Noda

Noda
Malaikat Penolong


__ADS_3

"Mayra," gumamku dengan pelan.


Bergemuruh dadaku saat melihat Mayra menyerahkan pistol pada Amanda. Ia tersenyum dan mengangguk patuh, seolah Amanda adalah atasan yang patut dihormati. Tak lama kemudian Mayra menatapku. Bibirnya mengukir senyum miring dan mata pula memicing, seakan diri ini adalah sesuatu yang amat dibenci.


"Sorry, Ra, aku nggak punya pilihan. Makin ke sini ... kamu nggak membuatku lebih baik, tapi justru membuatku lebih hancur. Sekarang ... aku butuh pijakan untuk keluar dari masalah. Aku pasti melakukan apa pun demi pijakan itu karena sudah lelah berdiam diri di poisi bawah. Jadi ... ketika Nona Amanda memintamu sebagai syarat, aku nggak berpikir panjang, Ra. Hidupku jauh lebih penting daripada sahabat gak guna sepertimu," kata Mayra.


Aku menunduk sembari menggigit bibir. Sakitnya sayatan pisau di kulit tak sesakit hatiku. Remuk redam, hancur berantakan, sahabat yang sangat kupercaya, yang dengannya aku menumpahkan kasih layaknya keluarga. Kini berhianat! Ia mengorbankan nyawaku demi kepentingannya sendiri.


"Ya Allah, Engkau yang Maha Agung. Engkau-lah pemilik kehidupan dan kematian. Hamba mohon, jangan jemput hamba dengan cara yang hina. Lindungilah hamba dan anak hamba, Ya Allah." Aku membatin sembari memejam.


Dalam saat-saat seperti ini, hanya Tuhan yang aku punya. Kendati banyak keluarga, tetapi tak ada satu pun yang tahu di mana aku sekarang.


"Kirana!"


Aku kembali membuka mata kala mendengar teriakan Amanda. Kulirik lewat celah-celah rambut, ia sedang beranjak dari duduknya dan menatapku dengan tajam. Ia tersenyum penuh kemenangan, raut kepuasan tergambar jelas di wajahnya.


"Detik ini juga, aku akan mengirimmu ke neraka!" Amanda membentak sambil menodongkan pistol ke arahku. Senyumannya makin lebar seiring jemari yang siap menarik pelatuk.


Aku berpaling sambil memejam. Tak henti-hentinya kusebut nama Tuhan, berharap ada keajaiban yang datang. Tak terasa air mataku merembas keluar, membayangkan seandainya hidupku benar-benar berakhir detik ini. Siapa yang akan menjaga Dara?


Selagi pikiranku masih berkecamuk, ledakan senjata api terdengar memekakkan telinga. Namun, satu hal yang membuatku terheran, tak ada rasa sakit ataupun panas di sekujur tubuh, selain sayatan di wajah. Mengapa bisa? Padahal lubang pistol itu jelas-jelas mengarah di dadaku.

__ADS_1


"Jangan bergerak!"


Aku tersentak dan spontan menoleh ke sumber suara. Mencari tahu siapa gerangan lelaki yang berteriak. Laksana gurun tandus yang diguyur hujan deras. Aku seakan hidup kembali kala menatap tiga polisi sedang menodongkan pistol ke arah Amanda dan Mayra. Dua wanita itu pucat pasi, senjata yang tadi sempat digenggam kini tergeletak begitu saja di lantai.


"Terima kasih, Ya Allah," ucapku dalam hati.


"Tangkap mereka!" bentak seorang polisi yang paling gagah.


Lantas kedua rekannya menangkap Mayra dan Amanda, membekuk dan kemudian melingkarkan borgol di tangan mereka. Amanda dan Mayra berteriak histeris, tetapi ketiga polisi itu tak acuh, sekadar menatap tajam. Seakan hendak mematikan lawan lewat pandangan.


Ketika aku masih menatap mereka, tiba-tiba derap langkah cepat menghampiri kami. Aku menolah dan mendapati Kak Darren sedang berlari ke arahku. Di belakangnya ada Reza, ia pun turut mendekat.


"Kak," panggilku dengan gemetaran.


"Aku akan membuat perhitungan untukmu, Ra," kata Reza dengan tegas. Lantas ia menjauhiku dan menghampiri Mayra.


Kutatap langkah Reza yang makin mendekati Mayra, yang selalu mundur dan seakan sengaja menghindari Reza. Dengan gerakan cepat Reza menampar wajah Mayra, hingga terhuyung dan nyaris terjatuh.


"Biadab kamu, Mayra!" teriak Reza. "Aku sudah berbaik hati sama kamu, tapi kamu malah mencelakai nyawa Kirana. Kamu seperti iblis, Mayra!"


"Kamu___"

__ADS_1


"Diam!" Reza kembali melayangkan tangannya, tetapi ditahan oleh salah seorang polisi.


"Jangan main hakim sendiri. Kita selesaikan ini di pengadilan," kata polisi.


Reza tampak geram, tetapi menuruti kata-kata polisi. Ia tak mengambil tindakan, sekadar tatapannya yang kulihat nyalang.


Saat aku masih menatap Reza, kurasakan pelukan hangat mendekap tubuhku. Mengelus rambut yang masih basah dan mengusap sayatan luka yang menodai wajah.


"Sayang, apakah Amanda yang melakukan ini?" tanya Kak Darren. Suaranya gemetaran dan matanya pun berkaca-kaca.


Sebelum menjawab, terlebih dahulu kuangkat jemariku dan kugenggam tangan Kak Darren yang masih menempel di pipi. Kutatap netranya yang makin lama makin memburam, bahkan kini buliran bening mulai berjatuhan dan membasahi wajahnya.


"Dara, Kak," jawabku sedikit menyimpang dari pertanyaan. Saat ini yang paling penting memang Dara. Biarlah aku terluka, asalkan Dara segera kutemukan dalam keadaan baik-baik saja.


Sebelum Kak Darren menjawab, salah seorang polisi menghampiri kami. Menanyakan keadaanku dan juga meminta penjelasan tentang kronologi kejadian. Aku menjelaskannya dengan cepat, bagaimana Mayra bertandang ke rumah dan mengajakku bertamu ke rumah Mala, lantas aku pingsan dan tersadar dalam keadaan terikat.


Usai menjelaskan, aku langsung bicara tentang Dara. Kukatakan kepada mereka bahwa Dara tak ada sejak aku tersadar. Lalu salah seorang polisi mengiterogasi Amanda dan Mayra.


"Cepat katakan di mana anak korban!" bentak polisi karena Amanda dan Mayra tak kunjung memberikan penjelasan.


Bersambung....

__ADS_1


Kamu kejam, Thor!!!


Enggak, aku tetap cantik.


__ADS_2