
"Kirana, kamu baik-baik aja, 'kan?" Daniel melambaikan tangannya tepat di depan mataku.
Aku terkesiap dan mengerjap cepat. Lantas aku menunduk dan mengusap sudut mataku yang mulai basah. Liontin yang Daniel kenakan adalah benda yang membentangkan jarak terjauh di antara kami, yakni liontin salib.
Selama ini, benda semacam itu tak pernah melekat di tubuh Daniel, walaupun keyakinan itu sudah ia peluk sejak kecil.
"Daniel." Aku mendongak dan lagi-lagi tatapanku tertuju pada liontinnya.
"Ada apa, Ra? Ada yang salah denganku?" tanya Daniel. Mungkin dia risih karena aku terus menatapnya
"Ka ... kalung kamu," jawabku dengan gugup.
Daniel menggenggam liontin yang menggantung di lehernya, sangat erat. Lantas dia menghela napas panjang dan menatapku sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang bagiku sangat menyakitkan.
"Aku sudah menemukan jawabannya, Kirana, aku sekarang paham arti sebuah keyakinan. Maafkan aku yang tak bisa mengikis jarak di antara kita, tapi aku tidak akan berhenti untuk membahagiakan kalian ... dengan cara yang benar," kata Daniel.
Aku mengernyitkan kening, belum terlalu paham dengan maksud ucapannya.
"Waktu itu, aku sangat terluka mendengar kabar tentangmu. Kamu terluka dan menderita seorang diri, hingga akhirnya aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan selalu menemanimu dan membahagiakan kamu, apapun caranya. Aku bahkan rela meski harus mengorbankan keykinan. Dan dua bulan yang lalu adalah waktu tersulit bagiku. Melihatmu berhijab, itu rasanya sangat sakit. Aku seakan kehilangan harapan untuk hidup bersamamu. Apalagi ketika kamu menolak saat aku akan pindah keyakinan, aku sangat putus asa, Kirana." Daniel melepaskan genggaman di liontinnya, dan ia mengusap wajahnya yang sedikit berkeringat.
"Pulang dari sini aku tidak langsung ke kontrakan, tapi berdiam diri di pantai. Tempat yang dulu sering kita kunjungi bersama. Maaf, Kirana, aku melampiaskan kesedihanku dengan sesuatu yang salah. Aku mabuk di sana sampai malam tiba. Hal itu tidak cukup sekali saja, Kirana, pelampiasan itu kulanjutkan hingga beberapa hari kemudian. Aku mengalami krisis keyakinan, aku terlalu mengeluh dengan ujian yang Tuhan berikan. Sampai akhirnya, Tuhan mempertemukanku dengan Pendeta. Dari beliau aku belajar banyak tentang agama, dan akhirnya aku menjadi pribadi yang seperti sekarang," sambung Daniel masih dengan kalimat panjang.
Aku memejamkan mata sekilas, menenangkan hati yang kian sesak karena kenyataan yang menyakitkan.
"Kirana, kata-katamu waktu itu sangat benar. Tidak seharusnya meninggalkan Tuhan demi cinta dan masa depan, karena Tuhan adalah pemilik cinta dan kehidupan yang sebenarnya.
Saat aku berada di titik terendah, Tuhan mempertemukanku dengan cahaya kehidupan. Sampai akhirnya mata hatiku terbuka untuk meyakini agamaku dengan sungguh-sungghh. Kirana, mungkin hadirnya Dara adalah salah satu cara Tuhan untuk menyadarkan kita dan memanggil kita untuk lebih dekat dengan-Nya." Daniel tersenyum lebar.
Aku pun ikut tersenyum, walaupun jauh di dasar hatiku rasanya sangat sakit.
Di satu sisi aku sangat kagum dengan pemikiran Daniel saat ini, dia jauh lebih baik dari waktu itu. Namun, di sisi lain aku juga terluka. Daniel semakin mencintai keyakinannya, artinya aku dan dia tidak akan pernah bersama.
__ADS_1
"Maafkan aku yang tidak bisa mencintai keyakinanmu, dan maafkan aku yang tidak bisa menikahimu. Tapi, aku berjanji akan selalu bertanggung jawab. Aku akan mengirimkan biaya untuk kalian, aku akan tetap melakukan ini meskipun nanti aku atau kamu sudah menikah. Aku tidak menuntut hak asuh ataupun semacamnya atas anak kita, dia akan tetap menjadi hak milikmu sepenuhnya. Namun aku yang membuatmu hamil. Aku yang merusakmu, dan aku pula yang sudah menghancurkan masa depanmu, jadi biarkan aku menebus sedikit kesalahanku." Daniel bicara sambil meletakkan kartu ATM di atas meja.
"Daniel, kamu tidak perlu melakukan itu. Semua ini bukan murni kesalahanmu ... aku juga ikut andil salah dalam hal ini," ucapku dengan kepala yang tertunduk.
"Aku tahu, tapi aku yang paling bersalah. Terimalah, Kirana, ini sudah direstui oleh orang tuaku," kata Daniel yang lantas membuatku kembali mendongak.
Daniel tersenyum kala aku menatapnya. Lantas dia menghela napas panjang, sebelum melontarkan penjelasan.
