
Kaivan duduk termenung di tepi ranjang, memikirkan sikap Luna yang sama sekali tidak menghargai Nadhea. Dia sangat kecewa karena dirinya pun tak jauh beda dengan Nadhea. Kelebihannya sekadar andal memotret, tidak akan menjamin masa depan andai saja keluarga tidak merangkul. Di sisi lain, Kaivan juga yakin bahwa Nadhea memiliki sedikit kelebihan. Mungkin, hobi yang disebut Luna 'membuang waktu', itulah kemampuan Nadhea. Namun, sungguh disayangkan keluarga tidak mendukung, justru menyudutkannya.
"Pantas saja waktu itu murung, mungkin ... dia sedang memikirkan keluarganya," gumam Kaivan ketika teringat dengan pertemuannya dengan Nadhea di Rinjani. Gadis tipis otak yang menurutnya memiliki kepribadian ganda.
Tak lama kemudian, Kaivan teringat dengan satu hal. Lantas, dia mengambil ponselnya dan mulai berselancar di internet. Dia mencari tahu tentang novel 'Sayap-Sayap Patah' yang beberapa hari terakhir sempat dilupakan karena kasus Romantic Resto.
Sayap-Sayap Patah adalah novel romantis-sedih karya Grey. Pertama kali rilis di aplikasi Sweet Story dengan total 100 bab. Saat ini sudah tersedia dalam buku cetak dan buku digital.
Sayap-Sayap Patah adalah novel yang menceritakan tentang jalan hidup Aruna Gita—gadis malang yang yang selalu terabaikan. Karena tidak cerdas, dia disudutkan oleh keluarganya, bahkan hobinya pun ditentang keras. Alhasil, dia putus sekolah dan menikah di usia muda. Lantas, Aruna menuliskan kisah hidupnya dalam sebuah novel. Tak disangka, novelnya laku keras dan dipinang penerbit. Saat itulah dia punya kesempatan untuk menyalurkan hobinya—melukis. Ganbar sampul dalam bukunya adalah lukisannya sendiri.
"Deskripsi ini ... apakah kisah nyatanya Nadhea." Kaivan menatap layar ponselnya dengan lekat. "Aku akan membaca novelnya," sambung dia.
Dengan gerakan cepat, Kaivan meng-install aplikasi Sweet Story dan mencari novel Sayap-Sayap Patah, yang ternyata novel paling populer di sana. Sebelum membaca, Kaivan terlebih dahulu mengeklik profil sang penulis. Di bawah gambar Gunung Rinjani, Kaivan dapat membaca nama sekaligus bionya.
'GREY, bukan penulis dengan gelar sarjana. Jangan bertanya tentang pendidikan, putih abu-abu terpaksa kutanggalkan dalam separuh jalan.'
"Tulisan ini sederhana, tapi aku merasakan kesedihan yang amat besar dalam aksaranya," ucap Kaivan.
Belum sempat Kaivan membaca bab pertama, tiba-tiba pendengarannya menangkap kumandang azan, rupanya sudah masuk waktu magrib. Sembari mengembuskan napas kasar, Kaivan mematikan ponselnya dan beranjak menuju kamar mandi.
______________
Usai melaksanakan salat, Kaivan dan Luna turun ke lantai bawah. Mereka masuk ke kamar Prawira dan melihat keadaannya—sudah membaik, tetapi masih lemas. Rania dan Prawira tampak salah tingkah ketika Kaivan mengajak bicara. Walaupun tidak bertanya langsung mengenai Nadhea, tetapi mereka paham bahwa Kaivan sudah mengetahuinya.
Setelah berbincang panjang, Kaivan, Luna, dan Rania bersiap-siap ke meja makan untuk makan malam bersama. Sementara Prawira, dia beristirahat dengan ditemani seorang pelayan.
__ADS_1
Sesampainya di meja makan, Kaivan menatap sosok Nadhea, yang kala itu sedang membantu Bi Mina menata hidangan di meja. Wanita itu tersenyum kala menyadari kehadirannya.
