
"Kaivan!"
Pria paruh baya yang tak lain adalah Prawira, lebih dulu membuka suara sambil mengekspresikan keterkejutannya. Dia tak menyangka akan menjumpai Kaivan di kamar rawat Nadhea.
"Om Wira." Kaivan tersenyum masam.
"Papa!"
Obrolan Kaivan dan Prawira sempat terjeda karena teriakan Nadhea. Tanpa basa-basi, Prawira langsung masuk dan mendekati putri sulungnya. Dia duduk di sebelah Nadhea sembari mengeluarkan kotak makan yang disimpan dalam kantong.
"Ini Papa bawa serabi, Nak. Semoga kamu suka," ucap Prawira dengan nada dan tatapan yang sulit diartikan.
Di hadapannya, Nadhea juga mendadak salah tingkah. Kue serabi adalah makanan kesukaannya, dari kecil hingga saat ini. Dulu, hanya jajanan itu yang membuatnya merasa lebih baik ketika sang ayah mengajak Luna jalan-jalan dan meninggalkannya di rumah. Setelah beranjak remaja, ayahnya tak pernah lagi membelikan serabi. Ah, jangankan jajanan yang notabennya bukan kebutuhan pokok, untuk kepentingan sekolah saja ayahnya juga jarang peduli.
Kini, dengan tiba-tiba pria itu datang sembari membawa serabi, setelah kemarin-kemarin memilih pulang dan membiarkannya sendiri dengan pelayan. Ada apa gerangan? Sebuah harapan palsu? Atau harapan yang benar-benar bisa diharapkan?
"Nadhea!"
"Emmm, iya, Pa." Nadhea terkesiap.
"Kamu masih suka serabi, kan?"
"Iya, Pa." Nadhea mengangguk. "Tapi, aku mau ke kamar mandi sebentar. Tadi, aku minta tolong Kaivan untuk memanggil Bibi," sambungnya.
"Baiklah!" Prawira tersenyum sambil meletakkan kue serabi ke atas meja.
__ADS_1
"Kalau gitu Papa keluar dulu, sekalian mau bicara dengan Kaivan. Nanti, langsung makan aja, mumpung masih hangat!" sambung Prawira.
"Iya, Pa."
Prawira melangkah keluar dan berganti pelayan yang datang. Usai menutup pintu, Prawira melihat Kaivan sedang duduk di kursi tunggu. Pandangannya sedikit tajam, seakan-akan menyiratkan sesuatu yang tak baik.
"Tante nggak ikut, Om?" tanya Kaivan tanpa basa-basi.
Prawira tersenyum masam, lalu duduk di sebelah Kaivan. Entah apa status lelaki itu sekarang, yang jelas Prawira ingin bercerita panjang dengannya. Maklum, di usianya yang sudah senja dia merasa sendiri, tidak ada tempat untuk berbagi.
"Sejak hari itu, aku baru sekarang ke sini lagi. Awalnya, aku pulang untuk menangani bisnis yang hampir tumbang, sekalian membujuk Rania agar mau menjenguk Nadhea. Tapi, ternyata masalahnya lebih rumit dari yang kukira." Prawira menunduk. "Aku sampai berhari-hari di sana karena mengurus perceraian," sambungnya.
"Perceraian?" Kaivan menatap heran. Dia tak bisa menebak siapa kiranya yang bercerai.
"Iya. Sekarang ... aku dan tantemu sudah pisah," jawab Prawira.
"Banyak hal yang tidak kamu ketahui, Kaivan. Dan jujur, memang tidak seharusnya kamu tahu. Tapi, entahlah, Om sudah tidak punya tempat untuk bercerita. Dari sekian banyak kenalan yang Om punya, justru kamu yang Om anggap layak untuk mendengar. Itu pun kalau kamu bersedia."
Prawira menatap datar ke depan. Sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Kaivan sedikit bimbang dibuatnya, yang awalnya ingin meluapkan kekesalan, tiba-tiba melunak dan menaruh rasa iba.
