
Di tengah bising kota yang seakan enggan mereda meski malam menyapa, seorang wanita duduk sendiri di depan cermin, di dalam kamarnya. Di sebuah rumah megah yang berdiri kokoh di pusat Kota Bandung, wanita yang bernama Nadhea terpaksa memupus harapannya. Rangkain angan dan barisan mimpi yang sekian lama dirajut perlahan, satu per satu berserakan dan menghilang dari pandangan. Hanya berpegang pada setitik cahaya, dia terus bertahan sambil berusaha mencari jalan keluar.
Akan tetapi, ujian yang bertubi-tubi pelan-pelan merapuhkan hati dan jiwanya. Tak jarang dia merasa kosong dan hilang arah, merenung dan meratap, bahkan juga berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Hanya keyakinan akan kuasa Tuhan yang membuatnya tetap berdiri hingga saat ini.
Ketika Nadhea masih menatap datar, tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar, ternyata pelayan yang datang. Nadhea tak menoleh, apalagi tersenyum atau menyapa. Dia sekadar diam seolah tak ada seorang pun yang datang.
Sembari menatap iba, pelayan berjalan menghampiri Nadhea, menyentuh pundaknya dan mengusapnya perlahan.
"Non, Tuan sudah dalam perjalanan pulang." Pelayan berucap lirih.
Nadhea menanggapinya dengan anggukan pelan.
Pelayan tak langsung pergi. Dia terpaku sejenak sambil menilik wajah Nadhea yang jauh dari kata ceria. Sebenarnya, pelayan merasa kasihan. Namun, dia sekadar orang lemah, mana bisa menolong majikannya. Hanya mendoakan yang bisa dia lakukan.
"Pergilah, Bi!" perintah Nadhea saat melihat pelayan terus menatapnya.
"Ba-baik, Non."
__ADS_1
Entah ikhlas atau tidak, tetapi yang jelas pelayan itu langsung pergi. Usai mendengar pintu ditutup, Nadhea menggigit bibir sambil menatap bayangannya di cermin, sangat jauh berbeda dengan tiga bulan yang lalu.
Rambut lurus panjang yang dulu dia banggakan, kini kusut dan tak terawat. Wajah putih mulus yang tampak manis walau tanpa mekap, sekarang terlihat cekung dan dihiasi lebam. Tubuh sintalnya pula ikut berubah, kini lebih kurus serta banyak lebam dan memar.
Perlahan, air mata Nadhea menetes. Entah sudah keberapa kalinya dia menangis hari ini. Andai saja air mata buatan manusia, mungkin persediaannya sudah habis sejak beberapa waktu lalu.
"Mengapa hidupku tak pernah dihargai?" Satu pertanyaan yang sering terlontar dalam batinnya.
Dengan tetap menangis, Nadhea menunduk, menatap jemari yang saling bertautan di atas pangkuan. Mata buramnya menatap lengan yang dipenuhi warna hitam kebiruan. Rasanya sakit bila digerakkan, tetapi siapa yang peduli?
Setelah puas menangis, Nadhea mendongak dan menyeka air matanya. Lantas mengambil bedak dan mengoleskannya di wajah. Lebam di sudut bibir sedikit tertutup, tetapi tak mengurangi rasa sakitnya. Lalu, dia menyisir rambut dan menguncirnya ke belakang. Kemudian, bangkit dan berjalan tertatih menuju lemari.
"Entah apa lagi yang akan kutemui malam ini," batin Nadhea sambil menutup wajahnya.
_______________
Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 malam, Kaivan melangkah menuju parkiran dan siap meninggalkan lokasi pernikahan. Hari ini pekerjaannya cukup melelahkan. Dia sudah tak sabar untuk pulang dan merebahkan diri di ranjang.
__ADS_1
"Sampai ketemu besok, Kai," ujar Kennan sambil menepuk bahu Kaivan. Lantas, dia masuk ke mobil dan meluncur terlebih dahulu.
Kebetulan, mobil Kaivan ada di paling ujung. Jadi, dia masih berjalan ketika Kennan dan kawan lainnya sudah mengendarai mobil masing-masing.
Setelah sampai di samping mobil, Kaivan bergegas membuka pintu. Namun, gerakannya terhenti ketika mendengar satu suara.
"Kaivan Diratama Alshaki, calon suami Aluna Aldamaya!"
Kaivan menoleh dan mendapati sosok lelaki dengan perawakan tinggi dan tegap berdiri di belakangnya. Kaivan mengernyit. Pasalnya, dia tidak mengenali lelaki itu. Terlebih lagi, menemuinya pada tengah malam. Ada apa gerangan?
"Siapa Anda?" tanya Kaivan.
Lelaki itu tersenyum miring sambil menatap Kaivan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dari ekspresinya, dia seolah menyusun rencana yang tidak baik.
"Apa kita saling mengenal?" Kaivan kembali bertanya.
Lelaki itu tidak menjawab, tetapi melakukan gerakan yang tak terduga.
__ADS_1
Bersambung....