Noda

Noda
Dilema


__ADS_3

Jantungku berdegup kencang, kala mendengar ungkapan cinta dari Kak Darren.


Memang bukan pertama kali, namun kali ini ungkapan itu terdengar lebih tulus dari sebelumnya. Rasa takut kehilangan, seakan tersirat dalam setiap kata-katanya. Oh Tuhan, sebesar itukah perasaannya padaku?


"Kak, aku tidak akan meninggalkan kamu. Aku sudah memilihmu. Keputusan ini tidak akan berubah," jawabku.


"Kamu yakin?" tanya Kak Darren yang lantas kutanggapi dengan anggukan.


"Walau seandainya ada lelaki yang amat-sangat mencintaimu?" Kak Darren kembali bertanya.


"Mungkinkah yang dimaksud itu Reza? Apa sebenarnya yang telah ia katakan pada Kak Darren?" ucapku dalam hati.


"Bukankah kamu juga sangat mencintaiku?" Kulayangkan pertanyaan balik untuknya.


"Itu jelas. Aku sangat mencintaimu, Kirana. Aku yakin perasaan ini jauh lebih besar dari lelaki yang lain," jawab Kak Darren.


"Jika demikian, apalagi yang kamu ragukan, Kak? Selama kamu masih mencintaiku dan mengharapkan aku, aku tidak akan berpaling." Aku tersenyum sambil menggeleng.


Kak Darren kembali menatapku dengan lekat. Bibirnya terkatup rapat, hanya dada dan bahu yang bergerak mengikuti irama napasnya.


"Aku sudah memilihmu, dan aku tidak bermain-main dengan keputusanku. Percayalah, aku tidak akan pergi," sambungku, sebelum Kak Darren bicara.


Entah mengapa aku sangat resah, kala melihatnya berselimut sendu. Seakan hatiku ikut terluka, memandang gurat pilu dalam netra. Apakah karena dia calon suamiku, ataukah mungkin karena hatiku mulai berbelok arah?


Apapun jawabannya, yang jelas itu membuatku yakin pada keputusan yang telah kuambil. Kak Darren berani memilihku, tanpa mempermasalahkan status dan kekurangan. Tidak seharusnya aku membuat dia kecewa, apalagi terluka.


"Terima kasih, Sayang," ucap Kak Darren.


"Tidak perlu berterima kasih, sudah seharusnya aku melakukan ini." Aku menunduk dan menyembunyikan senyuman.


"Kapan-kapan aku akan bercerita tentang Reza. Sekarang ... ayo kembali ke ruang tamu, sudah cukup lama kita pergi," kata Kak Darren. Suaranya terdengar lebih ringan dari sebelumnya.


"Baiklah, kapan-kapan kita ngobrol. Aku pula ada satu hal yang ingin kutanyakan sama Kakak." Aku menjawab sambil mengikuti langkah Kak Darren.


"Tidak perlu bertanya. Jawabannya sesuai dengan yang kamu pikirkan," kata Kak Darren. Dia memandangku sekilas sembari menaikkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Memangnya Kakak tahu, apa yang mau kutanyakan?" tanyaku padanya.


"Sepertinya tahu."


"Apa?"


Kak Darren menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan menatapku sambil tersenyum.


"Sayap kumbang pernah patah, karena melati tak pernah mekar untuknya. Namun sekarang, sayap si kumbang kembali tumbuh. Ia bisa terbang tinggi, karena melati telah menyerahkan tangkainya." Kak Darren semakin melebarkan senyumannya.


Aku terkesiap seketika, aku ingat benar tentang sajak Melati dan Kumbang. Ternyata orang yang telah mengirimkan tulisan itu memang benar Kak Darrren.


"Kak Darren memberikan jawaban yang tepat. Kenapa dia bisa tahu jika memang itu yang kupikirkan?" ucapku dalam hati.


"Aku benar 'kan, Sayang?" Kak Darren mengedipkan sebelah matanya.


"Aku tidak tahu." Aku menjawab sambil melangkahkan kaki.


Aku terus berjalan, meninggalkan Kak Darren yang masih bergeming di tempatnya. Wajah ini rasanya memanas, dan aku tidak ingin dia melihat pipiku yang memerah.


Perbincangan serius mulai terdengar samar-samar, kala aku melangkah di ruang tengah. Ibu dan calon mertua sedang membahas hari pernikahan. Entah seperti apa kesepakatan mereka.


Akan tetapi, aku tidak tahu keinginanku itu diluluskan atau tidak. Keluarga Kak Darren termasuk keluarga terpandang, dan lagi Kak Darren juga anak tunggal. Aku tidak akan bisa menolak, jika mereka menginginkan pesta besar untuk putra satu-satunya.


