
"Apa kamu yakin dengan pilihanmu? Bukannya Om tidak menghargai niatmu, melainkan takut jika kenyataan tidak sesuai dengan yang kamu harapkan. Kaivan, putri bungsu Om—Luna, yang memiliki banyak kelebihan saja membuatmu kecewa, apalagi___"
"Apakah sampai saat ini Om masih menganggap yang segalanya itu Luna, sedangkan Nadhea sebaliknya?" pungkas Kaivan.
Terkesan tidak sopan, tetapi Kaivan tak bisa menahan kekesalan. Luna memang cantik dan cerdas. Namun, apa gunanya semua itu jika akhlak nol besar?
Dari sekian banyak kejadian, sudah terbukti bahwa akhlak Nadhea jauh lebih mulia, tetapi mengapa Prawira masih memandang sebelah mata?
"Bagi saya, yang nomor satu itu akhlak, Om. Saya tidak menuntut cantik karena saya pun bukan lelaki tampan. Saya tidak menuntut cerdas karena saya juga berotak payah. Saya pun tidak menuntut status perawan, karena bagi saya, harga diri wanita bukan terletak pada selaput dara, melainkan pada tingkah lakunya," sambung Kaivan sebelum Prawira berhasil membuka suara.
"Kaivan, maafkan Om. Om tidak bermaksud meremehkan Dhea. Tapi ... kamu tahu bagaimana masa lalunya. Om hanya khawatir, kamu tidak bisa menerimanya," ucap Prawira dengan hati-hati.
"Saya tidak pernah mempermasalahkan masa lalu seseorang, Om. Jangankan yang tidak disengaja seperti Nadhea, yang disengaja pun bagi saya bukan masalah. Asalkan mau memperbaiki diri tak apa, manusia memang tempatnya salah dan khilaf.
Sebenarnya, hal ini juga berlaku untuk Luna. Andai dia jujur tentang masa lalunya sejak awal, saya tidak masalah, yakin akan saya maafkan. Pun dengan sikapnya terhadap Nadhea. Saya tidak mempermasalahkan yang telah lalu, hanya menyuruhnya bersikap lebih baik di masa sekarang. Tapi, Luna tidak menurut. Dia tetap bersikap buruk pada Nadhea. Bahkan, dia juga menutupi kesalahan di masa lalu dengan kesalahan yang lebih fatal. Saya tidak bisa menerima kebohongan dan pengkhianatan, Om," terang Kaivan dengan panjang lebar.
__ADS_1
"Om paham maksudmu, Nak. Terima kasih sudah memilih Dhea." Mata Prawira berkaca-kaca.
"Om merestui niat saya?"
Prawira mengangguk dan menepuk bahu Kaivan, "Iya. Om sangat bahagia, ada lelaki sebaik kamu yang bersedia mencintai Dhea. Nak, jika Tuhan mengizinkan kalian ke jenjang pernikahan, tolong jaga dia. Karena kebodohan Om, sejak kecil dia menderita. Tolong jangan melakukan kesalahan yang sama dengan Om ya. Om tidak tega jika dia terluka untuk kesekian kalinya."
"Tidak akan, Om. Saya mencintainya. Selama kehadiran saya masih dihargai, saya janji akan selalu membahagiakan dia," jawab Kaivan dengan sungguh-sungguh.
Prawira tersenyum senang, lalu mengembuskan napas kasar dan kembali bicara serius.
Prawira menatap Kaivan sekilas. Melihat lelaki itu mengangguk dan tidak protes, Prawira mulai mengungkap rahasia Arsen—kejahatan yang menyebabkan hukuman mati, perasaan untuk Nadhea, juga warisan yang digunakan untuk membangun Queen Galery.
"Om yakin yang Dhea cintai itu kamu, tapi Om juga tahu, Dhea tidak akan melupakan Arsen begitu saja. Dhea adalah wanita yang pemaaf, terlebih pada orang terdekatnya. Arsen adalah lelaki yang memedulikannya ketika Om bersikap bodoh. Terlepas dari apa yang pernah diperbuat, tapi di akhir pertemuan, Arsen sangat menyesal. Om bisa melihat jelas, betapa kehilangannya Dhea ketika Arsen membicarakan hukuman mati. Dan lebih kehilangan lagi saat Arsen benar-benar tiada," kata Prawira usai bercerita panjang.
Kaivan tersenyum masam. Bukan karena Nadhea yang kemungkinan besar tak bisa melupakan Arsen, melainkan karena peran penting Arsen dalam hidup Nadhea saat ini. Queen Galery, bisnis yang awalnya ditebak dari Prawira, ternyata dari mantan suami Nadhea. Perlahan Kaivan merasa pesimis, jangankan 50 miliar, 5 miliar saja dia tak punya. Hasil tabungan selama bekerja hanya sebatas sembilan digit. Mobil pun hanya Pajero, bukan Lamborghini seperti milik Arsen sebelumnya. Selain itu, Kaivan tak punya apa pun lagi. Romantic Resto adalah usaha pemberian Darren, itu pun tidak berkembang pesat meski sudah bertahun-tahun didirikan. Dia memang payah dalam hal bisnis.
__ADS_1
"Kaivan, apa kamu mendadak ragu? Kamu tidak bisa terima andai Dhea masih mengingat Arsen?" tanya Prawira.
Kaivan menggeleng cepat, "Bukan begitu, Om. Saya hanya ... minder. Apa yang saya punya, masih sangat jauh dari pemberian Arsen."
Prawira tersenyum lebar, "Dhea tidak pernah memandang harta. Dia sama sepertimu, Nak, menomorsatukan akhlak."
Sebelum Kaivan menjawab, Prawira kembali bicara. Kali ini sambil menutup kotak cincin dan memberikannya kepada Kaivan.
"Jika perasaanmu sungguh-sungguh, jangan lagi memikirkan materi. Lekas maju dan pinang dia!"
"Baik, Om. Terima kasih banyak untuk restunya." Kaivan menjawab sambil meraih kotak cincin.
Lima detik setelah Kaivan menyimpan kotak cincin, Nadhea datang menghampiri mereka, memberitahukan bahwa sarapan sudah siap. Prawira dan Kaivan bergegas menuju meja makan, pun dengan Nadhea, dia mengekor di belakang tanpa curiga dengan apa yang baru saja mereka bahas.
Bersambung...
__ADS_1