
Mayra meletakkan kembali gelas minumannya, kemudian menatapku sambil tertawa renyah.
"Sabar, masih haus, Ra. Kamu udah nggak sabar, ya?" goda Mayra.
Aku berdecak kesal sembari mengembuskan napas kasar. Kulirik dia sekilas, tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Ih ngambek, jelek tahu." Mayra semakin tertawa.
"Nggak lucu," sahutku, tanpa membalas senyumannya.
"Jangan gampang kesel, nanti cepet tua lho," ucap Mayra.
"Mitos." Kupandang dia dengan tatapan tajam.
"Iya, iya, aku cerita. Udah jadi ibu makin galak aja. Untung bukan aku yang jadi anaknya, bisa kurus kering badanku," gerutu Mayra dengan pelan.
Lantas dia menegakkan duduknya dan menatapku dalam-dalam.
"Sebenarnya, Reza itu mencintai kamu, Ra. Dia sering curhat sama aku tentang perasaannya.
Awalnya, dia memang pura-pura, demi mendapatkan uang dari ibunya Daniel. Akan tetapi, semakin lama dia semakin nyaman sama kamu, dan lama-lama dia sadar, jika hatinya sudah terpaut padamu. Waktu itu, dia akan mengakhiri kerjasamanya. Dia akan mendampingi kamu dengan tulus. Namun, belum sempat niatnya terwujud, kamu sudah memergokinya. Dia kelabakan mencari kamu, Ra. Dia kayak orang frustrasi," terang Mayra dengan panjang lebar.
Kuteguk segelas matcha latte dingin hingga tinggal setengah. Tenggorokanku tiba-tiba mengering, kala Mayra bercerita tentang Reza. Entahlah, rasa kecewa itu terlalu dalam menggores sanubari. Kendati aku sudah memaafkan dia, namun aku sangat berat jika harus membuka hati untuknya.
"Katakan padanya, aku sudah memafkan kesalahannya. Tapi ... aku benar-benar tidak bisa, membuka hati untuk dia. Dia mematahkan asaku, ketika hatiku perlahan mulai berbelok arah padanya. Cahaya cinta dalam khalbu kembali padam, karena luka yang ia goreskan. Dalam beberapa waktu, aku trauma dan tak bisa mempercayai orang-orang yang ada disekitarku. Dia salah satu sosok yang ikut mengantarku pada titik terendah dalam hidup, May. Maaf, aku benar-benar tidak bisa memberinya kesempatan," ungkapku pada Mayra.
"Ra___"
"Dan lagi, dia membuat aku dan Daniel salah paham. Kalaupun awalnya dia belum ada rasa, tapi pantaskah seorang teman melakukan hal itu, May?
Bukankah hal yang kejam, memanfaatkan keterpurukan demi kepentingan pribadi?" pungkasku dengan cepat.
"Iya, aku paham dengan apa yang kamu rasakan. Tapi, Ra, dia benar-benar menyesal. Ya baiklah, kalau kamu memang tidak bisa membuka hati untuknya. Tapi ... tidak bisakah kamu memberikan kesempatan sua padanya? Dia sangat berharap, kamu mau mendengarkan penjelasannya, Ra." Mayra menatapku dengan lekat.
"Biarkan waktu saja yang menentukan, May. Aku akan mendengarkan penjelasannya, jika keadaan mempertemukan kami di luar kesengajaan. Tapi ... jika memberikan alamat dan nomor ponsel, maaf, aku benar-benar tidak bisa, May." Aku menggeleng sembari tersenyum getir.
"Aku mengerti." Mayra menghela napas panjang. "Apapun keputusan kamu, semoga itulah yang terbaik. Sebagai sahabat, aku selalu mendukung pilihanmu," sambungnya.
"Terima kasih ya, May," ucapku, yang lantas ia tanggapi dengan anggukan.
__ADS_1
"Oh ya, May, bagaimana kabar kekasihmu? Rasanya, sudah lama aku tidak mendengar kamu bicara tentangnya?" tanyaku, mengalihkan pembicaraan.
"Sudah kandas." Mayra tersenyum getir.
"Kandas? Sejak kapan?" Aku membelalak lebar, sedikit kaget kala mendengar jawaban Mayra.
"Hampir sebulan, Ra, udah nggak cocok," jawabnya, seperti tanpa beban.
"Nggak cocok, kenapa?"
"Sudahlah, jangan dibahas. Yang namanya perasaan kadang emang gitu, 'kan? Muncul-muncul sendiri, ilang-ilang sendiri." Mayra kembali menyesap minumannya.
"Kalau soal ... pekerjaan. Kamu belum berhenti, May?" tanyaku dengan pelan.
