
Sinar surya menyerobot masuk ke kamar, ketika tirainya kubuka lebar. Aku mengambil napas dalam-dalam, menikmati semerbak wangi anggrek yang berbaur dengan aroma embun basah. Kicauan burung yang bersahutan, bak nyanyian alam yang tiada duanya. Aku mendongak, menatap hamparan langit biru yang berhiaskan mega-mega putih. Benar-benar lukisan pagi yang sangat menawan.
Setelah puas menikmati buaian alam, aku beranjak menuju kursi, di depan cermin. Tubuh sudah kubalut kemeja panjang warna putih, yang kupadukan dengan rok panjang longgar warna biru navy. Kusisir rambutku, dan kugulung ke atas. Lantas aku meraih kerudung warna putih, dan menutupkannya ke atas kepala.
Sudah satu bulan penuh, aku tinggal bersama Bu Fatimah. Hubungan kami semakin dekat, layaknya ibu dan anak yang sebenarnya. Berkat beliau, mata hatiku benar-benar terbuka. Aku menerima setiap takdir yang telah digariskan untukku, termasuk kehamilan, keburukan Reza, dan juga kepergian Daniel. Aku percaya, Tuhan punya rencana lain yang jauh indah dari segala hal yang pernah kupunya.
Aku pula mulai menjaga sikap. Aku tak mau lagi bersentuhan dengan lawan jenis. Aku berusaha menjaga pandangan dan senantiasa menutup aurat. Titik terendah yang pernah kulalui di kala itu, mengantarku pada secercah cahaya yang hakiki. Sekarang, aku benar-benar mengerti tentang kebahagiaan yang sejati. Percaya akan kebesaran Allah dan pasrah akan segala takdirnya, dari sanalah aku menemukan rasa ikhlas dan sabar, tanpa keputus asaan.
Aku tersenyum kala menatap pantulan diriku di dalam cermin. Berhiaskan kain kerudung, wajahku terlihat lebih teduh dari sebelumnya. Kemudian kuusap perutku yang semakin membuncit. Sekarang sudah memasuki bulan ke-9, dalam hitungan hari dia akan lahir dan menatap terangnya dunia.
"Bunda sangat menantikan kamu, Nak," ucapku, tanpa berhenti tersenyum.
Tak lama kemudian, kudengar bunyi ketukan pintu bersamaan dengan suara Bu Fatimah yang memanggilku.
"Kirana!"
"Iya, Bunda," jawabku dari dalam kamar.
"Sudah apa belum, Nak?"
"Sudah, Bunda." Aku menjawab sambil melangkah menuju pintu. Kami akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganku.
"Nanti nggak papa 'kan, kalau mampir sebentar ke toko?" tanya Bu Fatimah, ketika aku sudah membuka pintu.
"Iya, Bunda, nggak apa-apa." Aku menjawab sambil tersenyum.
Bu Fatimah adalah pemilik swalayan yang cukup besar. Ada 14 karyawan yang bekerja di sana. Tiga diantaranya merangkap supir dan mengantarkan barang ke pelanggan. Setiap hari, Bu Fatimah tak pernah absen melihat tokonya, walaupun terkadang hanya sebentar. Aku sudah tiga kali ikut ke sana, dan aku selalu berdecak kagum melihat ramainya pengunjung.
"Ya sudah ayo, nanti sekalian belanja buah dan susu. Persediaan di rumah sudah menipis." Bu Fatimah melangkah meninggalkan kamarku, dan aku pula mengikutinya di belakang.
__ADS_1
"Iya, Bunda." Lagi-lagi aku mengulas senyuman.
Bu Fatimah ini laksana malaikat yang menjelma dalam tubuh manusia. Beliau memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Hatinya mulia, tutur sapanya lembut dan menenangkan. Syarat akan makna, dan mampu mengetuk pintu hati lawan bicaranya. Kerap kali aku merutuki mantan suaminya, begitu bodohnya meninggalkan wanita sesempurna Bu Fatimah.
Beberapa menit kemudian, kami sudah duduk di dalam mobil. Meluncur dan menyusuri jalanan yang kian padat. Awalnya aku menikmati perjalanan ini, namun semakin lama, ketenanganku semakin terusik. Punggungku nyeri, dan perut bagian bawah pun juga terasa sakit. Entah apa yang terjadi dengan diriku.
"Bunda," panggilku. Rasa nyeri dan sakit itu kian mendera, aku tak sanggup lagi menyembunyikannya.
"Iya, Kirana." Bu Fatimah menoleh sekilas.
"Perutku tiba-tiba sakit, Bunda," jawabku, lirih.
