Noda

Noda
Tragedi Berdarah


__ADS_3

Luna tak bertanya. Dia sekadar menatap Rega yang melepaskan rengkuhan dan berjalan menuju meja. Lantas, mata Luna menyipit saat melihat kain panjang yang ada dalam genggaman Rega.


"Aku punya permainan yang sangat menyenangkan. Kamu bersedia, kan, Sayang?" ucap Rega ketika sudah kembali ke hadapan Luna.


Luna melangkah mundur, sedikit-banyak dia bisa menebak ke mana maksud Rega. Tidak! Dia tidak akan membiarkan dirinya tak berdaya dalam kungkungan Rega. Karena tujuannya untuk menjatuhkan lelaki itu, bukan kembali menjatuhkan diri dalam kesulitan.


"Kenapa, Sayang? Kenapa wajahmu tiba-tiba tegang?" Rega menatap tajam sambil menyeringai. Kakinya pun turut terayun dan menyudutkan Luna di dinding.


"Aku tidak bisa, aku tidak pernah bermain yang seperti itu," sahut Luna dengan sedikit gemetaran. Dia tak bisa mundur lagi, sedangkan Rega sudah merapat dan mengunci gerakannya dengan kedua tangan.


"Alasan yang sangat payah, Sayang." Rega terkekeh-kekeh.


"Apa maksudmu, Mas?" Luna terbata-bata.


"Aku tidak bodoh, Luna. Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Kamu tidak benar-benar memihakku, tapi sekedar berpura-pura untuk menjebakku. Benar, kan?" bentak Rega.


Seketika Luna memucat. Dia tak menyangka bahwa Rega mengetahui rencananya. Entah bagaimana nasib racun yang sudah dibawa, yang rencananya akan dicampur dalam minuman Rega. Mungkinkah nanti justru mendarat di mulutnya?


"Tidak! Aku tidak boleh kalah darinya! Sudah kepalang tanggung untuk mundur. Jika cara halus gagal, maka aku harus memakai cara kasar," batin Luna.


"Kenapa diam?" Lagi-lagi Rega melontarkan bentakan.


"Aku tidak mengerti dengan maksudmu, Mas. Aku terlihat tegang karena kaget. Bukan apa-apa, hanya saja ... aku takut kamu melakukannya dengan brutal. Aku, aku___"

__ADS_1


"Lanjutkan dramamu! Aku akan menikmatinya sambil menikmati tubuhmu," pungkas Rega sembari mengusap-usap pipi Luna, yang kemudian berlanjut ke leher.


Luna sedikit memejam sambil melirik ke setiap jengkal ruangan, mencari-cari benda yang mungkin saja bisa membantu. Ketika tangan Rega hampir menyentuh dada, tatapan Luna terpaku pada botol vodka yang ada di atas meja. Perlahan, Luna mengulum senyum, lantas mengimbangi gerakan Rega sambil menyerahkan bibir. Dengan keahliannya, Luna berhasil membuat Rega terbuai, sampai-sampai tak sadar bahwa tubuhnya sudah terdorong dan hampir merapat di meja.


Ketika Rega masih fokus dengan aksinya, Luna dengan cepat meraih botol vodka dan memukulkannya tepat di kepala Rega. Namun, dengan tenaga yang tak seberapa, Rega tak langsung tumbang. Hanya luka kecil yang dia dapat, tetapi hal itu membuat emosinya tersulut.


"Kau!" geram Rega.


Luna melangkah menuju pintu sambil menggenggam serpihan botol dengan erat. Pikirnya, tak apa tak berhasil membunuh Rega, asalkan dia selamat dan berkesempatan menyusun rencana yang lain.


Akan tetapi, Luna makin pucat karena gagal membuka pintu. Rupanya, tadi Rega langsung menguncinya.


"Kamu tidak akan bisa lari, Luna! Kamu sudah memulai permainan ini, maka kamu harus menyelesaikannya sampai aku puas. Aku tak peduli meski nanti membuatmu sekarat." Rega berteriak sambil melangkah cepat ke arah Luna.


Tak lama kemudian, emosi Rega mencapai batas maksimal. Dengan napas yang memburu dia membuka laci dan mengambil pistol yang disimpan di sana.


"Menyerah atau aku akan mengantarmu ke neraka!" ujar Rega dengan mata pistol yang mengarah tepat ke dada Luna. Saking emosinya, Rega sampai tak memedulikan darah yang menetes dari lukanya.


"Kamu tidak akan membunuhku karena itu tidak menguntungkan bagimu. Ingat, Rega sialan, kamu tidak akan mendapatkan uang jika aku mati!" teriak Luna.


"Kamu salah! Aku bisa mengambil organmu dan menjualnya dengan harga mahal. Bahkan sebelum itu, aku juga bisa menikmati tubuhmu dengan puas. Apa menurutmu itu tidak menyenangkan, Luna?" Rega kembali menyeringai.


Belum sempat Luna menjawab, Rega sudah melepaskan tembakan dan mengenai serpihan botol yang ada di tangan Luna. Sontak saja benda itu jatuh dan menggores kaki Luna.

__ADS_1


"Menyerah atau peluru panas ini akan melubangi dadamu!" Rega berucap sambil menatap tajam.


Dengan jantung yang berdetak cepat, Luna melangkah maju. Meski sangat ketakutan, dia mendekati Rega yang sudah dikuasai amarah.


"Jangan membunuhku," bisik Luna. "Aku akan memberikan semua aset yang kupunya, tapi tolong lepaskan aku."


Rega menurunkan pistolnya dan meraih tubuh Luna dengan kasar, hingga tak ada lagi jarak di antara keduanya. Lantas, Rega berpaling sekejap untuk mengambil kain panjang yang tadi sempat terlepas. Pada saat itu, Luna menendang tangan Rega dengan keras, sampai pistolnya terpental jauh. Luna juga mendorong tubuh Rega hingga terhuyung dan hampir jatuh.


"Dasar wanita sialan!" geram Rega dengan amarah yang makin membuncah.


Akan tetapi, semua itu tak ada guna. Luna sudah melesat dan mengambil alih pistol milik Rega. Kini, keadaan berbanding terbalik—nyawa Rega yang terancam.


"Turunkan senjata itu atau aku akan menghabisi nyawamu!" ancam Rega. Matanya sedikit nanar ketika melihat pistol yang mengarah tepat ke arahnya.


"Kamu yang akan mati!" teriak Luna sembari menarik pelatuk pistol. Bukan sekali-dua kali, melainkan dilakukan dengan membabi buta.


"Arggh!" erang Rega. Tubuh kekarnya terjatuh dan bersimbah darah. Selain di kepala, dia juga mengalami luka di dada dan bahu.


"Sekarang, kamu tidak bisa lagi mengusikku, Brengsek. Kamu akan mati!" Luna tertawa.


"Kamu salah. Sebentar lagi kamu juga akan hancur!" sahut Rega dengan napas yang tersengal. Peluru panas yang bersarang di tubuh telah mengambil sebagian kesadarannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2