
Gemericik air di kamar mandi membuat wajahku kian merona. Setelah beberapa saat saling berbaring di atas ranjang, Kak Darren membersihkan diri karena waktu dzuhur hampir tiba.
Sembari menunggunya, aku memainkan kelopak mawar yang kini berserakan. Sesekali kuusap sudut bibirku, ada rasa manis dan hangat yang baru saja kureguk dari sana. Makin ke sini, aku makin tak paham dengan perasaan ini. Benarkah hatiku telah berbelok arah?
"Hadirnya membuatku lupa dengan segala hal." Aku membatin sambil menatap ujung kerudung yang tergeletak di tepi ranjang.
Sebenarnya, aku akan membahas soal Mayra. Aku bermaksud mengajaknya ke kantor polisi, tetapi semua itu gagal. Kala dia menyentuhku, hirap sudah segala rencana tentang Mayra.
"Sayang."
Aku tersentak. Telingaku menangkap bisikan lelaki yang sedari tadi mengacaukan pikiran. Dengan cepat aku menoleh dan mendapati dirinya berada di sisi ranjang. Tubuhnya membungkuk, sehingga wajahnya berada tepat di atasku.
"Kak, kamu ... kamu___"
Lagi-lagi aku gugup. Melihatnya bertelanjang dada, pikiranku makin ke mana-mana. Oh tidak, sejak kapan imajinasiku seliar ini?
Tanpa sadar aku memejam sembari menggeleng cepat. Maksud hati menepis pikiran yang tak terkendali, tetapi aku lupa jika Kak Darren masih ada di dekatku.
"Sayang, kamu kenapa?" Kak Darren bertanya sambil menyentuh pipiku.
Hangat kulitnya berbaur dengan sejuknya bekas air, menghadirkan rasa panas-dingin yang menjalar di sekujur tubuh.
"Sayang."
Aku berpaling ke samping, menghindari embusan napas Kak Darren yang menyapu wajah. Namun bukannya menjauh, ia justru lebih mendekat. Bahkan tanpa rasa bersalah, ia merapatkan dadanya di tubuhku.
"Apa kamu menginginkannya, hemm?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Enggak. Aku hanya ... hanya___"
"Kita sudah halal, nggak perlu malu," pungkasnya.
"Kamu salah paham, Kak. Aku___"
Untuk kesekian kalinya kalimatku menggantung begitu saja. Namun, kali ini ia memungkas dengan cara yang berbeda. Cara manis nan indah yang tiba-tiba merajai segala rasa.
Setelah cukup lama saling membungkam, ia melepasku sambil tersenyum. Tampak sangat manis bagiku. Namun, kami tak lantas berpindah posisi. Tetap bergeming sembari beradu pandang. Rasa bahagiaku kian membuncah, kala menatap bayanganku di bola matanya. Dari sana seolah aku makin percaya, bahwa ia adalah milikku. Hanya milikku.
"Aku benar-benar jatuh cinta," batinku tanpa mengalihkan pandangan.
"Mandilah." Kak Darren bicara sembari mengusap pipiku sekilas. Lantas bersiap turun dari ranjang.
"Kak." Kutahan lengannya agar tidak menjauh.
"Mau lagi?" goda Kak Darren diiringi kerlingan mata.
Aku tak menyahut, tetapi langsung mencubitnya dengan keras. Ia mengaduh, tetapi hanya kubalas dengan pelototan tajam. Sekian detik aku mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan cinta. Namun, ia malah menggoda dan membuatku kembali terjebak dalam rasa malu. Menyebalkan.
Selagi ia masih mengusap-usap lengannya, aku bangkit dan bersiap untuk mandi. Lantas kini berganti Kak Darren yang menahan tanganku.
"Mau ngomong apa?" tanyanya dengan pandangan yang teduh.
__ADS_1
"Bukan apa-apa," jawabku.
Keberanian itu sudah pudar dan aku lebih memilih untuk mengungkapnya di lain waktu.
"Yakin?" Kak Darren kembali bertanya.
"Iya." Aku mengangguk dan tersenyum.
Kemudian aku melangkah dan meninggalkannya.Tak lupa kusambar gamis sebelum pergi ke kamar mandi. Aku masih canggung jika ganti baju di hadapannya.
"Sayang," panggil Kak Darren secara tiba-tiba.
"Iya, Kak."
"Manis." Kak Darren berucap sembari mengusap sudut bibirnya.
Oh tidak, dasar lelaki menyebalkan. Senang sekali membuatku tersipu malu. Tanpa menjawab, aku langsung mempercepat langkah dan masuk ke kamar mandi. Namun, baru saja menutup pintu, aku teringat dengan satu hal. Alhasil, aku kembali membukanya dan melangkah keluar.
Mataku membelalak seketika, kala mendapati Kak Darren berjoget di sisi ranjang. Dengan senyuman lebar, ia menirukan gerakan dance ala Korea.
"Berhasil nikah, berhasil nikah, berhasil nikah. Nggak ada Daniel, nggak ada Reza, nggak ada cowok lain. Hanya aku, cuma aku, sekedar aku," racaunya dengan nada yang menyerupai lagu. Gerakannya pun makin energik.
