
Mobil Avanza putih milik Nadhea berhenti tepat di area parkir Pantai Kuta. Sang empunya turun dan memamerkan senyum menawan, seolah menunjukkan pada orang sekitar bahwa saat ini sedang bahagia.
Kaivan dan Nadhea, setelah berkeliling pusat perbelanjaan dan membeli aneka macam barang, kini keduanya singgah di Pantai Kuta. Mereka ingin menikmati pesona wisata sambil menunggu keindahan sunset yang sudah terkenal hingga ke mancanegara.
Kaivan dan Nadhea berjalan menyusuri hamparan pasir yang tampak berkilau karena pancaran sinar surya, maklum saat ini jarum jam baru menunjukkan angka tiga.
Kehadiran Kaivan dan Nadhea menyita perhatian banyak pasang mata, bahkan wisatawan asing pun turut menatap dan memuji dalam batin masing-masing. Keduanya memang serasi. Selain cantik dan tampan, pakaian yang dikenakan pun tampak serupa—celana jeans pendek dan kaus putih tanpa motif. Kali ini, wajah Nadhea sedikit dipoles mekap, telinga dihiasi anting panjang, sedangkan rambut dibiarkan tergerai dan meriap dipermainkan angin.
"Ke sana dulu yuk, haus!" ajak Kaivan. Dia menunjuk kafe yang paling ujung. Sebenarnya, bukan haus yang mendorongnya singgah di sana, melainkan niat terpenting yang harus segera diselesaikan.
"Ayo." Nadhea tak menolak. Bahkan, ketika Kaivan mengeratkan genggaman pun, Nadhea diam dan sekadar menunduk malu.
Tak lama kemudian, Kaivan dan Nadhea sudah duduk di salah satu kursi kafe. Nadhea membuka perbincangan dengan topik Pantai Kuta sembari menunggu pesanan, sedangkan Kaivan langsung merogoh kotak cincin yang sedari tadi diselipkan dalam saku celana.
Sebenarnya, lebih romantis jika menunggu senja. Berlatar pasir dan deburan ombak yang berhiaskan sinar jingga, tentu sangat menawan. Memang seperti itu harapan Kaivan sebelumnya. Namun, entah mengapa kini tak sabar menunggu matahari terbenam. Seolah ada dorongan kuat yang memaksanya melakukan sekarang. Apakah itu pertanda baik atau justru sebaliknya? Entah, hanya Tuhan yang tahu.
"Nadhea!" Kaivan menggenggam tangan Nadhea dengan tangan kirinya.
"Iya."
"Tadi pagi, aku sudah bicara dengan Om Wira. Beliau merestui niatku. Sekarang, tinggal jawabanmu yang kutunggu. Nadhea, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku dan menikah denganku?" Kaivan menyodorkan kotak beludru merah dan memperlihatkan cincin yang berhiaskan batu permata warna biru safir.
Nadhea menganga tak percaya. Tak pernah dipikirkan jika Kaivan langsung memberinya cincin. Rupanya, memang seserius itu perasaan Kaivan terhadapnya.
"Ini ... ini ... Bang Kai, kamu serius?"
Kaivan tersenyum, "Tentu saja."
"Dengan keadaanku yang seperti ini?"
"Memangnya seperti apa?" Kaivan menangkup pipi Nadhea. "Bagiku, kamu sangat istimewa. Kamu wanita terbaik yang pernah aku jumpai. Aku sangat mencintai kamu," sambungnya.
__ADS_1
"Aku bukan perawan. Umurku udah nggak muda, hampir 29 dan itu lebih tua darimu. Selain itu, aku pernah mengonsumsi obat KB. Jika hal itu membuatku sulit atau bahkan tidak bisa hamil, bagaimana?" Nadhea bicara dengan harap-harap cemas. Takut jika tiba-tiba Kaivan memilih mundur. Hendak diam saja, Nadhea lebih takut, karena akan lebih buruk jika hal itu menjadi masalah di kemudian hari—setelah semuanya telanjur jauh.
