Noda

Noda
U-2


__ADS_3

Bu Fatimah dan Kak Darren berulang kali memanggil, tetapi aku tak acuh. Aku justru bangkit dan beranjak pergi meninggalkan mereka. Tidak! Tidak mungkin aku sakit!


Aku berlari menuju kamar sambil menenangkan pikiran yang tak karuan. Ibuku meninggal pada usia yang sangat muda, akankah aku mengikuti jejaknya?


Kumohon jangan, kendati kematian itu pasti dan bahkan dulu aku sempat mengharapkan hal itu datang lebih cepat, tetapi tidak untuk saat ini. Aku mencintai Kak Darren, menyayangi Ibu, menyayangi Bu Fatimah, dan aku juga masih bermimpi untuk memliki buah hati. Akankah semua itu kandas dan tinggal angan belaka? Akankah dalam waktu singkat namaku tertera di batu nisan.


"Tidak! Tidak! Aku sehat dan tidak sakit, aku pasti bisa menua bersama Kak Darren." Aku berteriak di sela-sela tangis yang mulai tumpah.


Mungkin ini dosa, menolak kematian karena rasa cinta yang teramat besar untuk dunia. Namun, itulah kenyataannya dan aku tak bisa menahan diri. Aku yakin Tuhan paham benar dengan apa yang kurasa. Perlahan tapi pasti, tubuhku melemas dan akhirnya terjatuh di lantai, menyatu dengan dingin marmer yang seolah berbisik bahwa aku memang tidak sehat.


"Ya Allah, jika takdir-Mu tak mengizinkanku menua, setidaknya ... beri hamba kesempatan untuk melahirkan titipan-Mu," batinku dengan perasaan perih.


"Sayang, kamu kenapa? Jangan seperti ini, Bunda tidak bermaksud___"


"Aku takut, Kak." Aku menghambur ke pelukan Kak Darren tanpa memberikan sempat untuk meneruskan ucapannya.


"Semua akan baik-baik saja, percayalah! Ada aku di sini, Sayang, kamu jangan khawatir." Kak Darren menenangkan aku sambil memeluk erat.

__ADS_1


Ketika aku masih larut dalam tangis, Bu Fatimah turut menghampiri. Beliau meminta maaf atas ucapannya beberapa menit lalu. Aku pun tak menyalahkan, sekadar takut bila perpisahan itu benar-benar terjadi.


Setelah tangisku berhenti, Kak Darren menyuruhku bersiap. Dia tak memaksaku ke rumah sakit, justru tetap pada rencana awal, yakni melihat proyek di Kota Batu. Bu Fatimah pun tak melarang. Entah ikhlas atau tidak, yang jelas beliau mengizinkan aku pergi.


"Kirana, hati-hati di sana. Jaga diri baik-baik, jangan terlalu memikirkan ucapan Bunda," ujar Bu Fatimah ketika aku berpamitan.


"Iya, Bunda. Maaf atas sikapku tadi."


"Tidak apa-apa, Bunda paham, Nak." Bu Fatimah beralih menatap Kak Darren. "Ren, jaga istrimu dengan baik! Ajak istirahat bila dia lelah!"


"Iya, Bunda."


___________________


Sebuah gapura megah berdiri kokoh dan memamirkan tulisan 'SANDYA PERMAI'. Di kawasan puncak, di Kota Batu, proyek milik Kak Darren tampak seperti vila elite. Selain bangunannya yang mewah, di sepanjang jalan menuju ke sana, pohon pinus berjajar rapi dengan ukuran yang hampir sama, juga bukit-bukit kecil yang berwarna hijau teduh. Sangat memukau.


"Sore hari di tempat ini sangat indah, Sayang. Bisa sepuasanya menikmati matahari tenggelam. Itu sebabnya, aku dan Fahri menamainya Sandya Permai," kata Kak Darren.

__ADS_1


Sebenarnya, tadi dia sudah menjelaskan, tetapi aku sekadar menanggapinya dengan gumaman pelan. Entahlah, ucapan Bu Fatimah masih terus terngiang dan itu membuat suasana hatiku sangat buruk.


"Kalau tadi mengambil arah yang lurus, kita akan tiba di kebun apel. Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke sana, sangat indah, pasti kamu suka." Kak Darren kembali bicara.


"Iya," jawabku singkat dan pelan.


"Mau keluar sebentar? Melihat-lihat pemandangan sekitar sini, sebelum nanti keliling di sana." Kak Darren bicara sambil menunjuk ke arah proyek.


"Boleh," jawabku.


Kemudian, aku turun dari mobil dan menatap ke sekeliling. Tak jauh dari tempatku berdiri, ada swalayan dan restoran yang cukup besar, juga masjid dan gereja, serta klinik yang berada di dekat pintu gerbang Sandya Permai.


Ketika menatap lurus ke barat, aku disuguhi pemandangan kota yang menakjubkan. Hamparan warna hijau berbaur dengan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, ditambah lagi udara yang sejuk tanpa polusi. Sepertinya, tempat ini sangat cocok untuk menenangkan diri.


"Jika malam hari, suasana di sini lebih indah, Sayang, karena ada lampu-lampu yang menghiasi setiap sudutnya."


Ucapan Kak Darren serasa mengambang di pikiran, dapat kudengar, tetapi sulit kucerna. Aku hendak menyahut, tetapi bibirku sulit digerakkan. Perlahan, tubuh ini terasa ringan dan juga lemah. Aku hendak menggapai tangan Kak Darren, tetapi gagal karena duniaku tiba-tiba gelap.

__ADS_1


Bersambung....


Nggak ingkar kok sama judulnya, jadi ... jangan esmosi ya🤗🤗🤗🤗


__ADS_2