"Cerita apa, Om?"
"Ibu kandung Nadhea bukan Rania, melainkan Wenny. Kami menikah dan hidup bahagia, tapi sayang tidak lama. Pada saat melahirkan Nadhea, Wenny berpulang ke pangkuan Tuhan. Saat itu jiwaku masih muda, rasanya sangat sulit menjadi single parent." Prawira mulai bercerita.
"Rania adalah sahabat dekat Wenny. Dia yang membantuku mengasuh Nadhea, terkadang juga ... membantu memenuhi kebutuhanku. Ketika Nadhea berusia dua tahun, aku memutuskan untuk menikah dengannya. Awalnya, dia sangat menyayangi Nadhea. Tapi perlahan, rasa sayang itu berkurang, terlebih ketika dia hamil dan melahirkan Luna. Meski tumbuh di tempat yang sama, tapi Nadhea dan Luna jauh berbeda. Luna lebih unggul dalam segala hal. Itu sebabnya, Rania makin mengabaikan Nadhea, bahkan aku pun melakukan hal yang sama. Karena kebodohan, aku termakan bujuk rayu Rania. Aku tega mencoret nama Nadhea dari daftar keluarga, juga setuju memberikan semua aset kepada Luna. Padahal, harta yang itu bukan murni milikku, masih ada hak Wenny di dalamnya." Prawira menjeda kalimatnya. Ia mengatur napas yang mulai menyesakkan dada.
__ADS_1
"Aku sangat bodoh, Kaivan!" Prawira menunduk, menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca. Jujur, dia sangat menyesali perbuatannya di masa lalu.
Kaivan beringsut mendekat, lalu mengusap pelan bahu Prawira. Dia tak bisa berkata-kata, penjelasan itu sangat mengejutkan baginya.
"Aku bodoh menelantarkan Nadhea sampai seperti ini. Aku juga bodoh terlalu memanjakan Luna, akhirnya dia menjadi pribadi yang ambisius, angkuh, dan serakah. Aku adalah ayah yang gagal, Kaivan," sambung Prawira.
"Tidak, Om. Masih ada banyak waktu untuk memperbaiki semuanya," ujar Kaivan.
"Aku membujuk Rania untuk berlaku adil, tapi dia malah marah dan ngotot ingin cerai. Di hatinya memang hanya Luna yang disayangi. Ya sudahlah, mungkin memang lebih baik kami berpisah."
"Yang sabar ya, Om."
"Aku sangat berterima kasih padamu, Kaivan. Berkat Darren, bisnisku sedikit tertolong. Walau nanti aku tidak bisa memberikan rumah mewah untuk Nadhea, tapi setidaknya aku tidak terlilit hutang. Rumah yang itu terpaksa kujual, Kaivan, kubagi dengan Rania. Sekarang, kami akan hidup sendiri-sendiri." Prawira kembali bicara.
"Pada saatnya nanti, bisnis Om pasti kembali seperti semula," ujar Kaivan berusaha menenangkan.
"Mudah-mudahan saja. Kaivan, terima kasih banyak. Kenal denganmu adalah keberuntungan bagiku." Prawira menatap Kaivan sambil tersenyum.
Kaivan sekadar tersenyum tipis. Dia masih tak percaya, seseorang yang dulu penuh wibawa—bahkan tatapannya pernah membuatnya gemetaran, kini menundukkan kepala di depannya. Ah, sekeras itukah dunia? Semudah itukah membolak-balikkan keadaan?
"Apa Nadhea sudah mengetahui rahasia ini, Om?" tanya Kaivan beberapa saat kemudian.
"Tentang Wenny sudah. Tapi, untuk yang lain belum. Nanti akan kubeberkan semuanya. Akan kuceritakan juga tentang masalah Luna. Kemarin, aku sempat bohong," jawab Prawira.
Kaivan tersenyum, "Syukurlah. Semoga hubungan mereka terus membaik," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...