Noda

Noda
Ujian untuk Luna


__ADS_3

"Aku ... aku___" Kaivan salah tingkah. Dia bingung harus bersikap bagaimana, masuk atau tidak, baginya serba salah.


Nadhea tersenyum seraya mengusap lengan Kaivan, "Masuklah, Bang! Anggap saja kamu sedang menjenguk adik ipar."


Melihat senyuman Nadhea yang sepertinya bukan pura-pura, Kaivan langsung mangiakan permintaannya. Dia masuk ke ruangan Luna dan melihat wanita yang dulu pernah bertakhta di hatinya.


Sekali tatap, Kaivan langsung menaruh simpati. Keadaan Luna yang memprihatinkan membuat Kaivan merasa kasihan, bahkan dia melupakan sejenak kekecewaan yang pernah ditorehkan. Wanita karier yang dulu selalu tampil menawan, sekarang tergolek di ranjang dengan penampilan yang berantakan.


Sebelum Kaivan sempat bergumam, tiba-tiba mata Luna mengerjap pelan. Sontak saja Kaivan terkejut, terlebih lagi saat menyadari bahwa mata Luna sudah membuka sempurna.


"Kaivan! Ini benar kamu, Kai? Aku nggak sedang mimpi, kan?" Mata Luna yang sayu tampak berbinar ketika mendapati sosok lelaki yang dicintai ada di hadapannya.


"I-iya, ini, ini aku," jawab Kaivan dengan sedikit gugup. Ia salah tingkah mendapati Luna yang langsung siuman saat dijenguk olehnya.


"Kai!" Luna memanggil lemah seraya berusaha meraih tangan Kaivan.


Tak ada pilihan, Kaivan mendekat dan membiarkan tangannya digenggam oleh Luna, tidak hangat seperti dulu. Entah karena Luna sedang sakit, atau karena rasa cinta yang sudah tidak ada untuknya.


"Maafkan aku, Kai. Aku salah telah membohongi dan mengkhianati kamu. Aku janji, Kai, ke depannya hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Aku sangat beruntung, masih mendapat maaf dan kesempatan darimu. Terima kasih banyak ya, Kai."


Air mata Luna berjatuhan. Setelah sekian lama Kaivan menghilang tanpa meninggalkan maaf, kini tiba-tiba muncul tepat di hadapannya, dengan senyum dan suara yang sama lembut seperti dulu. Dari sana, Luna menganggap bahwa Kaivan sudah memaafkan dan memberinya kesempatan.

__ADS_1


"Luna, sebenarnya aku___"


"Kaivan, kamu tahu apa yang membuatku seperti ini?" pungkas Luna. Dia menatap sendu ke arah Kaivan seraya mengusap pelan punggung tangan lelaki itu.


"Aku nggak punya apa dan siapa sekarang, Kai. Mama nikah dan nggak mau lagi sama aku. Dia ikut suaminya ke luar negeri. Harta dari Papa sudah habis, bahkan rumah pun sudah dijual. Saat ini, yang kupunya hanya nyawa, Kai." Luna mulai terisak.


Kaivan tertegun. Sekarang dia tahu apa yang membuat Luna murung dan mengamuk. Rupanya, Ambar telah semena-mena terhadap Luna.


"Luna," panggil Kaivan dengan pelan, yang kemudian ditanggapi dengan tatapan lekat.


"Kamu nggak sendiri, masih ada ayah dan kakak yang sangat peduli padamu. Mereka ke sini, menjengukmu, hanya saja tadi kamu belum sadar," sambung Kaivan.


"Jangan berasumsi sendiri. Percayalah padaku, mereka masih peduli. Mereka___"


"Kamu tahu, Kai, hubunganku dengan Nadhea itu sebenarnya seperti apa?" potong Luna dengan sorot mata yang makin meredup.


"Saudara beda ibu."


Luna terperangah, "Kamu tahu dari mana?"


Sungguh dia tak menyangka jika Kaivan mengetahui rahasia besar itu.

__ADS_1


"Om Wira yang memberitahuku." Kaivan mengulas senyum tipis.


"Papa? Kamu ... masih berhubungan baik dengan Papa?" tanya Luna. Tatapannya kini menelisik, seolah mencari jawaban atas praduga buruknya.


"Iya. Makanya aku tahu kalau beliau sangat sayang sama kamu. Beliau panik dan langsung memesan tiket pesawat tercepat saat mendapat telepon dari sini," terang Kaivan.


"Tiket pesawat? Memangnya Papa di mana? Kai, apa ada banyak hal yang aku lewatkan?" Perasaan Luna makin tidak nyaman.


"Nadhea membuka galeri di Denpasar. Peresmiannya baru kemarin lusa. Aku ... ada di sana menghadiri peresmiannya."


Usai mendengar jawaban Kaivan, Luna berusaha bangkit. Namun, ia tak bisa. Selain tangannya diborgol, kepalanya pening, tubuhnya pun masih lemas.


"Luna, jangan sembarangan bergerak, kamu baru aja sadar. Tunggu sebentar ya, aku panggilkan dokter." Kaivan berucap seraya menenangkan Luna.


"Jangan!" Luna menarik tangan Kaivan.


Tepat pada saat itu, Luna melihat sesuatu yang lain di jari Kaivan. Luna terdiam dengan pandangan yang tetap terpaku.


"Kai, ini apa?" tanya Luna dengan gemetaran.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2