik lo nggak ada jawaban, berarti iya. Dan gue menganggapnya sebagai janji," ucap Nadhea.


"Apa-apaan kamu, tidak ada seperti itu. Kamu___"

__ADS_1


Kaivan gagal melanjutkan kalimatnya karena ponsel Nadhea berdering. Lantas, gadis itu mengabaikan Kaivan dan menerima telepon yang entah dari siapa. Usai mengucapkan salam, Nadhea hanya bicara 'iya', 'iya', dan 'iya'. Kemudian, dia menyimpan kembali ponselnya dengan wajah yang murung. Sebuah ekspresi yang berhasil menyentuh hati Kaivan.


"Gue akan turun," ucap Nadhea.


"Ini hampir senja, kamu akan kemalaman." Kaivan sedikit khawatir. Pasalnya, sebentar lagi sudah senja dan cuaca sangat buruk.


"Tidak masalah."


"Sebentar lagi hujan."


"Tidak masalah." Nadhea beranjak dan merapatkan jaket yang dikenakannya.


Sekian detik menatap wajah Nadhea, Kaivan mendadak iba. Raut pilu yang terlukis jelas di sana membangkitkan perikemanusiaan dalam dirinya. Lantas, Kaivan melepaskan jaketnya dan mengulurkannya pada Nadhea.


"Ini lebih tebal, bisa melindungimu dari hawa dingin," ucapnya.


"Terima kasih." Nadhea menerimanya dan tanpa sungkan langsung memakainya.


"Hati-hati!"


Nadhea tersenyum, "Lo juga. Semoga lancar sampai puncak. See you next time, Bang Kai."


Kaivan tak menjawab, hanya menatap dalam-dalam punggung Nadhea yang makin menjauh. Di sudut hati yang paling dalam, Kaivan yakin gadis itu menyimpan beban yang tidak ringan. Terbukti dari tindakannya sekarang, dia rela berjalan di bawah gerimis yang mungkin sebentar lagi menjadi hujan lebat demi sebuah perintah yang entah dari mana.


"Bang Kai!"


Panggilan Nadhea membuyarkan renungan Kaivan.


"Setelah ini lo nginep di mana?" tanya Nadhea.


Karena Kaivan tak jua menjawab, Nadhea kembali bicara, "Bukan apa-apa, gue hanya ingin mengembalikan jaket ini. Kalaupun nanti aku sendiri yang datang, itu belum termasuk pertemuan yang ketiga."


Kaivan hendak protes perihal pertemuan yang belum lama dibahas, tetapi gagal karena gerimis makin deras. Hatinya mendadak kacau ketika melihat Nadhea tak acuh sedikit pun, seakan-akan tak ada air yang membasahi.


Sembari menyembuyikan kamera di balik baju, Kaivan menyebutkan alamat hotel tempat dia menginap. Lalu, Nadhea mengangguk pelan dan kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Kaivan yang masih diliputi banyak tanda tanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2