Noda

Noda
Ujung Kata


__ADS_3

Pada malam yang dingin, aku terjaga dan tak bisa menutup mata. Rasa nyeri di punggung membuatku kehilangan banyak tenaga. Berulang kali kuusap tetap saja nyeri, bahkan makin lama makin parah. Perlahan, aku teringat dengan beberapa tahun silam, ketika hendak melahirkan Dara. Apakah sekarang waktunya sudah tiba?


Saat ini, usia kandunganku sudah genap sembilan bulan. Menurut perkiraan dokter, bayiku akan lahir sepuluh hari lagi. Namun, sepertinya tidak. Kurasa dia akan lahir lebih cepat dari perkiraan.


Selama kehamilan, banyak hal baik yang terjadi dalam hidupku, termasuk soal rezeki. Proyek Sandya Permai yang dikelola Kak Darren dan Fahri berhasil mencapai target. Keuntungannya sangat besar dan bisa digunakan untuk merintis proyek baru. Selain itu, keadaan Kak Darren sudah mendekati normal. Kata dokter, dengan terapi dua atau tiga bulan lagi, dia akan subur seperti lelaki pada umumnya. Kata beliau, tidak sulit bagi kami untuk memiliki anak kedua atau ketiga.


"Ah," rintihku pelan.


Sekarang, bukan hanya punggung yang nyeri, melainkan perut bagian bawah pun ikut melilit. Karena tak punya pilihan, aku mengguncang lengan Kak Darren dan membangunkannya. Raut lelah di wajahnya tak kuhiraukan karena saat ini aku butuh pertolongan.


"Kak! Kak Darren! Kak!" panggilku berulang-ulang.


Hari ini dia membawa banyak pekerjaan dari kantor dan baru selesai sekitar dua jam yang lalu. Katanya, dibutuhkan dalam rapat esok pagi, jadi tidak bisa ditunda lagi.


"Kak! Kak Darren!" Aku makin berteriak karena dia belum membuka mata.


"Ah, Kak!" Kucengkeram lengannya dengan erat.


"Sayang, ada apa?" Kudengar suaranya masih serak dan pelan.


"Kak, sakit," rintihku.


"Sayang, kamu kenapa? Apanya yang sakit? Ini, ini, ini aku harus gimana?" Kak Darren bangkit dan tampak panik.


"Perutku sakit, Kak, sepertinya dia mau lahir." Aku menjawab sambil memegangi perut yang sudah membuncit.


"Tapi kata dokter masih sepuluh hari lagi, Sayang."


"Sakitnya sekarang, Kak!" Aku menyahut sambil menangis karena rasa nyeri itu makin kuat.


"I-iya sebentar, kita ke rumah sakit, Sayang. Tahan sebentar, ya." Kak Darren turun dari ranjang dan menelepon Bu Fatimah, yang sedang berada di kamarnya. Lalu kembali mendekatiku dan membantu bangkit.


"Ah." Aku kembali mengaduh saat turun dari ranjang. Perut terlalu sakit dan aku tak bisa berdiri tegak.


"Diamlah, Sayang, biar aku yang membawamu." Kak Darren mengangkat tubuhku dengan cepat dan membawaku keluar kamar.


Aku meringkuk di pelukannya, mencari kenyamanan sambil menahan rasa nyeri yang terus mendera.


"Darren, ayo langsung ke mobil! Biar Bunda yang nyetir," teriak Bu Fatimah ketika kami tiba di ruang tamu.


Sejak hamil, aku dan Kak Darren pindah kamar di lantai bawah. Bu Fatimah tidak tega jika tetap di lantai atas dan naik turun tangga setiap hari.


Malam ini, Bu Fatimah yang memegang kemudi, sedangkan Kak Darren menemaniku di bangku belakang. Dia menggenggam tanganku dengan erat, sesekali juga mengusap keningku yang berkeringat. Kata-kata cinta dan penyemangat terus terucap dari bibirnya, membuatku merasa lebih baik walau dalam keadaan sakit.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mobil yang kami tumpangi tiba di halaman rumah sakit. Bu Fatimah keluar dan memanggil perawat, sedangkan Kak Darren kembali menggendongku. Beberapa detik kemudian, perawat datang sambil mendorong brankar. Kak Darren membaringkanku dengan pelan. Lantas mengikutiku tanpa melepaskam genggaman.


"Langsung bawa masuk!" ucap Dokter Airin kepada kedua perawat.


