Noda

Noda
Dukungan Untuk Athreya


__ADS_3

"Kai, jangan membuat Bunda berpikir lama. Katakan apa yang ingin kamu bicarakan!" ujar Kirana.


"Ini tentang Reya." Kaivan menggenggam tangan ibunya. "Bunda, demi aku tolong berjanji ya. Jangan marahi Reya! Aku tahu kesalahannya cukup fatal, tapi aku nggak tega kalau dia disudutkan. Sekarang dia gagal karena kecerobohannya, tapi aku yakin suatu saat dia bisa memperbaiki kesalahan ini. Kita dukung Reya, ya, Bunda. Kita jangan menambah bebannya. Aku yakin kejadian ini membuatnya terpukul, dia butuh kita untuk bersandar, Bunda," sambungnya.


Bukan bermaksud menutup mata atau mendukung tindakan yang tak benar, melainkan Kaivan teramat sayang kepada adiknya. Sebenarnya, tidak salah andai saja Athreya dihakimi. Pasalnya, kecerobohan yang dia lakukan membawa aib yang besar. Namun, Kaivan sama sekali tidak tega jika adiknya mengalami hal itu, makanya dia berani memohon kepada sang ibunda—meski awalnya sempat bimbang.


"Kaivan___"


"Kalau misalkan Papa dan Bunda mau marah, marahi aku saja, Bunda. Aku yang nggak becus jadi kakak, nggak bisa nasihati dan menjaga dia. Aku yang pantas dimarahi, Bunda," potong Kaivan dengan kepala yang menunduk.


"Dengarkan Bunda, jangan suka mengambil kesimpulan sendiri!" Kirana menepuk bahu Kaivan dengan pelan.


"Maksud Bunda?"


"Awalnya, papamu dan juga Bunda memang kaget, kami nggak menyangka Reya akan seberani ini. Tapi, bukan berarti kami akan menghakimi dan memupus harapannya. Marah dan kecewa memang ada, tapi masih dalam batas wajar, Kaivan. Apa pun Reya sekarang, Papa dan Bunda akan tetap sayang, tetap mendukung, karena kita semua adalah keluarga. Kaivan, kamu tenang saja, Bunda tahu apa yang terbaik untuk Reya," terang Kirana.


"Terima kasih, Bunda!" Kaivan tersenyum lebar sambil menghambur ke pelukan Kirana.


"Bagaimana mungkin aku bisa menyudutkan Reya, Kaivan, sedangkan aku sendiri pernah ada di posisi ini. Aku tahu betapa sakitnya sendiri tanpa sandaran. Aku tidak akan membiarkan anak-anakku merasakan hal itu," batin Kirana sembari mengusap-usap punggung Kaivan.

__ADS_1


"Bunda, kira-kira ... masa depan Reya cerah apa nggak ya, Bunda? Maksudku, dalam hal cinta," ucap Kaivan usai mengurai pelukan.


Kirana tersenyum, lalu membuang pandangan lurus ke depan, "Mungkin, ada sebagian lelaki yang mempermasalahkan hal itu, tapi ada juga yang tak acuh. Kaivan, jodoh itu sudah ditentukan Tuhan. Jodoh yang benar-benar mencintai dan bersedia menerima kekurangan. Bunda yakin, suatu saat Reya juga akan bertemu dengan lelaki yang bisa menerimanya dengan tulus."


"Seperti aku, yang begitu beruntung dipertemukan dengan papamu," sambung Kirana dalam hatinya.


"Amin, aku sangat berharap Reya bisa bahagia, Bunda."


"Bukan hanya harapan kamu, Nak. Tapi, harapan kita semua."


Ketika Kirana dan Kaivan masih asyik berbincang, tiba-tiba seorang lelaki berlari menghampiri mereka—Kennan. Dia baru tiba dari Bandung.


"Kaivan, Tante!" Kennan menyalami Kirana. "Bagaimana keadaan Reya?" sambungnya.


"Pasti, Tante."


"Kamu tiba-tiba aja sampai di sini, kerjaan udah kelar?" tanya Kaivan.


"Udah. Yang lain balik ke Malang, aku langsung ke sini."

__ADS_1


"Kamu nggak nengok Nadhea?" Kaivan kembali bertanya.


Kennan berdecak kesal. Dia sangat khawatir dengan keadaan Athreya, bahkan sampai melupakan makan dan tidur. Namun, Kaivan malah menanyakan keadaan Nadhea. Ah, sangat menyebalkan!


"Ken___"


"Enggak lah. Aku 'tuh khawatir sama Reya, jadi buru-buru ke sini. Lagian katamu bapaknya udah ke sana, jadi ngapain aku jenguk segala," gerutu Kennan.


"Ya lihat keadaannya lah, kan jaraknya deket. Om Wira juga nggak mungkin lama di sana, bisnisnya sedang ketar-ketir." Kaivan menjawab cepat.


"Ya udah kalau gitu kamu aja yang jenguk ke sana. Aku di sini nemenin Reya dan Tante," kata Kennan.


Kaivan tak menyahut, sekadar menoleh dan memandangi Kennan dengan kening yang mengernyit. Sejak Athreya sakit, lelaki itu sering menunjukkan kekhawatirannya. Kaivan sempat menduga, mungkinkah ada sedikit hal yang ia lewatkan.


Sebelum Kaivan berbincang lebih banyak, tiba-tiba dokter membuka pintu IGD. Kaivan dan Kennan langsung menghambur ke sana, menanyakan keadaan Athreya yang entah bagaimana sekarang. Namun, dokter tak kunjung menjawab, hanya menatap sambil mengulas senyum simpul.


Kaivan dan Kennan saling pandang. Keduanya mulai berprasangka baik, tetapi tak berani menebak secara pasti. Mereka takut jika kenyataan tak sesuai dengan harapan.


Bersambung...

__ADS_1


Yang suka chat story, boleh juga mampir di mari. Blurb seperti yang tertera di gambar. Kalau udah singgah, jangan lupa kritik dan sarannya yahh, terima kasih.😊😊😊



__ADS_2