Noda

Noda
Rencana Licik Luna


__ADS_3

"Mana mungkin aku berbuat curang, Mas. Kamu yang lebih tahu bagaimana keadaanku," bisik Nadhea sembari menahan sakit.


Arsen tersenyum miring, lantas dengan kasar melepaskan cengkeraman. Kemudian, dia menatap Nadhea dengan lekat. Selama ini, dia sangat menekan Nadhea. Istrinya itu tidak diizinkan keluar rumah atau sekadar memegang ponsel. Bahkan, seluruh pelayan di rumahnya pun tak ada yang berani meminjami Nadhea. Mereka tahu bahwa dirinya sangat tegas dan tidak pernah bermain-main.


"Sepertinya kamu berkata jujur, Dhea," batin Arsen tanpa mengalihkan tatapan. Dia sadar, Nadhea tak mungkin bisa membuat janji dengan Kaivan karena semua akses sudah ditutup.


"Rawat rahimmu dan biarkan anakku tumbuh di sini, maka aku akan memperlakukan kamu dengan lebih baik lagi!" Arsen berujar sambil menyentuh perut Nadhea.


"Aku akan berusaha, Mas," jawab Nadhea masih dengan suara lirih.


Arsen menanggapinya dengan usapan di pipi. Lantas, dia kembali membenarkan duduknya dan mulai melajukan mobil.


Di sampingnya, Nadhea menatap nanar. Sembari menggigit bibir, dia mengingat masa-masa silam—ketika Arsen menjadi satu-satunya orang yang peduli dan bisa menghargai. Sekarang, Arsen telah berubah menjadi orang lain. Karena pengkhianatan yang sama sekali tidak berhubungan dengannya, Arsen menjadikannya pelampiasan. Sungguh miris! Bahkan, Nadhea sampai lupa bagaimana caranya tersenyum.


"Andai kamu bisa bersikap lembut dan memperlakukanku seperti manusia, aku tidak keberatan mengandung anakmu, Mas, walau tidak ada cinta dalam hatimu. Tapi, dengan sikapmu yang seperti ini, maaf, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak mau selamanya terjebak dalam kebiadabanmu," batin Nadhea.


Lantas, dia berpaling dan menatap ke arah luar. Bagi Nadhea, lebih baik melihat padatnya kota, daripada memandang lelaki bak iblis yang dalam beberapa waktu terakhir memberinya neraka dunia.


Andai saja Nadhea terlahir dan tumbuh seperti wanita kebanyakan—disayangi dan dilindungi oleh keluarga, mungkin sekarang dia ada keberanian untuk melawan. Namun, sejak kecil dia tertindas dan terabaikan, sehingga mentalnya sedikit terganggu. Terlebih lagi, sekarang Arsen ikut menindas dan menyudutkannya tanpa belas kasih. Itu sebabnya, Nadhea belum berhasil bangkit hingga saat ini.


_____________


Sejak sore hujan mengguyur Kota Malang. Udara dingin yang terus berembus membuat orang memilih berdiam diri di rumah masing-masing. Namun, tidak demikian dengan Luna. Di tengah derasnya air, dia justru berkendara cepat di atas jalanan yang lengang. Bagaimana tidak, selain hujan, jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Jika tidak ada kepentingan yang mendesak, orang-orang akan berlindung di bawah selimut tebal.


Di sela-sela gemuruh hujan, ponsel Luna terus berdering, Kaivan yang menelepon. Akan tetapi, Luna tak segera menerima. Ada banyak hal yang mengganggu pikiran, yang membuatnya enggan berbicara dengan Kaivan untuk saat ini. Namun, bukannya menyerah, Kaivan justru terus menelepon, hingga Luna risih dan akhirnya menepikan mobil.

__ADS_1


"Hallo, Luna," sapa Kaivan dari seberang sana.


"Hallo, Kai, ada apa? Ini hampir tengah malam, apa kamu tidak tidur? " tanya Luna dengan nada datar. Walau hatinya menjerit rindu, tetapi detik ini dia punya urusan yang sangat penting. Luna ingin cepat-cepat menyelesaikan agar nanti hubungannya dengan Kaivan tak ada kendala.


"Aku baru pulang. Kamu sendiri kenapa belum tidur?" Kaivan balik bertanya.


"Sebenarnya aku sudah tidur, tapi ponselku terus berdering. Jadi, aku terbangun," dusta Luna. "Ada apa, Kai? Kenapa menghubungiku selarut ini? Kamu tahu, kan, aku sedang sakit?"


Dari ujung sana, Kaivan menghela napas panjang. Luna mendengarkannya sambil memejam. Harapannya, ini adalah terakhir kali hubungan mereka renggang.


"Flu saja biasanya kamu memberitahuku, kenapa kali ini tidak? Bahkan, sejak aku pergi kamu juga nggak ada kabar. Ada apa, Luna?"


Luna menggigit bibir, lagi dan lagi dia merutuki kebodohan masa lalu yang kini membawanya dalam kesulitan.


"Luna___"


"Baiklah, aku mengerti." Kaivan mengembuskan napas kasar. "Tapi, bisakah kali ini kita bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin kudiskusikan denganmu, Luna," sambungnya.


"Ada apa?" Luna mulai waswas. Dia takut Kaivan mengetahui hubungannya dengan Rega.


"Ini tentang ... Nadhea," jawab Kaivan sedikit pelan.


Luna mengernyit, "Kenapa? Kamu bertemu dengannya?"


"Iya, dan aku melihat banyak lebam di wajahnya. Sepertinya dia mengalami kesulitan. Luna, bisakah kamu dan Om Wira mengunjunginya?" ungkap Kaivan.

__ADS_1


"Aku sakit dan Papa masih sibuk," sahut Luna dengan cepat.


"Tapi, Luna___"


"Jangan berlebihan, Kai, Nadhea sudah menikah. Suaminya kaya dan penyayang, jadi tidak mungkin dia mengalami kesulitan. Mungkin saja dia lebam karena jatuh atau salah mekap," pungkas Luna dengan intonasi tinggi. Saat ini, pikirannya sedang kacau dan tiba-tiba Kaivan mengkhawatirkan Nadhea. Sungguh menyebalkan!


"Mungkin dugaanmu ada benarnya, tapi nggak ada salahnya, kan, mengunjungi dia? Apa kamu sama sekali tidak khawatir, Luna?"


"Apa yang perlu dikhawatirkan, Kai, dia baik-baik saja. Lagi pula aku sedang sakit dan Papa juga sibuk."


"Luna___"


"Calon istri kamu itu aku, Kai, bukan Nadhea. Jadi, berhenti berlebihan! Kamu tidak mau, kan, aku menduga yang tidak-tidak atas hatimu?" potong Luna.


"Ini tidak ada hubungannya dengan hati, Luna! Kamu___"


"Sudah, aku lelah dan mau istirahat. Besok kuhubungi lagi." Tanpa basa-basi Luna langsung memutus sambungan telepon. Dia terpaksa melakukannya karena sudah tidak ada banyak waktu.


[Jangan bermain-main, Luna! Dalam lima belas menit kamu belum datang, aku akan bertindak sesukaku.]


Satu pesan dari Rega yang membuat Luna menggeram.


[Tunggu sebentar, aku hampir tiba!]


Luna tersenyum licik usai mengirimkan pesan balasan.

__ADS_1


"Silakan saja menikmati kemenangan, mungkin itu bisa membuatmu senang sebelum hidupmu benar-benar hancur! Kamu belum tahu betapa kejamnya aku, Rega!" ucapnya.


Bersambung....


__ADS_2