Selagi masih dalam perjalanan, Kak Darren sudah menghubungi beliau dan mengabarkan keadaanku. Karena selama ini, beliau-lah dokter yang selalu memeriksaku. Selain menghubungi Dokter Airin, Kak Darren juga menghubungi Ibu dan Mama Renata. Mungkin, sebentar lagi mereka akan tiba.


"Pak, Bu, silakan tunggu di luar ya!" ujar Doker Airin ketika kami tiba di depan ruang bersalin.


"Kak, jangan tinggalkan aku!" sahutku sebelum Bu Fatimah dan Kak Darren menjawab ucapan dokter.


Kak Darren sempat salah tingkah karena dokter melarangnya. Namun, aku bersikeras ditemani. Dia adalah penyemangatku, hadirnya membuatku merasa lebih baik. Jadi, aku ingin berjuang bersamanya.


Karena aku terus memohon, Dokter Airin mengalah dan meluluskan keinginanku. Rasanya sangat lega, akhirnya Kak Darren diperkenankan masuk dan menemaniku.


"Kamu pasti bisa, Sayang. Aku di sini, tidak akan meninggalkan kamu," bisik Kak Darren, lantas mendaratkan ciuman mesra di keningku.


_____________________


Tepat pukul 05.00 pagi, anakku lahir dengan selamat. Wajahnya tampan dan kulitnya merah, sangat sehat. Setelah melewati perjuangan panjang, aku mendengar tangisannya menggema di ruangan. Tepat saat itu, Kak Darren tersenyum lebar sambil menitikkan air mata. Dia tak berkata apa pun, tetapi langsung memelukku dengan erat.


"Maafkan aku telah memberimu sakit yang separah ini, Sayang. Demi anakku kamu mempertaruhkan nyawa, ah ... andai saja aku bisa menggantikan posisimu," bisik Kak Darren.


"Dia anakku juga, ini sudah kewajibanku sebagai seorang wanita," jawabku juga dengan bisikan.


"Aku baik-baik saja, Kak."


Air mataku lolos begitu saja, sangat terharu dengan sikap dan ucapan Kak Darren. Betapa tulusnya dia mencintaiku, sampai tidak tega melihatku melahirkan. Padahal, proses persalinan kali ini lebih lancar dari pada waktu laluβ€”ketika melahirkan Dara. Cinta, ternyata ia begitu indah.


Beberapa saat kemudian, dokter menyuruh Kak Darren untuk mengazani. Ketika menggendong sang buah hati, kulihat sudut matanya kembali basah. Tanpa terasa, aku pun turut menangis. Rasanya masih seperti mimpi berada di posis ini. Dicintai tulus oleh seorang lelaki dan diberi kepercayaan untuk menjaga titipan-Nya. Ya Allah, terima kasih untuk segala nikmat yang telah Engkau berikan.


"Kaivan Diratama Alsaki, laki-laki yang tampan, sabar, dan murah hati," ucapku ketika Kak Darren usai mengazani.


Sejak awal kehamilan, kami sudah membuat kesepakatan tentang nama anak. Jika dia perempuan, maka Kak Darren yang berhak memberikan nama. Namun, jika dia laki-laki, akulah yang punya hak.


"Nama yang indah, seindah wajahnya," jawab Kak Darren. Sorot matanya tak beralih sedetik pun, tetap memandangi sosok kecil yang masih ada dalam gendongannya.


____________________


Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 malam, suasana di rumah masih sangat ramai. Pasalnya, hari ini adalah hari pertama Kaivan menatap dunia. Karena aku dan Baby Kai dalam keadaan sehat, dokter mengizinkan kami pulang. Tepat pukul 04.00 sore kami tiba di rumah.


Malam ini, semua keluarga berkumpul di rumah Bu Fatimah. Mama dan Papa mertua, Ibu, Mbak Laras, Mbak Diana, Mas Bayu, Mas Denis, bahkan Reza dan orang tuanya pun turut hadir di sini. Mereka menggelar karpet di depan kamar, lantas duduk berkumpul di sana sambil berbincang. Canda dan gelak tawa terdengar riuh, menggambarkan suasana yang bahagia.


Beberapa menit lalu, Ibu dan Mama Renata masuk ke kamar. Melihat keadaanku dan Kai. Kemudian, mereka keluar dan menyuruhku istirahat karena Kai sedang pulas di atas pangkuan Kak Darren.

__ADS_1


Kini, tinggal aku, Kai, dan Kak Darren yang ada di kamar. Kendati tubuhku sangat lelah dan tulang-tulang sendiku seakan patah, tetapi tak bisa menutup mata. Rasanya sangat enggan meninggalkan pemandangan yang amat indahβ€”Kak Darren memangku Kai dan bersenandung untuknya.


