Noda

Noda
Salah Paham


__ADS_3

"Apa kabar?"


Wanita bergaun biru muda menghampiri Kaivan dan duduk di sebelahnya. Parfum aroma melati yang seharusnya menguar wangi, tercemari aroma rokok yang cukup menyengat. Namun, wanita yang tak lain adalah Nadhea tidak risih sedikit pun. Dia tetap duduk sembari memainkan segelas minuman yang dibawa dari dalam.


"Aku baik, kamu sendiri apa kabar? Kapan tiba?" Kaivan menoleh dan mendapati sosok anggun nan ayu.


Dalam polesan mekap yang natural, juga rambut yang disanggul rapi dengan sedikit bagian yang menjuntai, Nadhea terlihat lebih cantik dari terakhir kali mereka bertemu. Untuk sekian detik, Kaivan sempat terpesona dan tak mengedip. Namun, kemudian ia sadar dan mengalihkan pandangan.


"Sekitar setengah jam yang lalu, dan ... alhamdulillah kabarku juga baik." Nadhea tersenyum manis. Sangat menawan, tetapi sayang Kaivan sudah tak menatap.


"Kenapa menyendiri di sini?" sambung Nadhea sebelum Kaivan membuka suara.


Kaivan tersenyum, lalu mengembuskan asap rokoknya menjauhi Nadhea.


"Di sana gerah, aku ke sini nyari angin," ujarnya.


"Oh. Aku ... baru tahu kalau kamu merokok."


Kaivan menoleh sekilas, kemudian menggapit rokoknya dengan lebih erat. Namun, untuk sekian detik tidak diisap, justru dibiarkan terbakar dengan sendirinya.


"Ini pertama kalinya karena pekerjaan sedang padat. Kata orang, rokok bisa merilekskan pikiran. Jadi, aku nyoba deh." Kaivan menjawab sambil tersenyum masam.


Dia teringat dengan masa lalu—ketika tidak lulus ujian. Dia kacau dan ingin menenangkan diri dengan sesuatu, saat itu pilihannya adalah alkohol. Kini, dia merasakan hal yang sama. Namun, pilihannya tak jatuh pada alkohol, melainkan rokok. Menurutnya, rokok masih lebih baik daripada alkohol.


Nadhea menunduk sembari membatin, "Aku tidak yakin alasanmu merokok karena pekerjaan. Aku malah menganggapmu sedang memikirkan Luna. Kai, seharusnya ini hari pernikahanmu dengannya, kan? Apa itu artinya kamu masih mencintainya?" batin Nadhea.


"Akhir-akhir ini sibuk, ya?" tanya Kaivan. Dalam satu bulan terakhir, mereka memang jarang berhubungan. Telepon Kaivan sering diabaikan, pun dengan pesan, Nadhea selalu lambat membalas.

__ADS_1


"Iya. Aku lagi belajar kerja," jawab Nadhea.


"Mmm, soal perceraian itu gimana? Dia nggak mempersulit kamu, kan?"


"Aku ... nggak cerai." Nadhea menyahut sembari menatap Kaivan. Masalah Arsen memang tidak diceritakan pada siapa pun, termasuk Kaivan. Nadhea tidak ingin aib suaminya terumbar ke mana-mana.


"Nggak cerai?" Kaivan mengernyit heran.


Nadhea menggeleng, "Sebenarnya Mas Arsen udah berpulang."


"Berpulang? Maksudmu meninggal?" tanya Kaivan yang kemudian ditanggapi dengan anggukan.


"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba meninggal? Itu ... kapan kejadiannya?" Saking terkejutnya, Kaivan menghujani Nadhea dengan banyak pertanyaan.


"Sekitar dua bulan yang lalu. Mmm, boleh jangan tanya penyebabnya, nggak?" jawab Nadhea dengan pelan.


