
Ini sisa uang yang Daniel kirimkan kepada saya, sebagian sudah saya pakai untuk membantu Kirana, atas nama saya.
Bagus, kamu memang bisa diandalkan. Tidak sia-sia aku membayarmu dengan mahal.
Aku tersentak kaget mendengar perbincangan Reza dengan seorang wanita, yang kuyakini adalah ibunya Daniel.
Tanpa sadar, kue yang kubawa terlepas dari genggaman. Kue itu jatuh ke lantai dan menimbulkan suara yang cukup nyaring.
Mataku berkaca-kaca, meratapi kenyataan pahit yang selama ini tak pernah kubayangkan. Reza, lelaki yang kuanggap baik dan tulus, ternyata hanya orang suruhan. Dia melakukan itu hanya karena uang.
Ingatanku kembali ke waktu lalu, saat Daniel datang menemuiku. Berulang kali dia bicara tentang tanggung jawab, dan ternyata itu memang benar adanya. Hanya saja Daniel tidak tahu, jika orang yang dia percaya adalah pengkhianat.
"Kirana! Kamu ... kamu kenapa ada di sini?"
Terlalu larut dalam lamunan, aku sampai tidak sadar jika pintu ruangan sudah terbuka lebar. Reza berdiri di hadapanku, sedangkan ibunya Daniel, beliau masih berdiri di dalam ruangan. Beliau tak mengucapkan sepatah kata, tapi dari sorot matanya, aku menangkap kebencian yang cukup besar.
"Kirana, ini ... ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa menjelaskannya, tolong ... tolong jangan salah paham!" Reza berusaha meraih kedua pundakku, namun aku menepisnya dengan cepat.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Za, semuanya sudah jelas. Terima kasih untuk kehadiran kamu, aku tidak akan pernah melupakannya," ucapku dengan tegas.
"Ra, aku___"
"Diam! Kamu benar-benar jahat, Za!" bentakku diiringi tetesan air mata.
"Jangan menyalahkan Reza, Kirana! Belajarlah intropeksi diri. Lelaki mana yang mau mencintai wanita yang hamil diluar nikah. Menjaga harga diri saja tidak bisa, apalagi menjaga martabat rumah tangga. Maaf, kalau sikap saya membuatmu marah. Saya terpaksa melakukan ini, agar Daniel berhenti mencintaimu!"
Tanpa memberikan jawaban, aku langsung berlari meninggalkan mereka. Dada ini semakin sesak mendengar kalimat yang dilontarkan oleh ibunya Daniel. Sehina itukah diriku?
"Kirana! Tunggu, Kirana! Kirana!"
Aku tak peduli, meskipun Reza terus berteriak memanggilku. Aku malah mempercepat langkah dan bergegas masuk ke rumah. Kututup pintunya rapat-rapat, kukunci agar Reza tak bisa menemuiku.
"Kirana, buka pintunya, Kirana! Dengarkan penjelasan aku, ini tidak seperti yang kamu kira!"
__ADS_1
Kututup kedua telingaku dengan telapak tangan, namun suara Reza dan suara ketukan pintu masih terdengar samar-samar. Aku duduk di lantai sambil menumpahkan air mata, aku telah salah menilai keadaan. Dia yang baik di depan mata, ternyata seorang penikam yang kejam. Sedangkan dia yang kuanggap jahat, ternyata masih bertahan dengan perasaan yang sama.
"Daniel masih mencintaiku," ucapku dalam hati.
Aku menunduk, menyembunyikan wajah di antara kedua lutut. Apakah ini alasannya, mengapa hatiku tak bisa melupakan dia. Karena sesungguhnya, hati kami masih terpaut dengan sebuah rasa yang disebut cinta.
"Kirana, buka pintunya, Kirana!" Reza masih terus berteriak.
"Maaf, aku memang salah. Awalnya aku melakukan ini hanya karena uang, tapi sekarang tidak, Kirana. Sekarang aku benar-benar mencintaimu, tolong buka pintunya! Tolong dengarkan penjelasan aku!" Reza masih tak menyerah.
"Buka atau aku dobrak, Kirana!" teriak Reza yang lantas membuatku tersentak.
Aku menghela napas panjang, sebelum menjawab teriakan Daniel.