"Sangat berbeda dengan suasana dulu," batinku.


Ketika hamil Dara, aku seorang diri. Bahkan, sampai melahirkan pun hanya Bu Fatimah yang menemani. Tak ada kata bermanja. Semua rasa sakit aku tanggung sendiri.


Namun, hamil Kai, aku layaknya wanita yang paling istimewa. Setiap hari Kak Darren menawariku makanan, entah itu buah, lauk-pauk, atau sekadar camilan. Setiap malam, dia selalu memijitku, tak berhenti sebelum aku terlelap. Setiap pagi, dia selalu menyapa anak kami. Mengajak berbincang dan kemudian mengecupnya dengan mesra. Setiap akhir pekan, dia tak pernah ke mana-mana, selalu di rumah dan menemaniku. Dia akan keluar jika aku mengajaknya jalan-jalan.


Ketika melahirkan pun, suasana juga penuh cinta. Dia menggenggamku dengan erat dan membisikkan kata-kata penyemangat. Bahkan, sampai detik ini dia masih membuatku takjub. Aku tak diizinkan ke kamar mandi seorang diri, dia dengan sigap membantu dan menggendongku. Sebelum memangku Kai, tak henti-hentinya memijit tangan dan kakiku. Sorot matanya selalu penuh kasih, pun dengan ucapan dan sentuhannya.


"Ya Allah, terima kasih telah Engkau hadirkan dia dalam hidupku." Aku membatin sambil tetap memandangnya.


"Sayang, kenapa?" Kak Darren menoleh dan menatapku sambil mengernyit. Mungkin, merasa heran karena kupandangi.


"Aku mencintaimu, Kak." Kugenggam lengannya dengan erat. Dari sekian banyak kata, hanya cinta yang paling cocok untuk mendeskripsikan perasaanku saat ini.


Kak Darren tersenyum, lalu beringsut dan merapatkan tubuhnya ke arahku.


"Aku juga mencintaimu, Sayang. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, menjadi istriku, dan bersedia melahirkan anakku," ucap Kak Darren diiring senyuman manis.


Setelah beberapa detik saling beradu pandang, kami saling mendekatkan wajah. Sebenarnya, aku berharap dia mencium bibirku, tetapi tidak, Kak Darren kembali mengecup keningku. Yah, baru tadi pagi aku melahirkan, mungkin terlalu aneh jika sekarang berciuman bibir.


Akan tetapi, Kak Darren tak segera melepaskan kecupannya. Mungkin, dia paham aku sedang menikmati. Karena sentuhan bibirnya makin menghangat, aku memejam, berusaha meresapi cinta yang dia salurkan lewat ciuman kening. Namun, belum puas aku menikmatinya tiba-tiba teriakan di ambang pintu mengagetkanku.


"Mendadak jadi pengin nikung!"


Aku menoleh dan mendapati Reza sedang berdiri di sana. Tangannya di lipat di dada dan matanya menatap ke arah kami berdua. Aku berpaling dan menyembunyikan senyuman, sedikit malu karena ketahuan sedang beradegan mesra. Sementara Kak Darren bersungut dan merutuk, sangat cemburu walau ucapan Reza sekadar candaan.


TAMAT


Terima kasih untuk Kakak semua yang masih setia sampai ending. Maaf, beberapa waktu lalu sangat selow up dan harus menunggu lama.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Dalam cerita ini, pemeran utama adalah Kirana dan Daniel (bukan Darren). Namun, mereka tidak bersatu karena teguh dengan keyakinan masing-masing. Kendati dalam melewati ujian pernah goyah (Kirana pernah berniat bunuh diri, Daniel pernah berniat pindah keyakinan), tetapi mereka berhasil bertahan dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya.


Dalam kisah ini, aku mendeskripsikan mereka sebagai dua pribadi yang tangguh (walau awalnya seorang pendosa). Mereka tidak meninggalkan Tuhan demi makhluk ciptaan-Nya, dan mereka tidak mengorbankan keyakinan demi sebuah cinta. Mereka sadar keyakinan bukanlah mainan. Mereka tetap bersikap demikian walau keadaan menjatuhkannya pada titik terendah.


Sampai akhirnya, Tuhan memberikan jalan keluar. Lantas, mengirimkan nikmat dan kebahagiaan yang lain untuk mereka.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Oh ya, nanti aku kasih 1 extra part, yah. Semoga masih berkenan menunggu, aku usahakan nggak lama. Terima kasih πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2