Lagi-lagi keheningan yang menjadi pemeran utama. Baik Kaivan maupun Nadhea tidak ada yang membuka suara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Nadhea memikirkan Kaivan yang menurutnya masih mencintai Luna—yang tanpa dipinta membuat hatinya sesak. Sedangkan Kaivan memikirkan apa gerangan yang terjadi pada Arsen. Bungkamnya Nadhea membuat Kaivan banyak menduga.


Tak lama kemudian, Kaivan menoleh dan menatap Nadhea. Wanita itu diam dan menunduk, hanya jemarinya yang sedikit bergerak mengusap gelas minuman.


"Kamu sangat kehilangan, ya?" tanya Kaivan dengan sedikit ragu.


Nadhea mengembuskan napas panjang sebelum menjawab.


"Jangankan orang dekat, tetangga yang agak jauh saja, jika meninggal kita pasti merasa kehilangan," ujarnya.


"Walaupun orang itu pernah menyakitimu?"

__ADS_1


Kali ini Nadhea menoleh dan bertemu pandang dengan Kaivan.


"Iya. Seburuk apa pun sikapnya, nggak menutup kenyataan bahwa dia adalah suamiku. Kecewa, mungkin memang iya. Tapi, bukan berarti benci. Dia orang dekat, tak jauh beda dengan Papa dan Luna."


"Pemikiran yang sangat bijak," ujar Kaivan. Bibirnya tersenyum lebar, tetapi tidak dengan hatinya. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada rasa nyeri ketika mendengar tanggapan Nadhea terhadap Arsen.


"Sebenarnya sikapnya baik, tapi kenapa rasanya nggak nyaman? Sebenarnya masuk akal dia merasa kehilangan, tapi aku nggak rela. Ada apa denganku?" batin Kaivan.


Setelah itu perbincangan keduanya menjadi canggung. Lantas, Kaivan mengajak Nadhea ke tempat jamuan. Nadhea pun tak menolak. Usai menghabiskan minuman, dia beranjak dan melangkah menjajari Kaivan. Akan tetapi, langkahnya tiba-tiba oleng dan nyaris saja terjatuh. Beruntung, Kaivan menangkap pinggangnya dengan sigap.


Di antara embusan angin malam yang makin sejuk, di bawah kerlap-kerlip lampu yang sedikit remang, Kaivan dan Nadhea berpose ala-ala film romansa. Kaivan memeluk pinggang Nadhea dengan erat, sedangkan tangan Nadhea menggenggam lengan Kaivan, dengan erat pula. Tak hanya itu, mata mereka pun saling menatap dan mengunci dalam satu garis lurus. Entah apa saja yang terpikirkan dalam benak masing-masing, hanya Tuhan dan mereka saja yang tahu (bahkan, author pun juga tidak tahu🙃🙃🙃)


"Ehm, sorry, sorry," ujar Nadhea ketika kesadarannya kembali pulih.


"Kamu, nggak apa-apa?" Kaivan mengurai pelukan dan kemudian melangkah mundur. Bukan kesal, melainkan karena jantung yang berdetak cepat. Dia tak ingin Nadhea mendengarnya.


Di sisi lain, Nadhea mengumpat dalam batin. Setelah adegan manis yang membuat hatinya berdesir, kini dia dihadapkan pada adegan yang paling memalukan—high hells-nya patah.


"Kenapa?" tanya Kaivan.


"Aku yang bodoh, tidak bisa melihat mana yang berkualitas." Nadhea mencengkeram high hells tanpa memandang Kaivan—terlalu malu.


"Harusnya aku tidak terkecoh dengan harga murah. Ah, pasti ini barang usang. Pantas saja diskonnya sampai tujuh puluh persen. Duh, harusnya pakai high hells yang lama aja, mungkin lebih terjamin," gerutu Nadhea dalam hati.


"Jangan cemberut, pakai saja punya Athreya. Postur tubuhmu nggak beda jauh dengan dia, pasti ada yang cocok," ucap Kaivan.


"Iya."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2