Noda

Noda
Terbang Ke Lombok


__ADS_3

[Gimana kalau minggu depan? Mumpung masih libur.]


Pesan singkat yang dikirimkan oleh Nakula—senior dalam grup pecinta alam. Sebuah pesan yang membuat Kaivan amat senang. Bagaimana tidak, dia sudah lama menantikan hari itu—mendaki Gunung Rinjani dan mengabadikan keindahannya.


[Aku oke, Kak. Yang lain gimana?]


[Barusan udah kuhubungi, tapi belum ada yang bales. Mungkin masih sibuk]


Usai membaca balasan dari Nakula, Kaivan bergegas menghubungi Kennan dan Elbi. Mereka adalah sahabat dekat Kaivan. Selain sama-sama pecinta alam, ketiganya kuliah di universitas yang sama dan mengambil jurusan yang sama pula.


Senyuman Kaivan makin mengembang lebar ketika Kennan dan Elbi sudah membalas pesannya. Mereka juga setuju dengan rencana Nakula.


"Ada apa, Kai?" tanya Kirana. Sedari tadi dia memperhatikan gerak-gerik Kaivan.


Kaivan mendongak dan menatap orang tuanya, "Sepertinya minggu depan aku akan ke Lombok."


"Jadi mendaki Rinjani?" timpal Darren.


"Iya, Pa." Kaivan mengangguk.


"Persiapkan dengan matang, Kai, karena lokasinya sangat jauh. Papa nggak bisa ikut ke sana, hanya bisa mendukung dan mendoakan," kata Darren.


"Iya, Pa. Terima kasih sudah diberi izin," jawab Kaivan.


"Nanti bawain oleh-oleh ya, Kak!" celetuk Athreya dengan nada manja.


"Baju lagi?" tanya Kaivan. Selama ini, Athreya selalu memesan baju setiap kali Kaivan travelling ke tempat wisata.


"Ditambah tas juga boleh." Athreya tersenyum lebar.


"Kasihan Kak Kai, Reya. Setiap kali pergi kamu palakin oleh-oleh," timpal Reyvan.


"Dikit doang," sanggah Athreya.

__ADS_1


"Dikit-dikit lama-lama jadi banyak," jawab Reyvan.


"Nggak apa-apa, Rey. Kamu juga kalau mau boleh kok pesen. Rinjani ini kan tempat impian aku, rencananya aku beli banyak oleh-oleh dari sana. Buat Bunda dan Papa juga. Aku udah nabung sejak jauh-jauh hari untuk ini." Kaivan kembali menyimpan ponselnya dan menyesap minuman yang tinggal setengah.


Mendengar rencana Kaivan, Kirana dan Darren tersenyum lebar, pun dengan Reyvan.


"Mmm, kalau gitu aku juga mau pesen deh," ucap Reyvan.


"Tadi aja mojokin aku, sekarang ikut-ikutan pesen. Jangan dikasih, Kak Kai!" sahut Athreya.


"Jangan sembarangan! Aku pesennya bukan barang yang pakai duit." Reyvan bicara sambil menatap Athreya sekilas.


"Maksud kamu?" Kali ini, Kaivan yang bertanya.


Reyvan terkekeh-kekeh, "Mau pesen kakak ipar."


Mendengar jawaban Reyvan, semua mata langsung tertuju padanya. Darren, Kirana, dan Athreya mengeryit heran karena tidak mengerti dengan maksudnya. Sementara Kaivan, dia melemparkan tatapan tajam sambil menginjak kaki Reyvan.


Kaivan tak menjawab, sekadar memutar bola mata sambil melipat tangan di dada. Tak lama kemudian, Kirana menanyakan hal tersebut dan Reyvan menjelaskannya dengan gamblang. Dia mengungkap bahwa Kaivan sering mendapat ungkapan cinta dari banyak gadis. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang diterima, termasuk Alma—teman Reyvan. Selama ini, Kaivan belum membuka hati untuk lawan jenis. Dia masih fokus dengan pendidikan dan cita-citanya.


"Kali aja, Bunda, jodohnya Kak Kai cewek sana, soalnya di sini nggak ada yang nyantol," ujar Reyvan usai bercerita.


"Bukannya nggak nyantol, Bunda, cuma sadar diri. Aku aja belum bener masa udah masih main cinta-cintaan. Lagian juga belum dewasa. Iya, kan, Bunda?" kata Kaivan ketika Darren dan Kirana menatapnya.


