Noda

Noda
Aku Akan Egois


__ADS_3

Ruangan Nadhea bukan ruangan luas dengan fasilitas lengkap semacam ruangan direktur perusahaan, melainkan ruangan sederhana yang tidak terlalu luas. Di dalam sana hanya ada dua meja, tiga kursi, dan satu lemari kaca.


Salah satu meja diletakkan di sudut ruangan, terdapat vas bunga, tempat pena, dan beberapa buku yang menumpuk menjadi satu. Di sebelahnya, terdapat lemari kaca yang tidak terlihat jelas apa isinya. Sedangkan meja lain beserta tiga kursi, berada di tengah ruangan, di depan Kaivan saat ini. Di atasnya, terdapat kanvas yang sudah dibentang, lengkap dengan coretan-coretan cat yang berwarna-warni.


"Aku mau menyelesaikan ini. Ada beberapa seniman senior yang kuundang dalam acara besok. Aku mau menunjukkan ini ke mereka, minta saran dan masukan." Nadhea duduk di kursi sembari memandangi karya lukisnya yang setengah jadi. "Selama ini ... belum bisa belajar maksimal. Aku sibuk belajar bisnis, karena tidak mungkin setiap hari Papa membantu di sini. Beliau juga ada tanggungan di Surabaya," sambungnya.


Kaivan menarik kursi dan membawanya ke sebelah Nadhea. Cukup lama dia mengamati lukisan Nadhea, yang sekilas mirip wanita cantik, tetapi juga mirip sayap rajawali. Entah mana yang benar, yang Kaivan pahami hanyalah teknik pembuatannya—teknik aquarel.


"Menurutmu ... ini gambar apa?" Nadhea bertanya sambil menyiapkan kuas dan cat air yang tadi sempat disimpan di dalam laci.


Kaivan berpikir sejenak, "Mirip wanita, tapi juga mirip sayap burung."


Nadhea tersenyum, tanpa menyalahkan atau membenarkan jawaban Kaivan. Dengan sorot mata yang tetap berbinar, Nadhea mulai menyapukan kuasnya ke atas kanvas.


"Aku akan menerima tanggapan apa pun dari mereka, walau itu kritik yang pedas. Aku akan belajar dan terus belajar, sampai lukisanku benar-benar layak dipajang di depan," ujar Nadhea tanpa menghentikan aktivitasnya.


Kaivan tidak langsung menanggapi, justru menilik wajah Nadhea yang seolah larut dalam karya lukisnya. Mungkin, memang benar, itulah dunia Nadhea. Sama seperti dirinya, yang sangat mencintai fotografi.

__ADS_1


"Kamu pasti bisa, Nadhea," kata Kaivan beberapa saat kemudian.


"Tapi, kenapa mepet banget?" Kaivan kembali bertanya karena Nadhea sekadar tersenyum.


Nadhea mengembuskan napas panjang, "Selagi galeri ini masih dibangun, aku masih belajar bisnis. Setelah pembangunan selesai, aku dan Papa masih sibuk cari relasi, menghubungi banyak seniman untuk diajak kerja sama. Habis itu, Papa sakit. Jadi, ya begini, ketunda-tunda terus sampai jatuh tempo."


"Oh. Aku turut senang, akhirnya bisnis Om Wira pulih seperti semula," ucap Kaivan.


Nadhea terpaku, bahkan tangannya yang memegang kuas juga berhenti di awang-awang. Dia kembali ingat dengan asal muasal uang yang digunakan untuk membuka galeri.


"Iya. Berkat bantuan Om Darren," jawab Nadhea, tanpa mengungkap peran Arsen.


Kaivan dan Nadhea terus berbincang. Namun, hanya seputar karya seni, sama sekali tidak menyinggung masalah pribadi, terlebih tentang perasaan.


Akan tetapi, hal itu tak berlangsung lama. Setelah setengah jam lebih menemani Nadhea, Kaivan dilanda kantuk berat. Makin lama, sosok Nadhea makin mengabur, pun dengan suara, makin menjauh dan akhirnya hilang tak terdengar.


Setelah menyadari hal itu, Nadhea beranjak dan mengambil jaket yang ia simpan di lemari. Lantas, menutupkannya ke tubuh Kaivan. Kemudian, Nadhea kembali pada aktivitas awal.

__ADS_1


"Kaivan, untuk kali ini ... aku akan egois," batin Nadhea sembari menatap Kaivan.


Niat hati hanya menatap sekilas, tetapi ternyata cukup lama. Pandangan matanya sulit dialihkan dari pesona Kaivan yang sedang terlelap. Embusan napas yang teratur dan tenang, menambah kadar ketampanan yang jauh di atas rata-rata. Ah, andai saja!


_________________


"Kai! Kai!"


Kaivan menggeliat pelan ketika mendengar namanya dipanggil, juga merasakan genggaman hangat di lengan kanannya. Meski alam mimpi sayang 'tuk ditinggalkan, tetapi Kaivan terpaksa membuka mata, mencari tahu siapa gerangan yang mengusik ketenangannya.


Kaivan mengerjap sambil menguap. Lantas, memindai objek yang di hadapannya, ternyata ada bidadari tak bersayap yang sedang memamerkan senyum menawan.


"Hei, bangun!"


Kaivan membuka mata dengan sempurna, lalu mengumpulkan kembali kesadarannya. Kini, dia tahu, bukan bidadari yang menyambut, melainkan Nadhea. Sebelum menyapa wanita itu, pandangan Kaivan mengarah ke atas meja. Detik itu juga, ludahnya sulit untuk ditelan. Lagi-lagi, dia dikejutkan oleh suatu hal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2