Aku menutup mulut guna menahan tawa yang siap meledak. Namun, belum lama aku menikmati pemandangan itu, Kak Darren menyadari kehadiranku. Ia langsung berhenti dan menggaruk kepalanya. Terlihat malu dan salah tingkah.
"Pernah jadi membernya BTS ya, Kak?" godaku.
"Kenapa keluar lagi, katanya mau mandi," jawab Kak Darren mengalihkan pembicaraan.
Kak Darren tak menyahut, tetapi langsung berjalan mendekat. Ia meraih daguku, ketika tiba di hadapanku.
"Mau lihat dance yang lebih panas, nggak?" bisiknya dengan pandangan yang lekat.
"Ap ... apa sih, Kak. Jangan___"
"Katakan, keluar tadi mau ngapain." Kak Darren benar-benar tahu kelemahanku. Ia paham titik mana yang membuatku tak berkutik.
"Jauhan dikit." Aku mundur sembari melepaskan tangan Kak Darren.
"Kenapa?" tanyanya dengan senyum penuh kemenangan.
"Aku mau bahas soal Mayra," ucapku dengan cepat.
"Besok siang kita besuk dia."
"Besok?"
"Iya. Besuk malem-malem 'kan nggak boleh. Jadi besok aja, kebetulan pas hari Kamis," terang Kak Darren.
Aku diam dan menunduk. Sesungguhnya aku ingin secepatnya bertemu dengan Mayra.
"Ya sudah, nanti malam kita ke sana. Tapi___"
__ADS_1
"Besok aja, Kak," sahutku.
Ucapan Kak Darren benar, pasti gagal berjumpa kalau aku ke sana malam hari. Lagi pula aku dan Kak Darren baru saja menikah. Pasti ia mengharapkan sesuatu yang lain.
"Yakin?"
"Iya." Aku mengangguk.
"Kamu punya nomor orang tuanya, nggak?" tanya Kak Darren yang kemudian kutanggapi dengan gelengan.
"Ya sudah, nanti kita telfon Reza saja. Cari tahu kabar Mayra padanya." Kak Darren mengusap puncak kepalaku.
"Iya. Terima kasih ya, Kak."
"Tidak perlu berterima kasih. Bahagiamu adalah prioritasku, Sayang."
Kecupan mesra mendarat di keningku. Damai dan tenteram rasanya. Lantas aku tersenyum dan kembali masuk ke kamar mandi.
____________
Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 pagi, aku dan Kak Darren bersiap pergi ke kantor polisi. Sebenarnya aku ingin mengajak Dara, tetapi Bu Fatimah bersikeras melarangnya. Katanya agar aku lebih leluasa. Selain itu, beliau tak ingin Dara melihatku menangis. Menurut beliau anak kecil harus bahagia, tak boleh melihat orang sekitarnya sedih, terutama ibunya.
Alhasil aku menurut dan pergi berdua saja dengan Kak Darren. Usai berpamitan, kami meluncur menyusuri jalanan yang mulai padat.
Dalam perjalanan, sesekali aku menggeliat. Seusai melewati malam panjang, rasanya tubuhku sangat penat. Andai bukan karena Mayra, aku lebih rela di rumah dan memanjakan diri dengan rebahan.
Dara masih kecil, butuh perhatian dan kasih sayang yang lebih. Dia juga anakku, aku tidak mau dia terabaikan karena keegoisan.
Sepenggal kalimat yang hingga detik ini membuatku tersenyum sendiri. Betapa mulai perasaan Kak Darren. Ia memikirkan Dara dan rela menunda kehamilan. Aku juga ingat, betap tulus senyum yang diukirnya, ketika aku mengucap kata cinta.
"Ya Allah, hamba sangat bersyukur atas anugerah yang telah Engkau berikan. Kak Darren, semoga bahagia ini selalu ada. Hari ini, esok, lusa, dan selamanya." Aku membatin sembari menatap Kak Darren.
"Kenapa, Sayang?" tanya Kak Darren membuyarkan lamunanku.
"Nggak apa-apa."
"Ingat semalam, ya?" godanya.
"Apaan sih, Kak." Spontan aku langsung membuang pandangan. Menyembunyikan rona merah di wajah. Kak Darren justru tertawa renyah melihat tingkahku.
Setengah jam kemudian, kami tiba di kantor polisi. Kak Darren menghentikan mobilnya di tempat parkir dan kami bergegas turun. Menurut keterangan Reza, hari ini Mayra menjalani pemeriksaan. Aku berharap bisa bertemu dengannya, walau hanya sekejap.
"Jangan sedih. Tidak ada kesulitan tanpa jalan keluar. Mayra pasti bisa." Kak Darren merangkul dan mengusap lenganku.
"Iya, Kak." Aku mengangguk dan berusaha tersenyum, meski sebenarnya hati ini sangat teriris.
Kami terus berjalan dan menemui petugas yang berjaga. Namun, belum sempat Kak Darren mengutarakan maksud kedatangan, mataku menatap dua sosok yang sangat familiar. Mereka berhadapan dengan polisi dan salah seorang tampak diborgol. Apa yang terjadi?
"Kak." Aku berbisik sambil menggoyangkan lengan Kak Darren.
"Dia 'kan___"
__ADS_1
Bersambung...