Noda

Noda
Mungkinkah Itu Darren?


__ADS_3

[Selamat malam, Calon Istri. Udah dicoba belum cincinnya?


Save nomerku, ya, jangan lupa kasih nama yang romantis]


Aku duduk di sofa sembari mengusap wajah berulang kali. Pipiku rasanya memanas, entah mengapa bisa seperti ini. Mataku terpaku pada rangkaian huruf yang membentuk kata 'calon istri', sebuah panggilan yang selama ini tidak pernah aku bayangkan.


Tanpa berpikir dua kali pun aku tahu, pasti Kak Darren yang mengirimkan pesan itu. Aku tak segera membalas pesannya, aku justru membuka kotak cincin yang masih kuletakkan di atas meja.


Dengan hati yang berdebar-debar, kuraih cincin permata dan kusematkan di jari manisku. Ukurannya sangat pas, tidak kebesaran, juga tidak kekecilan.


Cukup lama kupandangi cincin cantik yang melingkar di jemari. Sangat manis. Warna maniknya yang biru safir tampak menyatu dengan warna kulitku. Benar-benar pilihan yang sangat cocok.


Setelah puas menatapnya, kuraih kembali ponselku dan kuarahkan kamera ke jemari. Kuambil gambar dalam jarak sejengkal. Usai memotret, kukirimkan gambarnya ke nomor Kak Darren. Tak lupa kuselipkan sedikit tulisan di bawahnya.


[Pas]


[Tampak lebih indah saat melingkar di jarimu. Ngomong-ngomong nomorku sudah disimpan? Screen shoot dong, aku penasaran sama nama kontakku]


Aku terdiam sejenak, pasalnya nomor Kak Darren belum kusimpan. Aku belum menemukan nama yang cocok untuknya. Romantis katanya, haruskah aku memberinya nama My Love, atau Sayangku, atau mungkin My Hunny, aduh aku merasa geli.


Di saat aku masih sibuk memikirkan nama, tiba-tiba ponselku berdering. Kak Darren yang menelepon. Debar hatiku kian tak menentu, gemetar rasanya ketika mengusap tombol hijau di layar. Ini adalah pertama kalinya aku dan Kak Darren berbincang via telepon. Apalagi statusnya yang bisa dikatakan sebagai calon suami, ahh semakin gugup saja diriku.


"Assalamu'alaikum," sapaku.


"Waalaikumsalam." Suaranya terdengar lebih lembut dan merdu.


"Sudah sampai?" tanyaku berbasa-basi.

__ADS_1


"Udah, ini baru aja masuk kamar. Kamu suka nggak sama cincinnya? Kalau misalkan bentuknya kurang cocok, kamu bilang aja. Nanti cari lagi, kita pergi sama-sama biar kamu bisa pilih sendiri," kata Kak Darren. Suaranya terdengar ringan, mungkin dia tidak gugup sepertiku.


"Udah pas, Kak, aku suka." Aku menjawab sambil mendekap dada.


"Syukurlah kalau gitu. Oh ya, nomor kontakku dikasih nama siapa?" tanya Kak Darren yang lantas membuatku membelalak lebar. Mengapa hal ini lagi yang ia tanyakan?


"Mmm, belum kusimpan. Tadi 'kan masih bales chat-nya Kakak," jawabku berterus terang.


"Ya udah kalau gitu kasih nama 'Calon Suami' aja, ini di aku tak kasih nama 'Calon Istri'," ucap Kak Darren.


"Hah, serius?" tanyaku dengan intonasi yang lebih tinggi. Jujur aku sedikit kaget, tidak menyangka jika dia memberiku nama semacam itu.


"Kamu keberatan?" Kak Darren balik bertanya.


"Mmm enggak, cuma ... kaget aja. Aku pikir dikasih nama Kirana gitu, mmm iya gitu maksudku," jawabku dengan gugup.


"Eh, aku nggak gugup. Aku hanya___" Belum sempat aku melanjutkan kalimat, tiba-tiba Kak Darren sudah menyahut.


"Aku sangat berharap, di suatu masa rasa itu benar-benar ada. Aku selalu menyebut namamu dalam setiap doaku, Sayang," kata Kak Darren.


"Sa ... Sayang," ucapku dalam hati. Untuk pertama kalinya ada lelaki yang memanggilku dengan sebutan 'sayang'. Dulu, saat aku menjalin hubungan dengan Daniel, dia hanya memanggilku dengan nama, bukan sebutan mesra.


"Kenapa diam?" Suara Kak Darren membuyarkan lamunanku.


"Mmm, aku___"


"Ya sudah kalau gitu kita istirahat aja, udah malem. Nggak baik tidur terlalu larut," pungkas Kak Darren.

__ADS_1


"Baik, Kak," jawabku.


"Selamat tidur, Sayang, semoga mimpi indah." Lagi-lagi dia memanggilku dengan sebutan 'sayang'.


"Selamat tidur juga, Kakak," ucapku dengan pelan.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Kuhela napas panjang, ketika sambungan telepon sudah berakhir. Kuusap wajah yang dipenuhi bintik-bintik keringat. Mengapa aku segugup ini? Bukankah aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya? Apa karena dia hadir sebagai calon suami, maka aku jadi seperti ini? Ahh entahlah.


Aku tidak tahu apa jawabannya, tapi aku tahu bahwa rasa gugup itu menghadirkan kehangatan yang perlahan menjalar memenuhi sanubari.


Kuletakkan ponselku dan lagi-lagi kupandangi cincin yang melingkar manis di jemari. Tanpa dipinta, bibirku langsung mengulum senyum. Seolah ada bunga-bunga yang bermekaran menghiasi taman hati. Nyaman, indah, nan memesona. Oh Tuhan, perasaan apakah ini?


Kemudian aku beranjak dan merebahkan diri di atas ranjang. Kupandangi langit-langit kamar yang seakan-akan menampilkan bayangan masa silam. Pada zamannya, Kak Darren pernah menyandang predikat mahasiswa tertampan di kampus. Statusnya sebagai vocalis band, membuat dirinya semakin diidolakan para kaum hawa. Namun, tak sedikit pun aku menganggapnya istimewa. Sejak Daniel hadir sebagai mahasiswa baru, perhatianku hanya tercurah padanya. Sampai-sampai aku tak sadar jika Kak Darren menyimpan perasaan untukku.


Di saat kilasan balik itu masih membayang di pikiranku, tiba-tiba aku menyadari satu hal yang sempat kulewatkan.


"Vocalis band," gumamku. "Kak Darren sangat pandai menyanyi dan memainkan gitar, jangan-jangan___"


Aku bangkit dari tidurku dan berjalan menuju meja. Kuambil kotak musik yang kusimpan di dalam laci. Untuk kesekian kalinya kudengarkan melodi sederhana yang senantiasa membuatku terhanyut.


Kutajamkan pendengaran dan kuresapi setiap petikan-petikannya. Lagi-lagi aku merasa familiar dengan nadanya. Namun, aku tidak yakin itu benar Kak Darren atau bukan.


"Ahh, mana mungkin aku bisa tahu, dulu aku jarang melihat penampilannya. Kalaupun dia punya ciri khas, aku juga tidak akan paham. Kayaknya harus tanya langsung deh sama orangnya, daripada penasaran terus. Nggak enak banget," gerutuku seorang diri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2