"Sakit gimana, Nak?" Bu Fatimah membelalak lebar. Beliau terlihat panik, mungkin karena melihat ekspresiku yang kesakitan.
"Sakit di sini, Bunda, dan di sini juga nyeri." Aku menjawab sambil memegangi perut dan punggung.
"Iya, Bunda," bisikku dengan keringat yang mulai mengucur.
"Berdoa, Nak, memohon sama Allah, semoga diberi kemudahan. Tahan sebentar ya, tidak lama lagi kita akan sampai." Bu Fatimah menggenggam jemariku sesaat, lantas kembali memegangi kemudi.
Kali ini aku tak menjawab, aku hanya mengangguk pelan sambil menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit itu kian menjadi, membuatku lemas dan nyaris hilang tenaga.
"Ya Allah, tolonglah hamba, Ya Allah. Berikan kekuatan dan kemudahan untuk mengantarnya menatap dunia. Hanya pada-Mu hamba berserah diri, Ya Allah," ucapku dalam hati.
Menit demi menit terus berlalu, dan rasa sakit pun kian menderaku. Berkali-kali kudengar suara Bu Fatimah menyemangatiku, diiringi sentuhan hangat dan lembut yang sedikit menenangkan.
Akan tetapi, rasa ini benar-benar menyiksa. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil menggigit bibir.
Tak lama kemudian, ada sesuatu yang hangat mengalir keluar. Aku tak tahu apa itu, yang jelas ia terus keluar dan tak mau berhenti.
__ADS_1
"Bun ... Bunda," bisikku, pelan dan terbata. Kuraba tangan Bu Fatimah, kucengkeram erat dan kujadikan pelampiasan atas rasa sakit ini.
"Astagfirullahal 'adhiim, ketubanmu sudah pecah, Nak! Suster, tolong Suster! Cepat, Suster!" teriak Bu Fatimah.
Pintu mobil terbuka lebar, aku baru sadar jika kami sudah tiba di halaman rumah sakit.
Detik berikutnya, tubuhku diangkat oleh lelaki berseragam putih. Aku dibaringkan di atas brankar, dan kemudian didorong dengan cepat.
Samar-samar, kudengar suara Bu Fatimah terus memanjatkan doa, juga perbincangan dokter yang membaur dengan derap langkah. Akan tetapi, aku tak menanggapi mereka, aku larut dalam sakit dan nyeri yang kurasakan sendiri. Seperti inikah perjuangan seorang ibu?
Ahh, ibu. Aku jadi teringat dengan ibu yang melahirkan aku. Beliau meninggal saat memperjuangkan kehidupanku. Akankah kisah lama kembali terulang? Akankah aku gagal melewati perjuangan ini?
"Ya Allah, semoga Engkau masih mengijinkan hamba untuk merawatnya," doaku dalam hati.
Air mata kian berderai, memikirkan kehidupan yang benar-benar dipertaruhkan. Waktu lalu, aku memang mengharapkan kematian, tapi tidak untuk sekarang. Aku tidak tega meninggalkan anakku sendirian di dunia, tanpa orang tua. Cukup aku yang merasakan hal itu, jangan sampai dia mengalami luka yang sama.
Terlalu larut dalam bayang-bayang kelam, aku sampai tak sadar jika saat ini sudah tiba di dalam ruangan. Derap langkah dan suara Bu Fatimah, tak lagi mengalun di telinga. Hanya aroma disinfektan yang tercium semakin kuat.
Kugenggam erat ujung selimut yang menutupi tubuhku. Aku mengerang dalam lara yang menyiksa tanpa ampun. Tenagaku sudah terkuras habis, karena sesuatu itu terus mengalir dan tak mau berhenti sekejap pun. Peluh dan air mata bercampur menjadi satu, membungkus rasa tersakit dalam perjalanan hidupku.
Dokter dan perawat mempersiapkan alat-alat yang entah apa saja namanya. Suara dentingan yang mereka timbulkan, membuat jantungku semakin berdetak cepat. Ada satu alat yang menyerupai gunting, dan pikiranku langsung menciut karenanya.
"Dokter, posisi bayi melintang!"
Detik waktuku seakan berhenti seketika. Aku paham benar apa yang dimaksud melintang. Jika melahirkan dalam posisi normal saja terkadang masih gagal, lantas bagaimana dengan posisi melintang. Apa yang akan terjadi denganku setelah ini?
Rasa sakit yang mendera, perlahan memudar seiring rasa takut yang kian menguasaiku. Tanpa tahu apa penyebabnya, tiba-tiba tubuhku menggigil dan pandanganku memburam. Detik berikutnya, rasa sakit itu benar-benar sirna. Namun, duniaku pula semakin gelap dan aku tak bisa mengingat apapun.
Bersambung...
__ADS_1