
Aku membuka mata dengan perlahan. Aku melirik ke sana ke mari, mencari tahu di mana aku saat ini. Beberapa detik kemudian, pandanganku terpaku pada slang infus yang menancap di tangan kiri. Aku menghela napas panjang, rupanya aku sedang dirawat di rumah sakit.
"Kirana, syukurlah kamu sudah sadar," ucap seseorang yang baru masuk ke ruangan.
Aku menoleh dan mendapati sosok Reza sedang melangkah sambil membawa nampan. Dia meletakkannya ke atas meja, lantas berjalan ke arahku.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Reza, ketia ia sudah duduk di sebelahku.
"Tidak ada, aku hanya lelah. Terima kasih ya, Za, sudah menolongku." Kutatap wajahnya dengan sendu. Jika tidak ada dia, entah bagaimana nasibku tadi.
"Jangan terlalu sungkan, aku senang bisa membantumu, Ra," ucap Reza dengan senyum lebar.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanyaku dengan harap-harap cemas. Mengingat darah yang bersimbah, aku takut terjadi apa-apa dengannya.
"Tidak terlalu baik, Ra, tapi untungnya dia masih selamat. Saat ini, kondisinya sangat lemah. Kata Dokter, kamu tidak boleh berpikir terlalu berat, juga tidak boleh melakukan banyak pekerjaan. Kamu harus istirahat," terang Reza, yang lantas membuatku menarik napas lega.
"Jika perasaan itu hanya membuatmu terluka, buang saja dan lupakan dia. Masih banyak lelaki lain yang tulus mencintaimu, dan siap membahagiakan kamu." Reza mengusap perutku yang tertutup selimut biru. "Aku harap kamu bisa menjaganya, Ra, karena aku juga menyayanginya."
Aku sedikit tersentak mendengar ucapan Reza, apa maksudnya?
__ADS_1
Kutilik wajahnya yang sedang menunduk. Dari ekspresinya, aku yakin dia sedang memikirkan sesuatu, namun apa itu aku juga tidak tahu. Dia diam tanpa menarik jemarinya, entah apa yang membuat Reza betah menyentuhnya.
"Za, aku haus," ucapku mengalihkan perhatiannya. Jujur, posisi ini membuatku canggung dan tidak nyaman.
"Tunggu sebentar." Reza beranjak dan mengambil segelas susu di atas nampan.
"Terim kasih," ucapku, kala gelas itu sudah kugenggam.
"Aku lebih suka melihat senyummu, daripada mendengar ucapan terima kasih darimu."
Aku menghentikan gerakanku, dan gagal meneguk susu yang nyaris menyentuh bibir. Semakin ke sini, kata-kata dan sikap Reza semakin aneh. Sebenarnya ada apa dengannya?
Aku masih tak mengangkat wajah, namun aku menarik ujung bibir hingga membentuk senyuman. Setelah Reza memuji senyumku, yang katanya sangat manis, aku meneguk minumanku hingga tandas.
______
Sang surya baru saja terbit di ufuk timur. Sinar jingganya anggun nan memesona, menerpa setiap bunga dan dedaunan yang tumbuh di taman rumah sakit.
Aku memejamkan mata, lantas mengambil napas dalam-dalam. Semerbak wangi bunga yang berpadu dengan aroma basah, sangat menenangkan. Menikmati pagi yang seindah ini, hatiku lantas tenang dan mampu melupakan sejenak semua beban yang menyesakkan.
__ADS_1
"Lihat, Ra! Sangat indah!"
Aku membuka mata, setelah mendengar ucapan Reza. Dia menunjuk ke arah timur, ke tempat sang surya yang dikelilingi mega-mega jingga.
"Iya, sangat cantik," gumamku, pelan.
"Kirana mentari memang cantik. Baik yang ada di langit, maupun di bumi," bisik Reza di dekat telingaku.
Aku menelan saliva, lagi-lagi tak mengerti dengan maksud perkataannya. Dia yang semula berdiri di belakang dan mendorong kursi rodaku, kini berjongkok di sampingku.
"Jadilah seperti kirana mentari yang ada di langit. Kendati ada awan yang menutupinya, kendati ada malam yang terpaksa membuatnya menghilang, tetapi dia tetap bersinar. Dia tetap tegar dan perkasa, meski dunia kerap kali mengujinya. Kirana, jadilah seperti dia. Tetap bersinar, walaupun dunia mengujimu dengan keras. Jangan terbelenggu pada sesuatu yang membuatmu terluka. Pahamilah, ada seseorang yang sangat menantikan senyumanmu, jadi berhentilah menangis," kata Reza. Lantas dia menyelipkan rambutku ke belakang telinga.
Aku menoleh dan menatapnya dengan lekat. Seseorang yang menantikan senyumanku, siapa kira-kira yang dia maksud? Anakku yang belum lahir, atau dirinya sendiri?
Ahh, tapi mana mungkin. Reza terlalu sempurna untuk mengharapkan aku yang hina.
Ini kisah nyata, bukan dongeng ataupun romansa dalam novel. Aku hamil diluar nikah. Dia yang menghamiliku saja berpaling, apalagi orang lain. Tidak mungkin Reza menyimpan rasa untukku, dia pasti hanya kasihan saja.
"Hidupku memang pantas untuk dikasihani," batinku dengan senyum getir.
__ADS_1
Bersambung....