
Kaivan berulang kali mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerah nikmat-Nya yang menyelamatkan Athreya dari masa kritis. Usai dokter menyampaikan bahwa Athreya sudah siuman, Kirana langsung masuk ke ruangan. Sementara Kaivan, menunggu di luar bersama Kennan dan juga Nicko.
Selain Kaivan, salah seorang lagi yang sangat bersyukur adalah Kennan. Ibarat kata, matahari yang kemarin sempat meredup kini sudah benderang, pusat dunianya telah kembali. Begitu besar rasa cinta yang Kennan punya. Harapannya, ada celah untuk mengungkapkan perasaan itu, syukur-syukur ada sempat untuk membina.
Setelah Kirana keluar, berganti Kaivan yang masuk. Lelaki itu di sana lebih lama dari ibunya. Maklum, Kaivan sangat menyayangi Athreya lebih dari apa pun. Setelah Kaivan keluar, baru Kennan yang masuk. Langkahnya sedikit gemetaran saat mendekati ranjang. Tatapan sendu yang dilayangkan Athreya seakan-akan mendorong tangannya untuk mendekap dan mengusap mesra. Namun, nyalinya terlalu ciut untuk melakukan itu.
"Reya, kamu baik-baik saja?" sapa Kennan dengan gugup.
"Hmmm." Athreya menggumam sambil tersenyum masam.
Dengan jantung yang makin berdetak cepat, Kennan berdiri tepat di sebelah Athreya, menunduk dan menatap tangan pucat yang masih dipasangi slang infus.
Berkali-kali tangan Kennan mengambang di awang-awang, hendak menyentuh Athreya, tetapi juga ragu. Entahlah, dia terlalu awam dalam asmara.
"Reya, aku keluar dulu, tapi nggak pulang. Aku akan lama kok di sini. Kamu ... cepat sembuh, aku menunggu kamu sehat," ujar Kennan. Lantas, dia berbalik dan melangkah pergi. Terlalu lama berdekatan dengan Athreya, jantung Kennan tidak baik-baik saja.
Sebelum tiba di ambang pintu, Kennan menoleh dan melirik sekilas, "Kalau kamu sembuh, aku janji akan mengungkapkan perasaan ini. Tak peduli apa jawabanmu, yang penting aku udah jujur," batinnya.
__ADS_1
____________________
Sudah empat hari Nadhea berbaring di rumah sakit. Sejak dia siuman kemarin, belum ada satu pun keluarga yang dilihat, hanya pelayan saja yang menemani. Menurut keterangan pelayan, ayahnya sempat menjenguk, tetapi sebentar dan kemudian kembali ke Surabaya—mengendalikan bisnis yang berada di ambang kehancuran. Sedangkan ibunya, sedetik pun belum datang melihat.
Saat ini, Nadhea sedang duduk bersandar di atas ranjang, mengunyah bubur yang disuapkan oleh pelayan. Matanya sendu, menatap kosong ke pangkuan. Dia berpikir tentang hidupnya ke depan.
"Non, makan yang banyak, biar cepat sehat!" ujar pelayan ketika Nadhea menyudahi sarapannya.
"Nanti lagi, Bi."
"Sedikit lagi, Non, terus nanti minum obat," bujuk pelayan.
Pelayan menatap ragu.
"Aku nggak bohong, Bi. Janji ini kuhabiskan, tapi aku ingin sendiri." Nadhea tersenyum manis.
"Baiklah. Kalau begitu saya akan keluar, Non."
__ADS_1
Pelayan mengiakan permintaan Nadhea meski dengan berat hati. Sejujurnya, dia pun merasa miris dengan kehidupan Nadhea. Wanita yang berakhlak mulia diabaikan begitu saja demi anak gadis yang penuh ambisi—Luna.
Setelah pelayan pergi, Nadhea menyuap buburnya dengan pelan. Rasanya sangat hambar, sama persis seperti hidupnya yang hampir tak berwarna. Entahlah, jalan mana lagi yang harus dipilih demi menggapai hidup yang lebih indah. Dengan keadaan yang sudah hancur, sepertinya hanya diri sendiri yang bisa diandalkan. Namun, dirinya pula hanya orang lemah. Sanggupkah menantang dunia yang teramat keras?
Di balik rasa takut untuk menyongsong hari esok, terselip rasa rindu yang datang tanpa tahu malu. Di sudut hati yang paling dalam, Nadhea mengharap kehadiran seseorang yang beberapa hari lalu menjadi malaikat penolong. Siapa lagi kalau bukan Kaivan. Masih terasa jelas dalam ingatan Nadhea, betapa bahagianya dia kala melihat Kaivan datang pada saat yang tepat. Tanpa lelaki itu, mungkin sekarang dirinya menyandang gelar almarhumah.
"Sudah untung dia mau menolong, aku malah nggak tahu diri menyimpan rindu. Sudah ada perempuan sesempurna Luna yang berdiri di sampingnya, konyol sekali jika masih melihatku. Apalagi, sekarang Luna lagi sulit, pasti dia setia di sampingnya," batin Nadhea sambil menunduk, menatap bekas lebam yang belum pudar.
Tanpa sadar, ingatan Nadhea kembali ke masa silam, ketika sang ayah mengungkap masa lalunya—rahasia yang hanya diketahui oleh keluarga. Dia terlahir dari orang yang mulia, tetapi nyatanya malah tertindas, terabaikan, dan akhirnya terbuang. Sosok lelaki yang dianggap pahlawan pun, justru berpihak pada orang ketiga daripada darah daging yang harus dijaga.
Walau demikian, Nadhea masih menganggap mereka sebagai orang tua yang patut disayangi dan dihormati. Sampai akhirnya, keadaan mengantar pada posisi yang paling rendah. Sebuah posisi yang membuatnya kecewa pada pada sikap sang ayah.
"Andai Ibu tahu Papa akan seperti ini, masihkah mau menikah dengan Papa?" batin Nadhea dengan kepala yang masih menunduk.
"Aku tahu bisnis itu penting, tapi bagaimana dengan aku? Dari kejadian yang menimpaku, juga menimpa Luna, masihkah tidak ada waktu untukku? Masihkah tidak ada alasan untuk memedulikanku? Atau memang aku ini udah nggak ada artinya di mata Papa?" sambungnya. Kali ini dengan air mata yang mengalir deras.
Sebelum Nadhea meredakan tangis, pintu ruangan dibuka dari luar. Nadhea tetap bergeming, pikirnya pasti pelayan yang datang. Namun, ketika mendengar suara yang menyapa, Nadhea langsung mendongak. Meski tatapannya masih buram, tetapi sosok yang berdiri di sana tampak jelas baginya.
__ADS_1
Apakah ini nyata, atau ilusi belaka?
Bersambung...