
Lima menit kemudian, Ibu kembali sambil membawa kotak persegi panjang warna putih. Dilihat dari kotaknya, tampaknya hadiah itu berukuran kecil. Barang apa kira-kira?
"Bu, sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu. Sepertinya Dara BAB," ucapku, ketika Ibu menyerahkan kotak itu padaku.
"Sudah, biar Ibu saja yang mengantar Dara. Kamu tetaplah di sini, dan lihat barang itu." Ibu menyahut sambil meraih tubuh Dara.
"Tapi, Bu___"
"Sudah, Kirana. Ibu juga bisa, kok." Ibu terus melangkah dan membawa Dara pergi.
Aku tak punya pilihan lain, selain menurut. Akhirnya aku duduk di tempat semula dan membuka kotak putih yang sedari tadi membuatku penasaran. Mayra pun ikut mendekat, mungkin dia juga penasaran dengan isinya.
Lantas kubuka benda itu dengan pelan, dan tampak di sana sebuah kotak musik berwarna merah jambu. Selain itu, ada selembar kertas yang dilipat kecil. Kubuka lipatan itu dan kubaca kata demi kata yang diukir dengan tulisan tangan.
Untuk Kirana
Satu kalimat yang ditulis di baris teratas.
Melati putih
Mekar di langit tinggi
Semerbak mewangi
Mewarnai alam mimpi
Kumbang terbang
Menari dalam bayang
Melati menghilang
Mematahkan sayap kumbang
"Ra, apa maksudnya?" Mayra bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Aku ... juga belum paham," jawabku, pelan.
__ADS_1
Sebenarnya, sedikit-banyak aku bisa menebak maksud dari sajak itu. Namun, aku masih belum yakin. Terlebih lagi, aku juga belum tahu siapa pengirimnya. Itu sebabnya, aku tak ingin terburu-buru berbagi tafsiran dengan orang lain, termasuk Mayra.
"Kira-kira, siapa yang ngirim ini?" Mayra kembali bertanya.
"Mana kutahu, aku nggak kenal sama tulisan ini," jawabku, tidak berbohong.
"Memangnya kamu lagi dekat sama siapa?"
"Nggak ada, cuma Daniel doang. Tapi nggak mungkin ini dia." Kupandangi lagi sajak yang ditulis rapi.
Dari sekian banyak orang yang pernah kukenal, lelaki yang menyukai sajak adalah Daniel. Akan tetapi, aku tidak yakin jika ini dia. Dalam hati aku terus bertanya-tanya, dan anehnya hatiku kian berdebar setiap kali menatap sajak dan kotak musiknya. Ada apa dengan diriku?
"Apa mungkin Reza?" tebak Mayra.
"Tidak mungkin." Aku menggeleng. "Dia tidak suka sajak," sambungku.
"Semoga saja ini bukan dari Reza," ucapku dalam hati.
Kemudian, kuraih kotak musik yang sempat kuletakkan di atas meja. Kutekan tombol on dan kudengar suara gitar yang mengalun merdu. Sekadar musik sederhana, namun membuatku terhanyut dalam setiap nadanya.
Petikan gitar yang terus mengalun, membuatku lupa-lupa-ingat akan sesuatu. Rasanya melodi itu tidak asing, namun aku sama sekali tak mampu mengingatnya. Entah siapa penciptanya, dan entah di mana ia mengalunkannya.
"Berarti kamu pernah kenal sama pengirimnya, Ra," ucap Mayra.
"Begitukah?" Aku menunduk, menenangkan hati yang kian tak menentu.
Dalam batin aku menggerutu kesal, merutuki hati yang semakin lama semakin tak tahu aturan. Akhir-akhir ini, kerap kali ia berdebar. Membicarakan keponakan Bu Fatimah, menatap hadiah dari orang misterius, selalu saja bereaksi. Padahal, selama ini hanya Daniel yang mampu menggetarkannya. Tidak mungkin 'kan mereka bertiga adalah orang yang sama?
_________
Gemericik hujan terdengar samar-samar dari ranjang kamar. Aku duduk bersimpuh sembari memangku bantal. Jarum jam menunjukkan tepat pukul 10.00 malam, Dara sudah terlena sejak dua jam yang lalu.
