Noda

Noda
Ungkapan Rasa


__ADS_3

Embusan napas yang saling bersahutan, menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan. Makan malam telah usai, meja kembali bersih seperti sedia kala. Bibi mencuci peralatan yang kotor di dapur, sedangkan Bu Fatimah, beliau menenangkan Dara dan mengantarnya ke alam lena.


Saat ini, hanya ada aku dan Kak Darren yang duduk di ruang makan. Kami saling diam sambil memainkan gelas minuman yang ada dalam genggaman. Entah mengapa dia tak membuka suara. Mungkinkah dia merasa canggung seperti diriku?


"Kirana," panggil Kak Darren, memecah kesunyian.


"Iya, Kak." Kutatap dia sekilas. Namun, dia sama sekali tak memandang ke arahku. Wajahnya menunduk, seolah ada beban yang mengganggu.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Kak Darren dengan nada berat.


"A ... aku, aku tidak ... mmm___" Aku terbata dan gagal menjawab pertanyaannya. Banyak hal yang aku pikirkan, tapi aku tidak tahu mana yang harus kusebutkan.


"Bagaimana penilaianmu ... tentang diriku?" tanya Kak Darren, yang sontak saja membuatku terkesiap.


Kugaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Lagi-lagi aku dihadapkan pada pertanyaan yang rumit. Harus bagaimana aku menjawabnya?


Hal pertama yang paling tepat untuk mendefinisikan dirinya adalah 'tampan', tapi tidak mungkin aku menjawabnya dengan kata itu.


"Apa menurutmu aku orang baik, atau ... mungkin kau menganggap sebaliknya?" Kak Darren menatapku dengan lekat, dan tindakannya ini membuatku menunduk seketika.


"Tentu saja kamu orang baik, Kak. Dari awal kita saling mengenal, aku tidak melihat sisi buruk dalam dirimu," jawabku. "Hanya saja sikapmu terkadang aneh," sambungku dalam hati.


"Kamu salah." Kak Darren berkata sambil mengalihkan pandangan. Kini, netranya menatap datar ke depan.


"Salah?" Kuulangi ucapannya.


"Aku sangat buruk dan hina. Bahkan saking hinanya, sampai-sampai aku merasa tak pantas memiliki cinta untukmu," jawab Kak Darren.


Apa maksudnya?

__ADS_1


Bicara soal hina, aku adalah seseorang yang sangat pantas menyemat kata itu. Lantas mengapa Kak Darren menyebut dirinya hina? Memang seperti apa masa lalunya? Dan lagi, dia juga menyebut kata cinta. Apakah rasa itu memang ada dalam hatinya?


Aku menghela napas panjang, "jangan bicara tentang hal hina, Kak. Aku yakin kamu sudah tahu tentang diriku."


"Aku jauh lebih buruk darimu," gumam Kak Darren, sangat pelan.


Kutilik wajahnya yang kini menunduk sendu. Dalam hati aku mencoba menerka, apa gerangan yang terjadi padanya?


Tarikan napasnya terdengar berat, seakan-akan ada tekanan yang menyesakkan dadanya.


"Lelaki seperti Kak Darren, Mungkinkah ia juga mengalami kesulitan?" Aku membatin sambil tetap menatapnya.


"Sejak pertama kali melihatmu di kampus, aku sudah menempatkanmu dalam ruang rindu. Seiring berjalannya waktu, kita saling mengenal, dan selama itu pula aku semakin sadar, jika benih cinta itu mulai ada. Aku bukan lelaki yang jantan, yang begitu mudahnya mengungkapkan perasaan pada seorang gadis. Dalam hal ini ... aku sangat pesimis, terlebih lagi saat melihat keseriusanmu dalam menempa pendidikan. Aku tak ingin mengganggumu. Namun ... ketidak beranian itu, menjadi kesalahan terfatal dalam hidupku. Rela tidak rela, keadaan memaksaku melihatmu tersenyum bersama cinta yang lain," terang Kak Darren.


Kugigit bibirku dengan kuat. Ada rasa sesak yang menghimpit rongga napas, saat mendengar pengakuan Kak Darren. Dia mencintaiku sejak lama, dan aku sama sekali tak menyadarinya. Mengapa aku sekejam itu?


"Kala itu aku sangat marah. Daniel Non Muslim, apa yang kamu harapkan darinya? Hubungan di atas perbedaan, lebih sering berujung luka, karena keyakinan bukanlah sesuatu yang mudah untuk ditentang. Aku kesal, kenapa kamu tidak berpikir sejauh itu? Kenapa kamu tidak sadar dengan perhatian dan perasaan yang kuberikan? Tapi ... aku tidak bisa berbuat banyak, karena aku tidak punya hak atas dirimu." Kak Darren semakin menunduk dan genggaman di gelasnya pun semakin mengerat.


