Noda

Noda
Hidup Adalah Perjalanan, Bukan Pelarian


__ADS_3

Aku menunduk, menitikkan air mata yang terus menggenang. Kucengkeram selimut yang menutupi tubuh, kali ini aku benar-benar rapuh. Mengapa selalu ada kendala? Mengapa titian yang kupijak selalu berantakan? Jika seperti ini, apalagi yang lebih indah selain kematian?


"Kirana, kenapa malah nangis?" Bu Fatimah meraih daguku dan mengusap air mataku.


"Maaf, saya tidak bisa menerima tawaran Ibu," bisikku, sangat pelan.


"Kenapa? Kamu masih tidak percaya dengan saya?" tanya Bu Fatimah.


"Saya percaya, tapi ... saya tidak bisa kembali ke pusat kota." Aku menjawab sembari menyibakkan rambut yang berantakan di sekitar wajah.


"Apakah dulunya kamu orang sana?" tanya Bu Fatimah, yang kemudian kutanggapi dengan anggukan.


"Apakah kamu ke sini, karena ingin pergi dan meninggalkan kisah pahitmu di sana?" Bu Fatimah kembali bertanya, dan aku pun kembali menanggapinya dengan anggukan.


"Kirana, dengarkan Ibu. Hidup ini adalah perjalanan, bukan pelarian. Seberat apapun masalah yang menimpamu, hadapilah, jangan berlari darinya! Seandainya kau berhasil pergi dan melupakan masalahmu, lantas apa yang kau dapat? Hanya kemenangan semu, Kirana, masa lalu itu akan tetap menghantuimu. Akan tetapi, jika kau tetap berdiri tegar dan menghadapinya tanpa berlari, kau akan menjadi pribadi yang baru. Pribadi yang hebat dan kuat. Masa lalu itu tidak akan lagi menghantuimu, karena kau benar-benar mengalahkannya. Kau akan menjadi pribadi yang bijak dan dewasa, yang akan selalu siap menghadapi kerasnya dunia. Ingat, Kirana, dalam kehidupan, masalah itu pasti ada, dan kau tidak mungkin terus-terusan berlari darinya." Bu Fatimah menggenggam kedua lenganku. Sorot matanya teduh, seakan mampu menyejukkan perasaanku.


Aku mengambil napas dalam-dalam, sekali lagi aku mempercayai seseorang. Bu Fatimah, setiap kalimat yang beliau lontarkan, bak petuah yang syarat akan makna. Aku terpukau dengan nasihat-nasihatnya, dan aku memutuskan untuk ikut dengannya.

__ADS_1


"Aku memilih percaya, karena aku tak punya pilihan lain yang lebih baik. Aku akan kembali ke pusat kota, namun jika ini masih saja kepalsuan, aku tidak akan berpikir dua kali untuk menjemput kematian," ucapku dalam hati.


_______


Dua hari telah berlalu, sejak aku membuka mata dan kenal dengan Bu Fatimah. Kini, keadaanku sudah membaik, dan dokter sudah mengijinkan pulang. Biaya rumah sakit tidak sedikit, dan Bu Fatimah yang menanggungnya. Sebenarnya aku merasa tidak enak, tapi aku tidak punya pilihan lain.


"Jangan terlalu dipikirkan, Kirana! Ibu senang bisa membantumu, dan Ibu lebih senang lagi, karena kamu mau menerima ajakan Ibu. Kirana, jika kamu tidak keberatan, Ibu sangat berharap kamu panggil Bunda."


Ucapan Bu Fatimah masih terus terngiang di telingaku, kendati ucapan itu sudah beliau lontarkan beberapa jam yang lalu. Sekarang, aku sedang duduk di dalam mobil, di samping Bu Fatimah, kami sedang dalam perjalanan menuju pusat kota.


Dari pengamatanku, sepertinya Bu Fatimah bukan orang sederhana. Mobilnya mewah, dan barang-barang yang dikenakannya pun tampak elegan. Entah apa yang membuat beliau mau menolongku. Apa karena keadaanku yang memrihatinkan, ataukah mungkin beliau punya alasan lain. Apapun itu, aku hanya berharap semoga keadaan mau memihakku, semoga Tuhan memudahkan urusanku.


"Iya, Nak." Bu Fatimah menoleh sekilas.


"Apakah Bunda yakin mengajakku tinggal di tempat Bunda? Dengan keadaanku yang seperti ini, pasti banyak yang menghinaku, apa Bunda tidak malu?" tanyaku dengan hati-hati.


Bu Fatimah tak menatapku, namun beliau mengulas senyum lebar.

__ADS_1


"Apapun tanggapan orang luar terhadap kamu, Bunda tidak akan menyesali keputusan ini. Justru Bunda akan menjadi orang pertama yang membelamu, ketika orang lain berusaha memojokkan. Kirana, Bunda juga pernah berada di posisi yang sulit, dimana dunia dan keadaan tak memiliki keadilan. Mungkin ... kisah yang Bunda alami tidak kalah pahitnya dengan kisahmu saat ini," jawab Bu Fatimah dengan tatapan sendu.


"Bunda pernah___" Kugantungkan kalimatku, aku tidak punya kata-kata yang tepat untuk meneruskannya.


"Nikmati saja perjalanan ini, nanti setelah kita tiba di rumah, baru kita berbagi masalah masing-masing. Kita saling bercerita dan saling mendengarkan, ya!" Bu Fatimah mengusap kepalaku.


"Iya, Bunda. Mmmm tapi, masih ada sedikit hal mengganjal, bolehkah aku bertanya, Bunda?" Kutatap wajah Bu Fatimah yang fokus dengan kemudinya.


"Tanyakan saja, Nak, jangan sungkan dan jangan ragu."


"Kenapa Bunda menolongku? Apa karena keadaanku yang memrihatinkan, atau ... karena Bunda punya alasan lain?" tanyaku dengan pelan.


Cukup lama Bu Fatimah diam tanpa kata, lantas beliau menepikan mobilnya, dan berhenti di bawah pohon akasia.


"Apa kamu kecewa, jika Bunda menolongmu karena alasan lain?" Bu Fatimah balik bertanya.


"Apa alasan Bunda?" Kutatap manik hitamnya yang saat ini juga sedang memandangku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2