Noda

Noda
Siapa Orang Tuamu, Nak?


__ADS_3

Pelan-pelan kuulurkan tangan, dan kuraih bingkai foto itu. Aku menilik dalam jarak yang lebih dekat, dan aku semakin terperangah karenanya. Lukisan gadis remaja yang sedang tersenyum sambil memeluk boneka. Kendati dia mengenakan pakaian yang indah, namun tubuhnya terlihat kurus dan sedikit pucat, mungkin saat itu dia sedang sakit.


Aku masih tak mengalihkan pandangan, sketsa wajahnya benar-benar mampu menyita perhatianku. Meskipun aku tidak menemukan tulisan namanya, namun aku yakin dia adalah Arina, anak Bu Fatimah. Jika menurut beliau, sorot mataku sangat mirip dengannya. Namun, bagiku tidak demikian. Menurutku bukan hanya sorot mata yang mirip, melainkan juga wajah. Menatap foto Arina, rasanya aku menatap lukisan diriku.


"Kenapa bisa seperti ini, siapa Arina, dan ... siapa diriku?" tanyaku pada sebingkai foto yang masih kupandang.


Cukup lama aku diam mematung, sembari memikirkan teori yang paling masuk akal. Ada hubungan darah? Jelas tidak mungkin. Ibu tidak pernah menyebut nama Bu Fatimah. Jika kami memang kerabat, pasti Ibu juga mengenalnya.


Hanya kebetulan? Iya, mungkin jawaban ini yang lebih cocok. Aku pernah membaca sebuah artikel yang membahas tentang fisik manusia. Katanya, di dunia ini setiap wajah memiliki tujuh kembaran yang serupa. Dulu aku tidak yakin, namun sekarang aku mulai percaya. Mungkin, Arina ini adalah salah satu wajah yang mirip denganku.


Kuletakkan kembali foto Arina di atas meja. Kuulas senyuman manis sebelum meninggalkannya, seolah dia adalah remaja yang memiliki wujud dan nyawa.


Belum jauh aku berjalan, aku berhenti dan kembali menoleh. Kutatap foto Arina dengan lekat. Senyum dan tatapan netranya, seakan-akan ia tujukan padaku.


"Aku akan istirahat sebentar, aku lelah setelah melakukan perjalanan panjang. Ke depannya aku akan tinggal di rumah ini, kita akan menjadi kawan," ucapku pada sebingkai foto bisu, yang tak mungkin memberikan jawaban.


Andai saja ada yang melihat, mungkin mereka akan mengganggapku gila. Bicara pada benda mati yang tidak mungkin mendengar, apalagi menanggapi. Aku pun juga heran dengan diriku, entah mengapa aku melakukan itu. Sebelumnya, aku tak pernah tahu siapa Arina, namun tatapannya benar-benar mampu mengetuk jiwaku. Kendati dia hanya sebuah lukisan, tapi hatiku merasa segan.


"Ada apa, Mbak?" tanya wanita paruh baya, yang mungkin pelayan di rumah ini.


"Tidak ada apa-apa, Bi. Aku hanya takjub melihat bunga itu, sangat indah." Aku menunjuk bunga besar yang di letakkan di sudut ruangan, di dekat foto Arina.

__ADS_1


"Iya, itu memang indah," jawab Bibi dengan pelan.


Kulihat ekor matanya melirik ke arah sana, dan dalam waktu sekejab pandangannya berubah sendu. Entah apa yang membuatnya demikian, bunga atau mungkin foto Arina.


"Ya sudah saya tinggal dulu, ya, Mbak. Mau menyiapkan makan malam," ujar Bibi, di menit berikutnya.


"Perlu saya bantu, Bi?" tawarku padanya.


"Tidak perlu, Mbak. Istirahat saja, Mbak pasti lelah." Bibi tersenyum dan kemudian melangkah ke dapur.


Aku masuk ke kamar dan membaringkan diri di atas ranjang. Kuhela napas panjang sambil menatap langit-langit kamar yang berwarna biru. Kuresapi sekelumit rasa yang mengganjal dalam khalbu, sebuah rasa yang tak kutahu darimana datangnya. Lantas kuraih guling, dan kebenamkan wajahku di sana. Entah mengapa perasaan ini semakin lama semakin tidak nyaman.


Detik berikutnya, aku berdiri dan duduk di dekat jendela. Kunikmati malam yang bertabur bintang, sembari menekuri kisah silam yang menari dalam ilusi. Sesekali aku tersenyum, dan sesekali juga menitikkan air mata. Kisah cintaku bersama Daniel, terlalu indah untuk dilupakan, namun terlalu pahit untuk dikenang.


Gemerisik angin yang menggoyangkan dedaunan, menjadi harmoni merdu yang menemani pagiku. Di antara semerbak wangi bunga, aku duduk di atas ayunan. Kutatap bentangan air kolam yang memantulkan keanggunan surya, lukisan pagi yang sangat memesona.


"Kirana!"


Aku menoleh, menatap Bu Fatimah yang melangkah ke arahku.


"Sedang apa, Nak?" Beliau bertanya sambil duduk di depanku.

__ADS_1


"Tidak ada, Bunda. Hanya menghibur mata, biar nggak ngantuk." Aku menjawab sambil tersenyum simpul. Pagi ini aku memang didera rasa kantuk, entah karena lelah usai perjalanan jauh, atau karena hormon kehamilan.


"Kalau ngantuk, tidur aja, nggak apa-apa. Terkadang bawaan bayi memang seperti itu," ujar Bu Fatimah.


"Iya, Bunda. Tapi ... nanti saja tidurnya," jawabku.


"Baiklah. Mmmmm bagaimana kalau kita saling bercerita aja." Bu Fatimah menatapku sambil tersenyum.


"Cerita?" Aku mengulangi ucapan beliau.


"Iya. Kita 'kan sama-sama punya kisah pahit, nggak ada salahnya 'kan saling berbagi. Siapa tahu setelah itu, beban kita jadi lebih ringan.Tidak perlu menjelaskan secara detail, cukup garis besarnya saja. Agar kita bisa saling memberi masukan, dan saling memberi semangat. Kamu mau?" jawab Bu Fatimah, tanpa mengalihkan tatapannya.


Aku berpikir sejenak, haruskah aku menceritakan semua masalahku? Sempat tersirat rasa malu di dalam benak, namun aku kembali berpikir, sampai kapan aku bisa menyembunyikan semua ini? Aku sudah memutuskan untuk tinggal bersama beliau, bahkan aku juga bersedia memanggil Bunda. Rasanya tidak mungkin bisa, menutupi semua masalah ini selamanya.


Kuhela napas panjang, lantas kubuang dengan perlahan. Kuulangi berulang kali, guna menenangkan hati yang semakin gundah. Setelah perasaanku kembali tertata, kutatap wajah teduh Bu Fatimah.


"Aku tidak tahu harus darimana menceritakannya, Bunda. Tapi ... aku bersedia menjawab, apapun pertanyaan Bunda," ucapku dengan sungguh-sungguh.


"Siapa orang tuamu, Nak?" tanya Bu Fatimah, setelah jeda beberapa detik.


Aku sedikit tersentak, aku tak menyangka jika pertanyaan itu yang pertama kali beliau lontarkan. Aku kira, Bu Fatimah akan menanyakan perihal kehamilan, tapi ternyata aku salah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2