Aku termenung sambil memandangi kotak musik dan goresan sajak yang kudapatkan tadi siang. Entah mengapa kedua benda itu sangat mencuri perhatianku. Berkali-kali kubaca baris demi baris lirik yang ia tulis. Dilihat dari rangkaian hurufnya, sang penulis seolah mencintai seseorang dalam diam. Lalu orang itu pergi dan membuat sang penulis patah hati.
"Jika dia menulis ini untukku, lantas siapa dia? Siapa yang sudah kubuat patah hati? Daniel, seharusnya bukan. Kemarin kami bersua, dan semuanya masih baik-baik saja. Kendati kami berpisah, tapi hubungan kami masih baik. Dia tidak mungkin melakukan hal ini.
Atau mungkin Reza? Kalau disambungkan dengan cerita Mayra, memang masuk akal. Tapi ... dia bukan pecinta sajak. Seharusnya dia tidak bisa menulis ini," ucapku seorang diri.
__ADS_1
Kupandang lagi barisan sajak dengan teliti. Aku berharap ada sedikit saja petunjuk tentang identitas sang penulis. Namun sayang, aku sama sekali tak menemukan apapun. Lantas, kuhidupkan kotak musik yang sedari tadi kugenggam. Setiap kali melodi itu mengalun, aku merasa familiar dengan petikan gitarnya yang khas. Namun, sekali lagi amat disayangkan, aku gagal mengingat siapa gerangan yang pernah memetiknya.
"Argghhh, menyebalkan." Aku menggeram kesal. Penasaran adalah salah satu hal yang sangat menjengkelkan.
"Sok misterius banget. Kalau nggak ikhlas harusnya nggak usah ngasih, daripada kayak gini, bikin kesel aja." Aku terus menggerutu, namun tak jua melepaskan kotak musik ataupun lembaran kertas.
Aku tetap memegang benda itu dengan pikiran yang terus menerawang. Sampai aku tak sadar dengan rasa kantuk yang tiba-tiba menghampiri. Rasa itu menuntunku menjelajah alam lena, dan mewujudkan segala asa serta cita yang tak mampu kuraih di alam nyata.
_______
Tiga minggu sudah waktu berlalu, sejak aku menerima hadiah dari seseorang yang tak jelas identitasnya. Selama itu pula, aku tak menemukan petunjuk apapun. Aku masih tak tahu siapa yang mengirimkannya padaku.
Dari hari ke hari, aku mulai melupakannya. Kendati awalnya membuat hatiku berdebar, namun seiring berjalannya waktu, aku menganggapnya tidak penting. Jika dia memang serius, dia pasti bertandang dengan identitas yang jelas, pikirku.
Pagi ini, seusai sarapan, aku dan Bu Fatimah menanam benih bunga di halaman belakang. Kebetulan Bu Fatimah tidak pergi ke toko, dan aku pun juga tidak ada pesanan kue. Setelah memastikan Dara aman bersama Bibi, aku mulai membantu Bu Fatimah, mengisi pot dengan tanah.
"Kirana," panggil Bu Fatimah.
"Iya, Bunda." Aku menjawab, tanpa menghentikan aktivitasku.
"Tawaran Bunda yang kapan hari, bagaimana? Sudah ada jawaban?" tanya Bu Fatimah.
Aku menoleh dan menatap Bu Fatimah sejenak. Sekian waktu tak pernah membahas hal itu, kupikir beliau sudah melupakannya, namun ternyata tidak.
Perihal tawaran itu, aku sudah membahasnya dengan Mayra dan juga Ibu. Tapi, aku pribadi belum menemukan jawabannya.
Kau dan Daniel tak mungkin bersama. Jika lelaki itu benar-benar mau menerimamu, tidak ada salahnya kamu menerimanya, Ra. Lambat laun, cinta pasti datang dengan sendirinya.
Kata Mayra, sewaktu aku meminta pendapatnya.
Bundamu adalah wanita yang berhati mulia, Ibu yakin dia tidak mungkin menjerumuskanmu. Apalagi setelah mendengar kesediaannya yang mau menerima masa lalumu, Ibu rasa itu bukanlah hal yang buruk, Kirana. Kalau soal cinta, serahkan saja sama Allah, Dia-lah yang Maha membolak-balikkan hati. Tapi ... Ibu tidak memaksa, semua tergantung pada dirimu sendiri, Nak.
Nasihat Ibu, kala aku berkunjung ke sana dan bercerita tentang tawaran Bu Fatimah.
"Kirana," panggil Bu Fatimah, ketika bibirku masih terkatup rapat.
Bersambung...
__ADS_1