"Siapa yang menemani Papa?" tanya Nadhea.
"Bi Surti." Rania menjawab singkat
Nadhea mengangguk dan kemudian menarik kursi. Lalu, dia duduk di sana karena semua hidangan sudah tersaji di atas meja. Tak berselang lama, Arsen turut bergabung. Lantas, masing-masing mengambil makanan tanpa berbincang banyak, sekadar basa-basi belaka. Sebuah momen yang jauh dari kata harmonis. Seumur hidup Kaivan, tak pernah merasakan hal seperti itu di dalam keluarganya.
Setengah jam kemudian, mereka menyudahi santapannya. Nadhea dan Arsen beranjak meninggalkan meja makan, sedangkan Luna dan Kaivan masih di sana bersama Rania.
"Kapan kalian memulai persiapan?" tanya Rania sembari menatap Kaivan dan Luna secara bergantian.
"Persiapan___"
"Nggak lama lagi, kan, kalian menikah. Rencananya prewed kapan?" pungkas Rania karena Kaivan seperti tak menangkap maksudnya.
"Aku akan lebih senang kalau Tante membahas Nadhea, bagaimana pun juga dia anak Tante dan aku adalah calon menantu Tante. Jika seperti ini, kesannya Tante tidak menganggap kami," batin Kaivan di balik senyumannya.
"Kalian nanti rencananya prewed di mana?" Rania kembali bertanya. Dia berusaha mencari topik pembicaraan agar perhatian Kaivan tidak terfokus pada kehadiran Nadhea.
"Saya terserah Luna, Tante." Kaivan beranjak. "Mmm, Tante, saya izin ke kamar mandi sebentar. Luna, aku tinggal dulu, ya," sambungnya.
"Iya."
Kaivan melangkah menuju kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari kamar Nedhea. Namun, ruangan itu tertutup rapat dan Kaivan pun sangat santai karena tidak tahu bahwa itu kamar Nadhea.
__ADS_1
Di kamar mandi, Kaivan membasuh muka sambil merenung. Sikap Luna beserta orang tuanya saat ini menghadirkan sekelumit rasa ragu dalam benak Kaivan. Sebuah perasaan yang sedikit mengganggu rasa cinta yang sekian lama bertahkta.
"Semoga ke depannya sikap mereka bisa lebih baik agar aku tidak ragu dengan hubungan ini," ucap Kaivan.
Setelah hatinya lebih tenang, Kaivan keluar dan bergegas menuju meja makan. Namun, langkahnya terhenti setelah melewati pintu kamar Nadhea. Ada satu suara yang mencuri perhatiannya.
"Bukankah dunia ini terlalu sempit, Bang Kai? Pertemuan ketiga kita ... sangat tidak terduga," ucap Nadhea dari belakang Kaivan.
"Kamu___" Kaivan menoleh, tetapi tak bisa mengucap banyak kata.
Untuk sekian detik mata keduanya saling beradu, sampai akhirnya Kaivan tersadar akan satu hal.
"Grey, penulis novel Sayap-Sayap Patah. Apa itu kamu?" tanya Kaivan dengan cepat.
Nadhea terkekeh-kekeh, "Rupanya kamu pecinta novel. Tapi ... tidak, dugaanmu terlalu jauh."
Kaivan tak menyahut, sekadar menilik sorot mata Nadhea yang penuh kemelut. Selain itu, dia juga mencari jawaban bahwa Nadhea sedang tidak jujur. Sungguh, Kaivan sangat yakin Grey dan Nadhea adalah orang yang sama.
"Andai calon istrimu bukan Luna, pasti aku sudah menagih janji, Bang Kai." Luna menyadarkan lamunan Kaivan.
"Jangan gila, kamu sudah menikah," jawab Kaivan.
"Apakah Sayap-Sayap Patah belum kamu baca sampai tamat?" tanya Nadhea.
"Apa___"
__ADS_1
Ucapan Kaivan terhenti karena kehadiran seseorang.
Bersambung...