Noda

Noda
Travelling


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore, tetapi Kaivan belum meninggalkan rumah sakit Bandung. Dia masih di sana menemani Nadhea yang belum dijenguk kembali oleh ayahnya. Sejak tiga jam yang lalu, Nadhea istirahat. Kaivan meminta pelayan untuk menemani, sedangkan dirinya jalan-jalan sebentar guna mengurangi rasa penat.


Detik ini, Kaivan sudah kembali ke ruangan tempat Nadhea dirawat. Namun, wanita itu masih lelap dalam tidurnya. Setelah pelayan pamit keluar, Kaivan memindahkan kursi ke sudut ruangan. Lantas, duduk dan menyandarkan punggung di sana. Kakinya diangkat sebelah dan tangannya dilipat di dada. Kaivan merasa lelah dan hendak istirahat sejenak.


Bukan hanya lelah fisik karena akhir-akhir ini sering melakukan perjalanan jauh, melainkan juga lelah pikiran. Di samping masalah sekitar yang datang silih berganti, Kaivan juga memikirkan sikap Prawira. Tadi siang, Kaivan sempat menelepon. Namun, tidak ada respon dari sana. Kaivan kesal dan berjanji akan mengajak pria tua itu bicara empat mata. Biarlah disebut lancang atau kurang ajar, sikap Prawira memang tidak wajar sebagai orang tua.


"Tidur bentar deh, hitung-hitung nabung tenaga untuk nanti, sambil nunggu dia bangun. Nggak enak juga kalau pergi nggak pamit." Kaivan membatin sambil menatap Nadhea yang tampak tenang dalam lena. Menurut rencana, Kaivan akan kembali ke Jakarta setelah Nadhea terjaga.


Dalam hitungan menit, mata Kaivan sudah menutup. Mungkin, rasa lelah maksimal yang membuatnya cepat terlelap.


Sepuluh menit setelah Kaivan tertidur, Nadhea mengerjap pelan, juga menggeliat dan mendesis. Rasa nyeri memang masih menyebar di sekujur tubuhnya. Setelah kesadarannya pulih total, Nadhea menatap ke setiap jengkal ruangan—yang terlihat sunyi. Lantas, matanya terpaku pada satu sosok yang berdiam diri di sudut ruangan.


Nadhea mengucek matanya demi meyakinkan diri bahwa penglihatannya tidak salah—Kaivan sedang tidur dengan posisi duduk bersandar.


"Dia belum pergi dan malah tidur di sini, kenapa?" Nadhea membatin sambil bangkit dari tidurnya, bersandar, lalu menatap Kaivan dalam-dalam.


Tanpa dipinta, ujung bibir Nadhea membentuk senyuman yang menawan—tulus dan tanpa paksaan. Memandang Kaivan yang tampak tenang, perasaan Nadhea pun turut tenang dan nyaman.


"Andai saja kita dipertemukan dengan cara dan waktu yang lebih baik, pasti aku sangat beruntung, Kai," gumam Nadhea. Matanya tak henti memandangi dada Kaivan yang naik turun teratur, seirama dengan deru napas.

__ADS_1


"Ah, ngapain sih berandai-andai yang enggak-enggak. Rencana Allah itu yang paling indah. Aku pun sangat beruntung masih diizinkan bernapas sampai sekarang, mengingat kemarin yang kayak gitu." Nadhea meralat ucapannya sendiri.


Tak lama kemudian, Nadhea merasa haus. Karena Kaivan masih tertidur pulas, Nadhea berinisiatif mengambil air sendiri. Dia beringsut dan kemudian turun dari ranjang. Namun, tenaganya masih terlalu lemah. Alhasil, sebotol air yang digenggam jatuh ke lantai. Tutupnya sempat dibuka, sekarang air itu tumpah dan menggenang di antara kakinya.


Kaivan langsung terjaga ketika mendengar benda jatuh. Matanya membelalak saat melihat Nadhea berdiri di samping meja. Dengan cepat Kaivan menghampiri dan menahan tubuh yang masih lemah itu.


"Kenapa nggak bangunin aku, sih?" Kaivan menggerutu sambil membimbing Nadhea kembali ke ranjang.


"Kamu tidur." Nadhea menjawab pelan sambil memandang Kaivan yang menuangkan air untuknya. Beruntung, persediaan air tidak hanya satu botol.


"Harusnya bangunin aja. Untung cuma air yang jatuh, bukan kamu," ucap Kaivan. Usai membantu Nadhea minum, Kaivan membersihkan genangan air dengan tisu.


"Jangan diulangi! Kamu masih lemah, kalau butuh apa-apa minta tolong. Nggak usah sungkan!" kata Kaivan, yang kemudian ditanggapi anggukan oleh Nadhea.


"Sekarang pengin apa? Bilang aja nggak usah malu."


"Mmm, jeruk boleh?" jawab Nadhea.


"Tunggu bentar." Kaivan tersenyum dan kemudian beranjak—mengambil jeruk yang ia bawa tadi pagi, lalu mengupasnya dan memberikannya pada Nadhea.

__ADS_1


Wanita itu menunduk ketika menerima jeruk dari Kaivan, yang tanpa sadar tangannya saling bersentuhan. Selain malu, Nadhea juga merasa gemetaran. Entahlah, seakan-akan kulit Kaivan mengandung aliran listrik yang menyengat tepat di ulu hati.


"Kalau kamu nggak pulang-pulang, bisa-bisa lagu lama terulang lagi. Ah, aku sampai kebelet pipis gara-gara bersentuhan sama kamu." Nadhea membatin sambil mengunyah jeruk yang luar biasa manisnya.


"Bang Kai!" panggil Nadhea.


"Hmmm." Kaivan menoleh.


"Boleh tolong panggilkan Bibi, nggak?" ujar Nadhea.


"Kenapa Bibi? Ada aku di sini, ngomong aja perlu apa," jawab Kaivan.


"Aku mau ke kamar mandi. Malu kalau diantar kamu," ucap Nadhea dengan kepala yang masih menunduk.


Entah di mana letak salah jawaban Nadhea, yang jelas perasaan Kaivan langsung tidak nyaman. Selain jantung yang berdetak lebih cepat, ingatan Kaivan juga mengacu pada saat menolong Nadhea. Waktu itu, tubuh Nadhea hanya ditutup pakaian minim yang sedikit berantakan, ada sebagian aurat yang seharusnya tidak dia lihat. Namun, terpaksa terlihat dan sekarang tanpa permisi muncul kembali di ingatan.


Tanpa bicara, Kaivan segera bangkit dan melangkah menuju pintu. Dia bergegas menjauhi Nadhea agar pikirannya tidak berkelana di antara dosa-dosa. Sebelum Kaivan membuka pintu, tiba-tiba pintu sudah dibuka dari luar. Bukan pelayan yang datang, melainkan seseorang yang membuat Kaivan terkejut.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2