"Perawan atau bukan, bagiku bukan masalah. Kemuliaan seorang wanita tidak berdasarkan pada selaput dara. Soal umur, kita hanya terpaut tiga tahun, dan dari segi wajah kamu malah tampak lebih muda dariku. Soal hamil atau tidak, itu juga bukan masalah. Aku tidak menuntutmu untuk melahirkan darah dagingku, aku pasrah saja dengan kehendak Tuhan. Nadhea, tidak peduli kamu bisa punya anak atau tidak, aku tetap mencintai kamu," jawab Kaivan diiringi tatapan lekat.
"Tapi____"
"Jika memang itu yang menjadi kekuranganmu, izinkan aku melengkapinya dengan kelebihanku. Lantas, lengkapi kekuranganku dengan kelebihanmu," pungkas Kaivan.
Nadhea terharu mendengar ucapan Kaivan. Sungguh tak disangka lelaki yang menjadi pujaannya sejak dulu, kini duduk di hadapannya sambil mengutarakan perasaan. Rasanya masih seperti mimpi.
"Nadhea, kamu sudah punya jawabannya?" tegur Kaivan.
Nadhea mengangguk, lalu mengambil cincin permata dari tempatnya, kemudian meraih tengan Kaivan dan meletakkan cincin itu di sana.
"Pakaikan, ya?" Nadhea menggigit bibir bawahnya, antara malu dan terharu.
"Jadi___"
Kaivan bernapas lega. Dengan senyum yang makin mengembang, dia meraih tangan Nadhea dan menyematkan cincin di jari manisnya.
"Kamu ... juga mencintaiku, kan?" goda Kaivan.
"Masihkah itu dipertanyakan?"
"Tentu saja."
"Kamu sudah tahu jawabannya, bahkan jauh sebelum ini," ucap Nadhea dengan pipi yang makin bersemu.
"Terlalu jauh, takutnya sudah pudar. Aku butuh jawaban yang sekarang," sahut Kaivan.
Nadhea tertawa pelan, "Aku sudah menjawab."
__ADS_1
"Hanya bersedia menikah, tidak ada kata cinta. Ayolah, katakan sekarang!" bujuk Kaivan. Dia senang melihat Nadhea yang makin tersipu.
"Aku juga mencintaimu, Bang Kaivan Diratama Alshaki." Nadhea bicara sembari menatap sekilas.
Dalam batin, Kaivan bersorak girang. Lantas, tanpa peduli dengan pengunjung lain, juga dengan pelayan yang sengaja berdiri sedikit jauh agar tidak menganggu, Kaivan menggenggam tangan Nadhea dan menciumnya dengan lembut.
Seakan ada aliran listrik yang menyengat Nadhea ketika bibir basah Kaivan menyentuh tepat di kulitnya. Perlahan, sengatan itu berubah menjadi rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Terima kasih, Sayang."
Ciuman kedua yang diiringi dengan kalimat merdu, sontak saja membuat perasaan Nadhea makin tak karuan.
Belum sempat Nadhea memberikan tanggapan, tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata Prawira yang menelepon. Nadhea menjawabnya tanpa beranjak dari hadapan Kaivan.
"Assalamu'alaikum, Pa."
"Apa!" teriak Nadhea usai mendengar penjelasan dari ayahnya.
"Sayang, ada apa?" tanya Kaivan dengan cepat. Dia tahu telepon dari calon mertuanya bukan kabar baik. Pasalnya, Nadhea langsung berteriak dan raut wajahnya pun berubah tegang.
"Kita harus pulang!" ujar Nadhea sambil beranjak.
"Ada apa?" Kaivan kembali bertanya sambil mengikuti langkah Nadhea.
Namun, rasa penasaran Kaivan tak kunjung berujung. Nadhea makin mempercepat langkah, bahkan setengah berlari.
"Nadhea, setidaknya katakan dulu ada apa? Om Wira baik-baik aja, kan?" tanya Kaivan ketika mereka tiba di dalam mobil.
Nadhea menghapus setitik air mata yang mulai jatuh, "Papa baik, tapi Luna."
Gerakan Kaivan terhenti sesaat. Dia menatap Nadhea yang makin menjatuhkan banyak air mata. Apa gerangan yang terjadi pada Luna? Mengapa terjadi saat dia dan Nadhea baru saja menjalin hubungan resmi? Apa maksudnya?
__ADS_1
Bersambung...