Aku terluka, menyadari hubunganmu dengan Daniel yang semakin erat. Aku kecewa, dan kekecewaan itu mengantarku pada titik yang salah. Maaf, bukan maksudku menyalahkanmu, semua ini terjadi karena imanku yang lemah. Aku menjelaskannya, karena aku sudah bicara banyak hal waktu kita bertemu di restoran. Aku ingin meluruskan saja," sambung Kak Darren, masih dengan kalimat panjang.


Kutarik napas dalam-dalam dan kuembuskan perlahan. Kini aku paham, mengapa waktu itu Kak Darren melontarkan kata frustrasi. Aku yang sudah mengecewakan dia, aku yang telah mematahkan hatinya. Tunggu ... patah hati. Mendadak aku teringat dengan sajak yang kuterima beberapa hari lalu. Mungkinkah seseorang yang mengirimkan sajak itu adalah Kak Darren?


"Sekian lama aku berusaha menghapus perasaan ini, namun gagal." Kak Darren menggeleng sambil tersenyum getir. "Kirana, jika aku mengajakmu menikah, apa kamu mau?" sambungnya.


Kak Darren beralih menatapku, dan kini pandangan kami saling beradu. Hatiku kian berdebar, dan aliran darahku pun ikut memanas ketika mendengar pertanyaannya yang diluar dugaan.


"Aku___"


"Atau kau menolakku?" pungkas Kak Darren dengan intonasi yang sedikit tinggi.

__ADS_1


"Mmmm aku___"


"Aku tidak masalah jika kamu menolak. Aku sadar diri, Kirana, aku terlalu hina untukmu." Kak Darren membuang pandangan. Ia memijit pelipisnya yang berkeringat.


"Jangan salah paham, aku tidak menolakmu," sahutku, juga dengan intonasi tinggi.


"Jadi kamu menerimaku? Kamu mau menikah denganku?" tanya Kak Darren yang lantas membuatku gelagapan. Pandangan kami kembali beradu, dan hal itu membuatku semakin gugup.


"Mmm maksudku juga bukan begitu. Tolong tenanglah dan biarkan aku bicara." Kuteguk sisa minuman hingga tandas. Tenggorakanku mendadak kering setelah mendengar ungkapan perasaan.


Kak Darren tersenyum sambil mengangguk, sebagai isyarat bahwa dia memberiku waktu untuk bicara.


"Aku tidak mempermasalahkan hal apapun yang pernah kau buat, selama itu tidak berlanjut sampai saat ini. Kita hidup di zaman sekarang, bukan di masa lalu. Jadi, biarkan masa lalu menjadi pelajaran untuk menyongsong masa depan. Aku yakin kau tahu apa yang terjadi dengan diriku. Kendati sekarang aku bernaung di bawah hijab, tapi masa laluku masih tetap sama. Aku tetap Kirana yang dulu, Kirana yang pernah terhina dalam kubang dosa," terangku dengan panjang lebar.


Kulihat Kak Darren tetap bergeming, lalu aku kembali melanjutkan kalimatku.


"Kak, pernikahan bukanlah permainan. Harapanku, jangan ada pernikahan kedua, apalagi ketiga. Cukup sekali saja aku duduk di depan penghulu dan bersaksi dengan kalimat suci. Cukup satu suami, seumur hidupku. Untuk itu, aku perlu berpikir dengan matang," sambungku, kali ini sambil menunduk.


"Jika masa laluku bukan masalah, lantas apa yang membuatmu mengganjal?" tanya Kak Darren.


"Ini ... ini tentang rasa," jawabku dengan pelan dan hati-hati. Aku takut ucapanku menyinggung perasaan Kak Darren.


"Aku sadar, aku bukan lelaki yang romantis, yang pandai merangkai diksi atau puisi. Aku payah dalam kata, aku tak bisa merayu dengan sajak-sajak yang mendayu. Tapi, aku punya cinta, yang kuyakini tidak lebih kecil dari milik Daniel. Dengan caraku sendiri, aku akan membuatmu bahagia dan ... membuatmu jatuh cinta," kata Darren lengkap dengan senyuman lebar, yang kemanisannya di atas rata-rata.


Aku semakin menunduk, menyembunyikan rasa hangat yang mulai menjalar di wajah. Ahh, ada apa dengan diriku?


"Namun ... sebelum menjawab iya atau tidak, aku ingin bertanya satu hal, Kirana. Benarkah kamu tidak mempermasalahkan masa laluku?" tanya Kak Darren. Gurat kecemasan tampak jelas di wajahnya.


Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, dia terlebih dahulu membuka suara.

__ADS_1


"Aku pernah___" Kak Darren menggantungkan kalimatnya dan menatapku tanpa kedip.


Bersambung...


__ADS_2