
Pada hari keempat, Ginanjar berhasil ditemukan. Saat itu, dia sudah keluar kota. Dari pengakuannya, dia melakukan pembunuhan tanpa perencanaan. Dia tidak mengenal Nessa maupun Kaivan. Dia sekadar emosi ketika kekasihnya dipukul hingga tersungkur—walaupun yang memukul adalah suami sahnya Nora.
Karena sebelumnya Nora juga sering bercerita tentang kekerasan yang dilakukan Adhi, maka malam itu Ginanjar langsung gelap mata. Tanpa memikirkan akibatnya, dia langsung mengambil pisau steak dan menyerang Adhi.
"Saya terbawa emosi, Pak. Saya tidak berpikir jauh tentang akibatnya. Maksud saya hanya memberikan pelajaran kepada Adhi. Saya tidak ada niat membunuhnya," kilah Adhi.
"Saudari Nessa sudah mengakui perbuatannya, sengaja mengenonaktifkan CCTV ketika Anda dan Bu Nora masuk ke restoran."
"Saya benar-benar tidak mengenalnya, Pak. Saya tidak tahu mengapa dia melakukan itu," sahut Ginanjar untuk yang kesekian kali. Dia terus menegaskan bahwa tak ada hubungan antara dirinya dengan Nessa.
"Benar, Pak. Kami tidak ada urusan apa-apa dengan dia." Nora ikut menimpali.
"Kami tidak bisa percaya tanpa ada bukti!" kata polisi dengan tegas.
__ADS_1
"Nessa! Katakan siapa sebenarnya yang menyuruhmu! Jangan terus bungkam atau memberikan kesaksian palsu!" Kaivan mulai emosi. Pasalnya, makin ke sini dia dihadapkan pada prasangka yang buruk.
Dari hasil dugaan, kepergian Nessa ke Kantor Victoria memang berkaitan dengan kasus itu. Entah menemui target atau menemui seseorang yang memberikan perintah. Dugaan itu diperkuat dengan bungkamnya Nessa ketika diinterogasi polisi, setelah sebelumnya mengaku diperintah Kaivan.
Saat ini, polisi masih menunggu rekaman CCTV di Kantor Victoria pada hari itu. Namun, pemimpin mereka—Aluna Aldamaya masih tidak bisa dihubungi, sehingga rekaman belum bisa diberikan.
Sembari menatap Nessa yang terus diam, Kaivan kembali memikirkan kekasihnya. Ke mana gerangan? Nomor Luna tidak pernah aktif, pun dengan nomor ayahnya—Prawira Bagaskara. Bahkan, pelayannya pula entah ke mana, setiap kali menghubungi nomor rumah, Kaivan tak pernah mendapat jawaban.
"Kamu ke mana, Luna? Kenapa tiba-tiba hilang kabar? Kamu tahu, tindakanmu ini membuatku berprasangka buruk," batin Kaivan.
"Jika semua ini saya rencanakan, pasti saya membawa senjata dari rumah, dan lagi saya tidak akan memilih restoran karena itu tempat umum. Saya pasti memilih tempat yang sepi dan jauh dari CCTV," ucap Ginanjar. Sebuah pembelaan yang terdengar masuk akal.
Tak lama kemudian, salah seorang petugas datang dan memberitahukan bahwa Aluna Aldamaya sudah tiba. Kaivan tersentak seketika. Pasalnya, siang tadi dia belum mendapat kabar dari kekasihnya dan sore ini tiba-tiba sudah hadir di sana.
__ADS_1
"Apakah aku bukan lagi prioritasmu? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan di belakangku?" batin Kaivan sambil menatap petugas yang melangkah menjauh—hendak memanggil Luna.
Sekitar lima menit kemudian, ketukan hihg hells yang Luna kenakan menggema di telinga Kaivan, terdengar menyakitkan. Di sisi lain, Nessa makin pucat pasi. Entah apa yang bisa dilakukan setelah ini.
Detik berikutnya, Luna memasuki ruangan dan langsung beradu pandang dengan Kaivan. Hatinya sedikit nyeri mendapat tatapan tajam dari Kaivan, seakan-akan tatapan itu menuntut sebuah penjelasan. Lantas, Luna mengalihkan tatapan dan melayangkannya ke seluruh ruangan. Kemudian, pandangannya terhenti pada Nessa—gadis muda yang saat ini sedang menunduk dan menitikkan air mata.
Luna menelan sudah sebelum membuka suara. Ada sedikit hal yang membuatnya tidak nyaman.
"Kamu___" gumam Luna.
"Semua sudah telanjur. Aku hanya bisa pasrah," batin Nessa.
"Luna mengenal Nessa," batin Kaivan dengan perasaan yang tak menentu.
__ADS_1
Bersambung...