"Betul, Bunda sangat setuju dengan pendapat kamu. Sekolah dulu yang bener, nggak usah macem-macem, apalagi pacaran yang sampe kebablas," jawab Kirana.


"Jangan sampai melakukan kesalahan seperti Bunda," sambung Kirana dalam hatinya.


"Tuh, dengerin Bunda, Rey. Sekolah dulu, jangan pacaran! Coba jelasin, kamu udah berapa tahun jalan sama doi." Kaivan tersenyum lebar.


"Kamu punya pacar, Rey?" Kirana menatap tajam.


"Nggak ada, Bunda. Kak Kai aja yang ngawur. Yang sering urusan sama cewek itu dia, malah aku yang dituduh," sungut Reyvan.

__ADS_1


Mereka semua tertawa dan melanjutkan perbincangan dengan hangat. Melukiskan hubungan keluarga yang harmonis.


_________________________


Siang dan malam yang silih berganti, mengantar Kaivan pada hari yang dinanti-nanti. Setelah menunggu selama satu minggu, akhirnya impian dapat terlaksanakan. Hari ini, dia akan terbang ke Nusa Tenggara Barat. Sejak subuh, Kirana membantu Kaivan menyiapkan barang bawaan. Mulai dari sepatu gunung, tenda lipat, kompas, baju, dan barang-barang yang lain.


Pukul 05.00 pagi, Darren dan Kirana mengantarkan Kaivan ke bandara. Ternyata, kawan-kawannya sudah menunggu. Mereka sengaja memilih penerbangan yang paling pagi agar segera tiba di sana. Karena kata Nakula, dia ingin keliling di pusat kota sambil menikmati kuliner, sebelum mendaki gunung esok hari. Sementara jarak antara Malang dan Lombok cukup jauh, sekitar 7 jam penerbangan.


Sebelum memasuki burung besi, Kaivan berpamitan pada orang tuanya. Kirana sempat berkaca-kaca karena ini adalah pertama kalinya melepas Kaivan untuk jarak yang jauh. Sebelumnya, hanya di kota sekitar.


Darren dan Kirana masih terdiam di tempat semula sambil menunggu pesawat lepas landas. Darren memeluk istrinya dengan erat sambil mencium puncak kepalanya sekilas.


"Sebentar lagi kita juga berjauhan dengan Athreya. Kamu harus kuat, Sayang," bisik Darren.


"Iya. Cuma ya gitu, nggak nyaman rasanya." Kirana menjawab sambil mengusap setitik air mata yang hampir lolos.


Berjauhan dengan anak-anaknya bukanlah hal yang mudah bagi Kirana. Sebagai seorang ibu, dia ingin senantiasa berdampingan dengan anak-anaknya. Namun, dia juga sadar bahwa mereka telah beranjak dewasa. Banyak hal yang harus mereka kejar. Detik ini, masih sebatas pendidikan, tetapi suatu saat nanti akan terlibat pernikahan. Besar kemungkinan, mereka akan berjauhan dalam jangka waktu yang lama. Kirana tidak mungkin menahan mereka dengan egois, harus menerima dan mempersiapkannya dari sekarang.


"Aku pasti bisa," batin Kirana.


Setelah pesawat yang membawa Kaivan lepas landas, Darren dan Kirana kembali pulang. Di rumah, Kirana mencari kesibukan untuk menenangkan hatinya, sembari menunggu kabar dari Kaivan. Putranya sudah berjanji akan segera menelepon ketika mendarat di Lombok International Airport.


Akan tetapi, sampai jarum jam menunjukkan pukul setengah dua siang, Kaivan tak jua menelepon. Padahal, seharusnya sudah mendarat sejak setengah jam yang lalu. Kirana mulai gusar. Meski tangannya sibuk mengupas apel, tetapi pikirannya hanya tertuju pada Kaivan. Sampai akhirnya, dia tersentak karena teriakan Athreya.


"Bunda! Bunda!"


Kirana beranjak dan dengan langkah cepat menghampiri Athreya, yang kala itu sedang ada di ruang tengah. Sesampainya di sana, Kirana mendapati anaknya sedang berdiri terpaku di depan televisi.


"Bunda, ini pesawat yang ditumpangi Kak Kai, kan, Bunda?"


Kendati suara Athreya sangat lirih, tetapi Kirana dapat mendengarnya dengan jelas. Lantas, dia berpaling ke arah televisi dan detik itu juga dunianya seakan berhenti berputar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2