"Kirana!"
"Saat ini aku masih butuh waktu untuk sendiri, Za. Jika kamu ingin menjelaskan, temui aku nanti malam. Aku akan diam dan mendengarkan semua pengakuanmu," ucapku dengan gemetaran.
"Za, tolong mengertilah. Aku tidak akan bisa memahami penjelasanmu, jika pikiranku tidak tenang. Tolong biarkan aku menenangkan diri, sebentar saja," sahutku mencoba meyakinkan Reza.
"Baiklah, tapi jangan nanti malam. Aku akan menemuimu nanti sore," jawab Reza.
"Baiklah, kita bertemu nanti sore. Sekarang pergilah, aku ingin sendiri," ujarku dengan pelan, namun aku yakin Reza mendengarnya.
Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung melenggang ke dalam kamar. Aku melangkah menuju jendela dan mengintip Reza yang masih berdiri di depan pintu. Dia mengusap wajahnya, lantas membalikkan badan dan melangkah pergi.
Aku menghela napas lega, akhirnya aku bisa melakukan apa yang sudah kurencanakan.
"Kamu jahat, Za, aku tidak akan menerima kehadiranmu untuk yang kedua kali. Aku tidak peduli kata maafmu tulus atau tidak, yang jelas hati ini sudah terlanjur kecewa," ucapku dengan penuh emosi.
Setelah menyeka sisa-sisa air mata, kubuka almari dan kuambil semua pakaianku. Aku akan pergi dari rumah ini.
Kutata semua barang-barangku ke dalam tas besar, tak ada satu pun yang kutinggalkan.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, semuanya sudah terkemas rapi. Lantas aku membawanya keluar kamar. Taxi yang kupesan sudah tiba di depan rumah. Tanpa mandi dan tanpa mengganti baju, aku melenggang pergi. Dengan cepat aku memasukkan semua barang-barangku ke dalam bagasi, aku tidak ingin Reza menyadari kepergianku.
"Cepat jalan, Pak!" ucapku pada Pak Supir, ketika pintu taxi sudah kututup.
"Baik, Non."
"Di perempatan depan belok kanan ya, Pak," ujarku setelah taxi mulai melaju.
"Iya, Non."
Aku menghela napas panjang, sedikit tenang karena taxi sudah membawaku pergi. Semakin lama rumah yang kutinggali semakin tak terlihat.
"Setelah mengembalikan kunci ini, aku akan pergi jauh. Pergi dari semua orang yang pernah kukenal, entah itu Mayra, Alena, Kyla, Rena, atau juga Daniel. Cukup kusimpan sendiri perasaan ini, kendati kami masih saling cinta, tapi keadaan tak memberikan restu. Selain keyakinan kami yang berbeda, ibunya Daniel juga tak menyukaiku. Demi kebaikanku dan juga anakku, aku akan pergi jauh dari mereka," ucapku dalam hati.
Bersambung....
Terima kasih untuk Kakak semua yang masih setia dengan novel Noda. Semoga tetap betah sampai ujung kisah nanti, Aamiin.
Kenapa kisah Kirana harus semalang ini? Kenapa dia tidak pernah bahagia? Kenapa dia selalu tersakiti?
Ujian adalah cara Tuhan untuk memanggil kita, agar mau kembali pada-Nya. Hati setiap orang berbeda-beda, ada yang cukup dengan sedikit ujian, ada yang membutuhkan ujian besar untuk membuka pintu hatinya. Dan, Kirana ini termasuk orang yang keras.
Mengapa aku mengatakan demikian?
Cukup lama dia menikmati zina tanpa memikirkan dosa. Dia terlena, tanpa mengingat Tuhannya. Lantas Tuhan menegurnya dengan kehamilan.
Apakah dia sadar dan bertobat? Tidak.
Kirana memang berhenti melakukan zina, tapi dia tidak sepenuhnya bertobat.
Dia masih tidak menutup aurat, dia juga masih mau bersentuhan dengan lelaki yang belum halal. Bahkan dia masih berpikir untuk menerima Reza sebagai pacarnya.
Mungkin episode ini menyakitkan, tapi dari rasa sakit itulah dia akan menemukan kebahagiaan yang sebenarnya.
__ADS_1