"Dulu, Mama sama sekali tidak setuju saat aku mengirimkan biaya untukmu. Mama tidak suka denganmu, karena aku senantiasa mencintaimu, padahal ... kita berbeda. Sekarang, Mama sudah tahu bagaimana diriku. Meskipun perasaan ini masih jelas ada, tapi aku tidak berusaha menentang keadaan demi bersama denganmu. Kini aku lebih dekat dengan Tuhan, sedangkan perasaan ini cukup kusimpan rapat dalam hati. Mama bahagia melihat aku yang sekarang, Kirana. Berkat cahaya yang Tuhan berikan, hubunganku dengan orang tua kembali membaik, setelah sekian lama sempat renggang. Satu lagi, Kirana, sekarang Mama tidak lagi membencimu, Mama bahkan mau menerima kehadiran Dara," terang Daniel.
"Benarkah?" Aku seakan tak percaya mendengar perkataan Daniel. Mengingat sikapnya yang pernah membayar Reza, rasanya masih ragu jika sekarang mau menerima kehadiran Dara.
"Benar." Daniel mengangguk. "Mama membencimu, karena aku mencintaimu dan bersikeras menikah denganmu. Namun sekarang tidak, aku sudah mengerti dengan perbedaan kita. Aku tidak menentang keadaan, juga tidak memaksakan perasaan. Aku sadar, keyakinan bukanlah mainan. Sekarang aku mengerti maksud ucapanmu kala itu," sambungnya.
Lagi-lagi aku menunduk. Perasaan ini masih sama besar seperti dulu, namun keadaan tak memberikan jalan untuk bersatu. Sekian waktu aku berharap Daniel mengenal keyakinanku dan beriman dengan sepenuh hati. Namun ternyata, Tuhan tidak mengijinkan yang demikian.
"Kirana, kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Daniel.
"Kamu kecewa?" Daniel kembali bertanya.
"Tidak. Mungkin ... memang ini yang terbaik untuk kita. Aku senang melihat pemikiranmu yang sekarang, kau jauh lebih baik dari waktu itu. Tapi ... bolehkah aku meminta satu hal?" Kutatap wajahnya dengan lekat.
"Katakan saja," jawab Daniel.
"Permintaanku masih sama seperti dulu, Daniel. Tolong jangan menikah dengan seseorang yang aku kenal, terlebih lagi mereka yang berstatus sahabat," ucapku dengan harap-harap cemas.
"Tidak, Kirana. Maafkan aku yang dulu sempat dekat dengan Nindi. Semua itu karena Mama yang meminta. Ke depannya, aku akan mencari wanita asing yang tidak ada hubungannya denganmu." Daniel berkata sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih. Mmmm, Daniel, apakah kamu juga punya permintaan yang sama?" tanyaku padanya.
"Tidak." Daniel menggeleng. "Dengan siapa pun kamu menikah dan jatuh cinta, aku rela, Kirana. Entah itu Reza, teman kita yang lain, ataupun orang asing. Aku tidak masalah, asalkan dia benar-benar mencintaimu dengan tulus," sambungnya.
__ADS_1
"Begitu ya?"
"Iya. Bagiku yang terpenting adalah kebahagiaanmu. Tidak peduli dengan siapa kau bersama, asal kamu bahagia, aku pun ikut bahagia, Kirana," jawab Daniel.
Aku terdiam dan membiarkan keheningan yang menyelimuti kebersamaan kami. Hanya deru napas yang sesekali terdengar bersahutan.
"Kirana," panggil Daniel.
"Hmmm," gumamku.
"Semoga hubungan kita tetap membaik, ya. Semoga kita bisa memberikan masa depan untuk Dara, meskipun kita tidak bersama dalam ikatan pernikahan." Daniel menyesap kopinya dan kemudian kembali menatapku.
"Semoga saja. Oh ya, apa kamu akan kembali ke Medan?" tanyaku.
"Tidak. Aku akan membantu pekerjaan Papa di sini," jawab Daniel dan hanya kutanggapi dengan anggukan.
Menit berikutnya, kami saling bercanda dengan Dara. Aku mencoba meredam rasa sakit dan kecewa karena kenyataan yang tak sesuai dengan harapan.
Setelah cukup lama waktu berjalan, Daniel pamit pulang. Katanya dia akan kembali beberapa waktu lagi. Usai menciumi Dara, dia beranjak dan menatapku dengan lekat.
"Keadaan memang memaksa kita untuk saling menghapus perasaan, namun keadaan tidak melarang kita untuk saling mendoakan. Aku akan tetap menyebut nama kamu dalam setiap doaku, Kirana. Kebahagiaan kamu, tetap menjadi harapan terbesarku," kata Daniel, sebelum pergi meninggalkan aku.
"Aku pun demikian. Aku akan tetap mendoakan kamu dalam setiap sujudku. Semoga kamu bahagia, Daniel, dan semoga ... aku bisa menghapus perasaan ini."
Ingin rasanya aku mengucapkan kalimat itu dengan lisan, namun sayang lidahku mendadak kelu. Alhasil, aku hanya bisa mengatakannya dalam batin.
Daniel berlalu pergi, setelah aku mengangguk. Kupandangi punggungnya yang kian menjauh dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia telah pergi. Perbedaan benar-benar memisahkan kami.
"Kuatkan hamba, Ya Allah." Aku membatin sambil menitikkan buliran air mata.
Bersambung...
__ADS_1