Mayra menggeleng, "sulit untuk berhenti. Aku sudah pernah cerita 'kan sama kamu, gimana sulitnya posisiku."
Aku tak menjawab, aku hanya menatapnya dalam-dalam. Sesungguhnya aku sangat khawatir. jika dia tetap berurusan dengan benda terlarang itu. Namun, tak ada hal yang bisa ia lakukan. Keadaan yang memaksanya bertindak demikian.
"Kondisikan ekspresimu, Ra. Aku baik-baik aja kok, kamu nggak perlu khawatir. Anggap aja pekerjaan tambahan, siapa tahu duitnya bisa disimpen, buat jalan-jalan keliling dunia." Mayra bicara sambil tertawa renyah.
Aku pula ikut tertawa, tapi tawa getir lebih tepatnya. Aku tahu, jauh dalam hatinya, Mayra menanggung beban yang cukup berat. Semua terlihat jelas dari sorot netranya yang penuh dengan kemelut. Namun, dia berusaha bersikap tegar. Mungkin itulah cara untuk melawan rasa takut yang bersarang di benaknya.
_______
Bangunan yang asri nan sederhana, tampak jelas di depan netra. Aku tersenyum, kala mobil yang membawaku sudah berhenti di halaman rumah.
Sebuah rumah yang menjadi saksi bisu atas jalan hidupku. Sebuah rumah yang di dalamnya tinggal seorang wanita berhati malaikat.
"Ibu, aku pulang," batinku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mata ini tak pernah bisa diajak berkompromi. Selalu saja berair, setiap kali aku menapakkan kaki di sini. Terharu, bahagia, dan entah perasaan apa lagi yang tidak mampu kutafsirkan namanya. Semua bercampur dan bergejolak dalam benak.
"Ayo, Ra." Mayra membuka pintu mobil dan melangkah turun.
"Iya." Aku mengangguk dan ikut keluar. Lantas, kami berdua melangkah memasuki rumah yang kebetulan sedang terbuka lebar.
"Assalamu'alaikum, Ibu," teriakku, kala tiba di ruang tamu.
"Waalaikumsalam," sahut Ibu dari dalam.
__ADS_1
Tak lama kemudian, kudengar langkah kaki berjalan mendekat.
"Wah, cucu Nenek yang datang. Adudu cantiknya, sini gendong Nenek. Nenek sudah kangen banget lho sama Dara." Ibu meraih tubuh Dara dan menggendongnya.
"Langsung dari rumah apa dari mana?" tanya Ibu.
"Dari rumah, Bu. Oh ya, ini ada sedikit makan siang. Aku bawa ke dapur ya, Bu." Aku menjawab sambil membawa pergi paper bag yang berisi makanan.
"Kalau ke sini itu nggak perlu repot-repot, Ra, kayak sama siapa aja kamu ini," sahut Ibu.
"Nggak repot, Bu, ini tadi kebetulan mampir di warung." Aku kembali menghampiri Ibu, setelah meletakkan makanan di atas meja dapur.
"Kamu apa kabar, May? Lama rasanya nggak lihat kamu," tanya Ibu pada Mayra.
"Alhamdulillah baik, Bude. Akhir-akhir ini ada sedikit kesibukan. Jadi ... belum sempat ke sini," jawab Mayra.
"Sudah ngajar, ya?"
"Alhamdulillah, sudah Bude." Mayra mengangguk sambil tersenyum.
"Syukurlah, semoga lancar ya, Nak, pekerjaannya," kata Ibu.
"Amin, mudah-mudahan aja, Bude."
Kami berkumpul di ruang tengah. Berbincang sambil melihat tingkah lucu Dara yang kubiarkan merangkak di atas tikar. Sesekali kami berdecak kagum, dan sesekali pula kami tertawa.
"Oh ya, Ra, kemarin ada seseorang yang mengirim barang untukmu," kata Ibu, yang lantas membuatku mengernyit heran.
"Siapa, Bu?" tanyaku.
"Ibu juga tidak tahu, tidak ada nama pengirimnya. Di alamat luarnya, barang itu ditujukan untuk Ibu, makanya Ibu terima. Tapi, setelah Ibu buka, ternyata untuk kamu," jawabku.
"Memangnya barang apa, Bu?" tanyaku, penasaran.
"Mmm ... kamu lihat sendiri saja. Sebentar ya, Ibu ambilkan." Ibu berkata sambil beranjak dari duduknya.
Aku dan Mayra saling beradu pandang. Dia menaikkan kedua alisnya, seolah bertanya tentang barang yang dimaksud Ibu. Aku menanggapinya dengan mengangkat bahu. Sebagai isyarat bahwa aku pun tidak tahu.
Bersambung...
__ADS_1