
Aku mundur dua langkah, kubiarkan tangan Rena menampar udara hampa. Dia hanya orang asing yang usianya sebaya denganku, tak 'kan kuijinkan menyakiti raga ini.
Tindakanku, membuat dia semakin murka, terbukti dari tatapannya yang berubah menjadi pelototan tajam.
"Jangan bertingkah, Gadis Bodoh! Aku yang lebih lama bekerja di sini. Kau hanya orang baru, jangan belagu! Kali ini aku masih bisa memaafkan sikapmu, tapi tidak untuk lain kali. Jadi, mulai sekarang belajarlah menjaga sikap!" Rena berkata sembari menunjuk-nunjuk mukaku.
Ingin sekali aku mencakar wajahnya yang angkuh, agar dia diam dan berhenti berkata kasar. Namun keinginan itu terlalu ekstrem untuk kuwujudkan, aku tidak mau terjebak dalam masalah yang rumit.
"Ingat baik-baik ucapanku!"
Rena kembali berbicara, sebelum menurunkan tangannya. Baru saja aku membuka mulut dan hendak menjawab ucapannya, tiba-tiba Alena menghampiri kami.
"Rena, apa yang kamu lakukan?" tegur Alena tanpa basa-basi.
"Tidak ada." Rena menjawab sambil melirik tajam ke arahku.
"Jangan bohong, Rena!" kata Alena dengan intonasi yang sedikit tinggi.
__ADS_1
"Al, aku memang___"
"Mbak Alena, apa yang dikatakan Mbak Rena memang benar kok. Kami hanya bicara tentang pekerjaan. Dia sangat baik, Mbak, tidak bicara macam-macam," pungkasku.
"Bener?" Alena menatapku.
"Iya, Mbak." Aku mengangguk sambil melirik Rena.
Matanya memicing, hingga kedua alisnya nyaris bertautan. Bibirnya manyun, setara dengan hidungnya. Aku menanggapinya dengan senyum kemenangan. Seolah aku menyampaikan kata 'dia lebih percaya padaku', lewat senyum itu.
Hari demi hari terus berlalu menjadi minggu, minggu pun terus berjalan menjadi bulan. Sudah genap satu bulan aku tinggal di rumah sewaan, jauh dari keluarga, dan tanpa tahu kabar mereka. Setiap pagi aku berangkat kerja dan pulang sebelum senja. Sebenarnya aku ingin bekerja sampai malam, tapi Reza tak mengijinkan. Katanya, itu tidak baik untuk kondisiku saat ini.
Tentang pekerjaan, semua berjalan lancar. Kendati aku anak baru, namun aku bisa melakukan tugasku seperti yang lainnya. Selain itu, aku juga menjalin hubungan baik dengan Alena dan Kyla. Mengenal mereka, ibarat menemukan sahabat baru. Sedangkan dengan Rena, hubungan kami sedikit lebih baik. Meskipun dia jarang mengajakku bicara, tapi dia tak pernah melontarkan kata-kata pedas.
Awalnya, hanya Alena yang tahu perihal kehamilanku. Namun sekarang, Kyla dan Rena juga mengetahuinya. Bagaimana tidak, perutku sudah mulai membuncit. Tampak jelas, meskipun aku mengenakan seragam yang longgar, maklum sekarang sudah menginjak usia 4 bulan.
Malam ini, aku sedang duduk di meja makan, menimang-nimang 15 lembar uang ratusan ribu yang diberikan Reza tadi sore.
__ADS_1
"Sekarang aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Aku harus menabung untuk biaya lahiran nanti," ucapku seorang diri.
Rasa sesak dan sakit menghimpit dalam dadaku, seakan enggan memberikan ruang untuk bernapas. Satu bulan penuh, aku tak pernah berhubungan dengan Daniel. Usai mengantarku waktu lalu, dia menghilang bak ditelan bumi. Nomornya tak bisa dihubungi, dan dia juga tak pernah menampakkan diri di hadapanku. Entah sibuk, atau memang sengaja menghindar.
Kerap kali aku menanyakan tentang Daniel pada Mayra, namun dia selalu menjawabnya dengan kata 'tidak tahu'. Entah jujur atau tidak, aku tak bisa menilainya. Meskipun rasa percayaku pada Mayra mulai berkurang, tapi setidaknya aku masih menghargainya, karena dia sangat peduli padaku. Setiap hari tak pernah absen menanyakan kabar via telepon, dan jika ada waktu senggang, dia datang mengunjungiku. Walaupun terkadang dia punya niat lain-untuk menemui Reza.
Sedangkan Nindi, entah ada apa dengannya. Sejak menemuiku waktu Ayah tiada, dia tak pernah lagi menghubungiku. Jangankan berkunjung, menelepon atau mengirim pesan singkat pun tak pernah. Menurut keterangan Mayra, dia sangat sibuk dengan skripsinya, tapi entahlah, aku tak tahu itu benar atau tidak.
"Sabar ya, Nak, masih ada Bunda yang selalu menyayangimu. Bunda akan bekerja keras untuk masa depanmu. Meskipun tanpa Ayah, Bunda pasti bisa membuatmu bahagia." Kuusap perutku dengan lembut.
Kucurahkan untaian kasih dan cinta untuknya. Jika bukan aku, siapa yang akan menyayanginya, ayahnya saja sekarang pergi dan tak mau tahu tentangnya. Oh Tuhan, tak pernah terbayangkan, jika hidupku berakhir mengenaskan.
Beberapa detik kemudian, aku dikejutkan oleh bunyi ketukan pintu. Aku mengangkat wajah dan menyeka air mata yang sempat menetes. Lantas aku beranjak dan melangkah menuju pintu.
"Kirana!" sapa seorang lelaki, ketika pintu sudah kubuka lebar.
Bersambung....
__ADS_1