
Apa yang membuat jantung Kaivan berdetak cepat bukanlah barang berharga, melainkan barang sepele yang seharusnya sudah dimasukkan ke tempat sampah. Namun, entah mengapa Kaivan menyimpannya dan membawanya sampai ke hotel. Sekarang, dia duduk termenung sambil mengembuskan napas kasar. Matanya terus menatap warna merah yang tampak samar di sana.
"Ngapain juga kubawa ke sini, harusnya kubuang sejak tadi siang," gerutu Kaivan setelah detak jantungnya kembali normal.
Lantas, dia beranjak dan berjalan menuju tempat sampah yang ada di sudut ruangan. Lalu, dengan gerakan cepat Kaivan membuang botol kosong bekas air mineral. Kemudian, dia kembali menuju ranjang.
Akan tetapi, langkah Kaivan terhenti pada detik ketiga. Dia terpaku sejenak dan perlahan membalikkan badan. Bekas lipstik yang masih menempel di bibir botol kembali mencuri perhatian Kaivan. Tanpa sadar, dia berbalik arah dan mengambil botol yang baru saja dibuang.
Meski bibir Kaivan terkatup rapat, tetapi tangannya tak henti memainkan botol kosong itu, mata pun terus menatap bekas merah yang sebenarnya tidak ketara. Setelah cukup lama memandanginya, Kaivan mengembuskan napas kasar sambil melemparkan benda itu.
"Udah dibuang juga, ngapain sih kuambil lagi. Kurang kerjaan!" gerutunya dengan bibir yang manyun.
Lantas, dia kembali menuju ranjang, kali ini dengan langkah cepat. Setibanya di sana, Kaivan menghempaskan tubuhnya dengan kasar sembari melanjutkan kekesalan.
"Lipstik murah itu, makanya nempel di mana-mana. Dasar gadis aneh, nggak punya urat malu!" sungut Kaivan dengan mata yang memejam. Dia berusaha menepis bayangan gadis aneh yang tanpa tahu malu memenuhi pikirannya.
__________________
Jarum jam baru menunjukkan pukul 07.00 WITA, tetapi Kaivan dan kawan-kawannya sudah siap berangkat menuju Desa Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Dalam pendakian ini, mereka memilih jalur Bawak Nao. Semua barang yang dibutuhkan sudah tersimpan rapi di dalam ransel masing-masing, sedangkan beberapa helai baju mereka tinggal di hotel. Menurut rencana, mereka akan menikmati kuliner setelah mendaki Puncak Rinjani.
__ADS_1
"Come on, Guys! mobilnya udah tiba," seru Nakula dari depan ruangan.
Kaivan dan kedua temannya mengangguk, lantas mengikuti langkah Nakula dengan wajah yang sumringah.
"Nggak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Nakula ketika berjalan menuju lantai bawah.
"Aman, Kak," sahut Kaivan dan empat teman lainnya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan kamar Andre, ternyata dia dan kedua temannya sudah siap. Lantas, mereka semua langsung menuju halaman hotel dan memasuki mobil carter yang sudah dipesan. Nakula berada satu mobil dengan Kaivan, Kennan, dan Elbi, sedangkan yang lainnya ada di mobil kedua. Untuk tiba di Desa Sembalun membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam.
"Mudah-mudahan perjalanan kali ini lancar, sehingga bisa menikmati senja di padang savana," ujar Nakula.
"Pasti bisa, masih ada banyak waktu, Kak," jawab Kennan.
"Mudah-mudahan saja tidak ada kendala lagi," timpal Elbi.
"Iya. Itu sebabnya, aku mengajak kalian berangkat pagi. Yang namanya perjalanan, terkadang ada kejadian di luar prediksi, seperti kemarin," ucap Nakula sambil menatap ketiga temannya.
"Semoga kali ini tidak," gumam Kaivan yang kemudian ditanggapi anggukan oleh kawan-kawannya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, mereka terus berbincang dan sesekali membahas rencana kegiatan dalam pendakian nanti. Sampai akhirnya, mobil yang mereka tumpangi tiba di Desa Sembalun. Kala itu, jarum jam menunjukkan pukul 11.00 siang.
Usai beristirahat, mereka memulai pendakian. Hal pertama yang memanjakan mata adalah persawahan warga yang berlanjut dengan hamparan padang rumput. Di sana, banyak sekali warga yang mengembalakan sapi. Sebuah pemandangan yang sejuk dan asri.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, mereka tiba di Hutan Sembalun. Di sana, mereka berjumpa dengan kelompok pendaki lain dan melanjutkan pendakian bersama-sama. Selang satu jam, mereka tiba di Pos 1 Trangeang Sembalun. Kelompok lain banyak yang langsung melanjutkan perjalanan, tetapi tidak dengan Nakula dan kawan-kawannya. Mereka beristirahat sejenak sambil mengisi perut. Di tempat ini, Kaivan, Kennan, dan Elbi mulai mengeluarkan kamera kesayangan. Mereka mengabadikan keindahan alam dalam sebuah potret.
Tepat pukul 02.00 siang, mereka kembali melanjutkan pendakian. Track yang mereka tempuh masih terbilang landai, sehingga bisa melakukannya dengan santai. Kaivan dan kedua temannya tak henti-henti membidikkan kamera. Mereka menjadikan padang savana sebagai objek yang istimewa. Makin jauh menyusuri jalan setapak, mereka makin berdecak kagum. Keanggunan padang savana yang membentang luas sampai batas bawah vegetasi Rinjani benar-benar memesona.
Sekitar dua jam kemudian, mereka tiba di Pos 2 Trangeang Sembalun. Kala itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Nakula memutuskan untuk beristirahat dan bermalam di sana.
"Kita lanjut besok aja ya, Guys. Perjalanan menuju pos tiga sekitar tiga sampai empat jam karena track mulai menanjak dan jaraknya juga lumayan jauh. Daripada kita kemalaman, lebih baik istirahat dulu di sini sambil melihat senja," terang Nakula.
"Siap, Kak. Di sini tempatnya enak untuk bermalam. Ada banyak gazebo," sahut Andre.
"Benar sekali. Selain itu, ada air bersih juga. Jadi kita bisa masak di sini. Datarannya juga lumayan luas, misalkan mau mendirikan tenda nggak sulit," jawab Nakula.
Setelah sepakat bermalam di sana, Kaivan dan kawan-kawannya mulai meletakkan barang bawaan. Kendati kawan-kawannya beristirahat sambil menyelonjorkan kaki, Kaivan tetap berdiri. Dia sekadar meletakkan ransel, setelah itu kembali bergelut dengan kameranya.
"Ini akan menjadi foto yang sempurna," gumam Kaivan sambil mengarahkan kamera ke padang savana.
__ADS_1
Akan tetapi, gerakannya terhenti sebelum potret berhasil diambil. Ada objek yang tak lazim, yang membuat matanya menyipit seketika.
Bersambung...