Tak lama kemudian, aku tiba di ruang tamu. Aku mengangguk sambil tersenyum kala calon mertua menatap ke arahku. Lantas, aku duduk di tempat semula. Sembari mendaratkan tubuh, aku melirik ke segala penjuru. Ke mana Reza? Apakah dia sudah pulang? Apakah dia benar-benar kecewa?


Bermacam pertanyaan mulai mengganggu pikiran.


Detik berikutnya, Kak Darren pun tiba. Dia duduk di depanku dengan raut wajah yang sumringah. Lantas, Ibu dan calon mertua menyampaikan hasil rembukan perihal waktu pernikahan. Dari kesepakatan mereka, pernikahanku dan Kak Darren akan dilangsungkan bulan depan.


"Apa kalian setuju?" tanya Bu Renata.


Aku dan Kak Darren saling pandang, lalu dia mengangguk pelan. Tak berselang lama, aku pun ikut mengangguk, sebagai isyarat bahwa aku juga setuju dengan kesepakatan orang tua.


"Iya, Ma, kami setuju," kata Kak Darren pada ibunya.

__ADS_1


"Kirana?" Bu Renata memandang ke arahku.


"Saya juga setuju, Tan___"


"Mama," pungkas Bu Renata.


"Eh, mmmm___"


"Sebentar lagi kamu jadi anak Mama, jadi tidak ada salahnya 'kan memanggil Mama dari sekarang?" kata Bu Renata.


"Mmm, i ... iya, Ma." Aku terbata kala melontarkan jawaban. Aku belum terbiasa memanggil beliau dengan sebutan mama.


"Jangan gugup, jangan takut, Mbak Renata orangnya baik. Dia sayang sama kamu, Ra," bisik Bu Fatimah, yang kemudian kutanggapi dengan senyuman.


Setelah aku dan Darren menyetujui waktu pernikahan, Ibu dan mertua membahas tentang jalannya acara. Awalnya, Bu Renata bersikeras mengadakan pesta mewah. Mengundang teman, kerabat, dan semua koleganya. Namun, berkat penjelasan dari Kak Darren dan juga Bu Fatimah, beliau mengalah. Beliau setuju dengan pernikahan yang sederhana.


Aku bernapas lega, karena bukan tanpa alasan aku meminta demikian. Aku sudah memiliki Dara, sementara statusku masih lajang. Aku takut keadaanku mempermalukan keluarga Kak Darren.


"Reza ke mana, Om?" tanya Kak Darren secara tiba-tiba.


"Pulang," jawab Pak Farhan, ayahnya Reza.


Kulihat beliau mengembuskan napasnya dengan berat, seolah ada beban yang berusaha dipendam.


"Kamu tahu sendiri 'kan gimana adek kamu itu, Ren. Hal seperti ini menjadi sesuatu yang sangat sensitif baginya," sahut Bu Lena, ibunya Reza.


"Iya. Aku paham." Kak Darren tersenyum getir.


"Sebenarnya aku malu dengan sikapnya barusan, dia langsung pergi tanpa permisi. Padahal ... kita sedang bertamu," keluh Bu Lena.


"Tidak apa-apa, Bu, kami paham. Dalam kalangan anak muda, cinta itu memang istimewa. Tidak heran jika Nak Reza bersikap demikian. Saya turut mendoakan, Bu, semoga gadis yang dicintai Nak Reza segera luluh dan mau menerimanya," timpal Ibu.


"Amin, saya sangat bahagia jika harapan itu terwujud. Beberapa bulan terakhir, Reza seperti hilang arah. Dia benar-benar terpuruk. Andai saja saya tahu siapa gadis itu, saya akan berusaha keras membantunya. Tapi sayang, Reza tak mau menyebutkan namanya." Bu Lena menunduk sembari mencengkeram tangkai cangkir. Tampak jelas jika beliau sedang memikirkan hal berat.


Hatiku berdebar, resah dan gelisahnya semakin nyata. Mungkinkah gadis itu adalah diriku? Kuangkat sedikit wajahku dan kutatap Kak Darren. Tangannya mengepal erat dan rahangnya pula mengeras. Dia seperti lelaki yang sedang menyimpan api cemburu. Kini aku tahu, gadis itu memanglah diriku.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Aku memang marah dengan sikapnya di masa lalu, tapi aku tidak berniat menyakitinya, apalagi sampai membuatnya hilang arah. Namun, aku juga tidak mungkin mengulurkan tangan dan menerima cintanya. Aku sudah bersama Kak Darren. Aku sendiri yang memilihnya, mana mungkin aku pergi. Ya Allah, hamba tidak ingin melukai salah satu di antara mereka, tolong jangan tempatkan hamba dalam dilema. Ijinkan hamba bahagia, Ya Allah," ucapku dalam hati.


Bersambung...


__ADS_2