
Embusan napas yang berirama menjadi satu-satunya suara yang kudengar saat ini.
Di dalam kamar yang sunyi, aku duduk seorang diri. Pikiranku menerawang ke mana-mana, termasuk menduga keadaan Daniel. Mungkinkah sudah tiada?
"Ya Allah, ampuni hamba yang masih memikirkan lelaki yang tak halal, tapi ... hamba benar-benar takut kalau hal buruk dalam hidupnya terjadi karena hamba. Ya Allah, mudah-mudahan ini tidak seperti yang hamba kira," ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian, dering alarm membuyarkan lamunan. Kuraih ponsel yang ada di meja dan kutatap gambar jam yang menunjukkan pukul 08.00.
"Kak Darren sudah berjanji untuk pulang lebih awal, tapi sampai semalam ini masih belum tiba. Bahkan, dia tak memberikan kabar perihal keterlambatannya. Kak Darren, sedang apa kamu di luar sana?" ucapku mulai cemas.
Lantas, aku beranjak dan berjalan menuju jendela. Kusingkap tirainya dan kutatap hamparan langit yang sedikit suram. Tak ada kerlip bintang, tak ada pula sinar rembulan. Mungkin, alam turut merasakan kelamnya perasaanku.
Pada saat aku masih terpaku pada suasana luar, tiba-tiba ada suara pintu terbuka. Aku langsung menoleh dan mendapati Kak Darren sedang menatapku. Meskipun bibirnya tersenyum, tetapi raut wajahnya terlihat kusut. Usai menjawab salam darinya, aku langsung menghambur dan memeluknya dengan erat.
"Maaf ya, aku sedikit terlambat, tadi ... ada pekerjaan yang tak bisa kutinggalkan," kata Kak Darren.
"Iya, Kak, tidak apa-apa." Aku menjawab dengan tenang walau sebenarnya sangat gundah. Kak Darren pulang terlambat dan terlihat kelelahan, tidak ada alasan untuk tidak berpikir ke arah sana.
"Kak Darren!" panggilku karena dia tak membuka suara.
"Iya, Sayang."
"Aku ada sesuatu untuk Kak Darren." Aku berucap sambil melepaskan pelukan.
"Oh ya, apa itu?"
__ADS_1
Aku menjauh sebentar dan mengambil buket mawar yang kuletakkan di atas meja. Kemudian, aku memberikannya pada Kak Darren. Dia menerimanya sambil tersenyum dan dengan sorot mata yang berbinar.
"Dalam rangka apa ini?" tanyanya tanpa memudarkan senyuman.
"Rindu," jawabku dengan cepat. "Katanya ... nanti anu. Udah cantik belum?" Aku berputar di hadapannya, memamirkan lekuk tubuh yang hanya kubalut gaun sebatas lutut.
Malam ini, aku sengaja berdandan dan memakai gaun yang sedikit terbuka. Tujuanku adalah menggodanya dan melancarkan rencana.
"Lebih dari cantik," pujinya. Kutatap sekilas, dia sedang memandang lekat ke arahku.
"Sengaja dandan seperti ini, hanya untuk kamu, Kak." Aku mengalungkan tangan di lehernya sembari mengulas senyum manja. "Ya sudah, Kakak mandi dulu gih! Aku tunggu sambil membuat kopi," sambungku.
"Iya, Sayang." Hangat jemarinya mengusap pipiku dengan lembut.
Setelah itu, Kak Darren meletakkan tas kerja dan melepas kemejanya, sedangkan aku menyambar jaket dan berjalan keluar kamar. Selain kugunakan untuk menutupi lengan, jaket itu juga menyimpan sesuatu di sakunya. Dengan senyum yang mengembang, aku menuruni anak tangga sembari mendekap barang yang sangat kuperlukan.
"Kebetulan Kakak sudah selesai, ini kopinya dan ini brownis. Kemarin dapat resep baru dan tadi siang iseng-iseng nyoba." Kuletakkan kopi dan brownis di atas meja.
Kak Darren menghampiriku dan memeluk dari belakang dengan erat. Tangannya yang masih dibasahi air memberikan sensasi hangat dan dingin dalam waktu yang bersamaan. Pujian manis dia bisikkan dengan romantis. Andai saja hatiku tidak dalam keadaan kecewa, pasti sudah membayangkan sesuatu yang amazing.
"Kak, minum dulu gih, nanti kalau dingin nggak enak. Sekalian icip brownis-nya, manis apa enggak." Aku bicara sambil melepaskan pelukan. "Jangan sampai rencanaku gagal dan berakhir begitu saja di ranjang, enak di dia nggak enak di aku," sambungku dalam hati.
"Pasti manis, kan yang bikin juga manis," kata Kak Darren.
"Gombal."
__ADS_1
"Beneran, Sayang." Kak Darren duduk di sofa sambil mencomot sepotong brownis.
"Maafkan aku, Kak. Semua ini kulakukan demi mengejar kejujuran. Aku tidak ingin rumah tangga kita retak gara-gara kebohongan apalagi penghianatan," batinku ketika melihat Kak Darren menggigit brownis.
Ketika Kak Darren sibuk memuji kelezatannya, aku meniup kopi sambil merayu agar dia kembali mengambil. Berhasil. Kak Darren menghabiskan tiga potong brownis. Sesaat kemudian, dia menyandarkan punggung dan mengeluhkan kepala yang tiba-tiba pening.
Aku pura-pura khawatir sambil mengusap mengusap-usap keningnya. Dalam hitungan menit, mata Kak Darren sudah memejam rapat.
Aku beranjak setelah memastikan dia benar-benar tertidur. Kemudian, kuselimuti tubuhnya dan aku mulai menjalankan rencana.
Hal pertama yang kuambil adalah ponsel karena sangat penasaran dengan sosok Angel. Namun, aku gagal menemukan petunjuk. Ponsel Kak Darren dikunci dan aku tidak tahu berapa sandinya. Tanggal lahirku, tanggal lahirnya, tanggal lahir Dara, serta tanggal pernikahan, semuanya salah.
"Pasti sandinya tanggal lahir wanita lain," gerutuku dengan kesal.
Karena tak menemukan titik terang, aku memerika barang lain. Pilihanku jatuh pada tas kerja, barang yang tak pernah kusentuh. Setelah cukup lama menggeledah, aku menemukan dompet tipis, yang dia selipkan di saku terkecil.
"Sejak kapan Kak Darren punya dompet ini?" gumamku.
Kuambil dompet warna cokelat terang dengan perasaan yang makin tak karuan. Mungkinkah itu hadiah dari wanita lain? Pertanyaan pertama yang muncul di pikiran.
Sekian detik memeriksa, aku hanya menemukan kertas yang dilipat kecil. Tak ada uang, foto, ataupun barang lain yang lebih mencurigakan.
Karena penasaran, aku langsung membuka lipatannya dan membaca tulisan yang tertera di sana. Tak lama kemudian, aku terjatuh dan meneteskan banyak air mata. Isi dari tulisan itu membuatku sakit dan lemas tak berdaya.
"Kamu keterlaluan, Kak," bisikku dengan pelan.
__ADS_1
Bersambung....