Noda

Noda
Pesan Dari Nomor Asing


__ADS_3

Sorot lampu mobil bergerak menjauh dan meninggalkan halaman rumah Bu Fatimah. Aku dan beliau berdiri di ambang pintu melepas kepergian Kak Darren. Kotak cincin masih kupegang erat dalam genggaman, ada rasa haru yang menyeruak dalam khalbu. Sebelumnya aku tak pernah membayangkan jika ada insan yang mau mencintaiku dan menerima aibku.


"Bunda sangat bahagia hari ini, akhirnya kamu menerima pinangan Darren. Bunda selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Kirana, semoga pernikahan ini menjadi awal yang indah untukmu." Bu Fatimah merangkulku dan mengusap lenganku.


"Amin, aku juga berharap demikian, Bunda. Aku akan belajar mencintai Kak Darren dan melupakan semua kenangan yang telah lalu. Terima kasih, Bunda," jawabku.


"Tidak perlu berterima kasih, Bunda hanya berusaha membantu kalian. Darren sudah lama memendam perasaan untukmu, sedangkan kamu juga butuh sosok lelaki untuk menjadi pendamping hidup." Bu Fatimah mengajakku masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Bunda sudah lama, ya, tahu tentang perasaannya Kak Darren?" tanyaku, penasaran.


"Tidak." Bu Fatimah menggeleng. "Baru beberapa waktu dan itu pun karena ada seseorang yang memberitahu Bunda," sambung beliau.


"Seseorang, siapa, Bunda?" tanyaku, semakin penasaran.


"Kamu ingat nggak, waktu Bunda menyuruhmu mengantarkan kosmetik ke tempat Tante Nia?" Bu Fatimah balik bertanya.


"Iya, ingat." Aku menjawab sambil mengangguk.


"Katanya, kamu sedikit ribut sama Darren. Nah, dari sana Tante Nia tahu kalau perempuan yang dicintai Darren itu kamu. Tante Nia ngomong sama Bunda, dan dia juga ngajak Bunda untuk jodohin kalian. Bunda pikir-pikir, nggak ada salahnya mencoba. Darren lelaki yang baik, menurut Bunda dia lumayan cocok jadi pasangan kamu," jawab Bu Fatimah yang lantas membuatku terperangah.


Aku kembali teringat dengan masa itu, ketika Tante Nia menelepon seseorang dan membicarakan tentang kerjasama. Ternyata, kerjasama yang dimaksud hanyalah perjodohan, bukan rencana jahat seperti yang kupikirkan. Oh tidak, berhari-hari aku mengonsumsi air kelapa, dan ternyata tidak ada gunanya. Diam-diam aku menunduk dan tersenyum sendiri.


"Sungguh konyol," ucapku dalam hati.

__ADS_1


"Kirana, segera kabari Mbak Ambar ya, dia pasti menunggu keputusan kamu," ucap Bu Fatimah.


"Iya, Bunda, aku akan menelepon Ibu, malam ini juga." Aku menjawab sambil mengangguk.


"Itu bagus. Ya sudah, telfon saja sekarang, keburu malam," kata Bu Fatimah.


"Iya, Bunda." Aku beranjak sembari tersenyum. "Kalau begitu aku ke kamar dulu ya. Selamat malam, Bunda, selamat beristirahat," sambungku.


"Selamat malam, Kirana."


Aku melangkah menuju kamar, meninggalkan Bu Fatimah yang masih duduk di ruang tamu.


Aku masuk dan mencium kening Dara yang sudah terlelap. Kemudian aku duduk di sofa dan meraih ponsel yang kuletakkan di atas meja. Lantas, aku menghubungi nomor Ibu.


"Assalamu'alaikum, Kirana," sapa Ibu, ketika sambungan telepon sudah terhubung.


"Ini baru masuk kamar, ada apa?" Suara Ibu menyiratkan kekhawatiran, memang tidak biasanya aku menelepon di waktu malam.


"Ada kabar baik, Bu," jawabku.


"Kabar baik, apa?"


"Keponakan Bunda itu ternyata Kak Darren. Itu lho, Bu, cowok yang dulu satu kampus sama aku, yang pernah ngontrak di dekat rumah kita. Ibu ingat, 'kan?" Aku balik bertanya.

__ADS_1


"Iya, ingat. Lalu ... kamu sudah membuat keputusan?"


"Sudah, Bu. Aku menerima pinangannya. Katanya, dalam waktu dekat dia akan membawa orang tuanya menemui Ibu. Dia juga bilang, secepatnya akan menghalalkan aku," ungkapku pada Ibu.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Kirana, Ibu sangat senang mendengar kabar ini, Nak. Semoga pilihanmu ini menjadi langkah awal untuk masa depanmu. Ibu sangat merestui keputusanmu, Nak," ucap Ibu. Dari suaranya, tampak jelas bahwa beliau sangat terharu, dan hal itu membuatku mengulum senyum.


"Amin, aku juga berharap demikian, Bu," sahutku dengan hati yang berdebar.


"Kabari lagi ya kalau mau datang, agar Ibu bisa menyambut mereka dengan sedikit jamuan."


"Iya, Bu, nanti kutelepon lagi. Ya sudah, sekarang Ibu istirahat ya, aku tutup teleponnya," ucapku.


"Iya, kamu juga cepat istirahat ya, Nak," kata Ibu.


"Iya, Bu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Kuhela napas panjang, setelah mengakhiri sambungan telepon. Rasanya sangat lega mendengar Ibu merestui keputusanku. Kemudian, kuletakkan kembali ponselku di atas meja. Aku beranjak dan hendak beristirahat. Namun, baru saja aku melangkahkan kaki, tiba-tiba ponselku berdering.


Aku membalikkan badan dan memeriksa pesan yang baru saja kuterima. Aku mengernyitkan kening, karena nomor pengirim tidak tercantum dalam daftar kontakku.


"Siapa ini," gumamku, pelan.

__ADS_1


Lantas, kubuka pesan itu dan kubaca kata demi kata yang tertera di layar ponsel. Mendadak jantungku berdetak cepat, dan rasanya tubuhku pun ikut panas-dingin.


Bersambung...


__ADS_2