Noda

Noda
Kehadiran Reza


__ADS_3

Lelaki yang tak lain adalah Reza, dia tersenyum sembari melangkah lebih dekat. Raut wajahnya menampilkan mimik sendu. Entah itu nyata atau sekadar rekayasa.


"Senang bertemu denganmu, Kakak Ipar," ucap Reza ketika tiba di hadapanku.


"Terima kasih." Aku menjawabnya sambil membuang pandangan.


Kendati hati ini sudah menyadari semua hikmah di balik peristiwa. Namun, rasa kesal itu masih tetap ada. Begitu dalam kekecewaan yang ia torehkan, sampai akhirnya diri ini enggan menerimanya kembali, meski hanya sebagai teman.


"Kalian saling kenal?" tanya Bu Renata, ibunya Kak Darren.


"Kami teman kuliah," jawab Reza, sebelum aku membuka suara.


"Ma, ayo duduk. Masa bertamu berdiri terus." Kak Darren membimbing tangan Bu Renata dan mengajaknya duduk di kursi.


Aku pula ikut duduk sembari menilik wajah Kak Darren yang sedikit masam. Ada apa dengannya? Mungkinkah dia tahu apa yang terjadi antara aku dan Reza?


Tak lama kemudian, kami semua duduk di tempat masing-masing. Kami berkumpul di ruang tamu, kami berbincang sambil menikmati kue dan teh hangat.


Usai berbasa-basi, orang tua Kak Darren mulai mengatakan maksud kedatangannya. Kali ini, Mas Bayu dan Mas Denis ikut bergabung, guna menyaksikan perbincangan serius perihal pernikahanku.


"Bu Ambar, kedatangan kami kemari selain untuk silaturahmi juga untuk tujuan lain. Kami berniat meminang putri Ibu, Kirana Mentari, untuk anak saya, Darren Alfando. Dia mencintai Kirana dan dia juga siap menikahinya, kapanpun itu," kata Pak Fadil, ayah Kak Darren.


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, Pak, Bu, saya sangat tersanjung dengan niat baik kalian. Sebagai seorang ibu, saya selalu mendukung apa yang baik untuk putri saya, termasuk pernikahan. Kirana sudah setuju dan siap menikah dengan Nak Darren. Jadi ... saya pun juga menerima pinangan ini dengan gembira. Tapi, kalian sudah tahu 'kan siapa Kirana? Bagaimana statusnya dan seperti apa latar belakangnya. Bapak dan Ibu sudah paham, 'kan?" jawab Ibu.


Kulihat bibir Ibu mengulas senyum getir, mungkin beliau juga resah sepertiku. Takut jika tiba-tiba keluarga Kak Darren mempermasalahkan keadaanku.


"Kami sangat paham, Bu, dan bagi kami itu bukan masalah. Tidak ada manusia yang sempurna, semua pasti punya salah dan khilaf. Bagi saya, tidak ada gunanya menghakimi kesalahan orang lain, karena saya atau keluarga saya juga belum tentu benar. Apalagi jika seseorang itu sudah berusaha memperbaiki diri, dia termasuk sosok yang luar biasa. Saya kagum dengan orang-orang yang seperti itu." Bu Renata memberikan jawaban sembari tersenyum ramah.


Aku pun hendak tersenyum, namun belum sempat aku melakukan itu tiba-tiba Reza terbatuk-batuk. Sontak aku langsung melirik ke arahnya, dan ternyata dia sedang memandang ke arahku. Tatapannya menyimpan kemelut yang sangat sulit untuk diselami. Entah apa yang ada dalam batinnya.


"Ma, Pa, Bu, saya permisi ke kamar mandi dulu, ya." Kak Darren beranjak dari duduknya. "Sayang, aku tidak tahu tempatnya," sambung Kak Darren sembari menatap ke arahku.

__ADS_1


"Ayo kuantar," jawabku.


Aku beranjak dan melangkah meninggalkan ruang tamu. Aku terus berjalan menuju ke kamar mandi, sedangkan Kak Darren mengikutiku di belakang.


Letak kamar mandi bersebelahan dengan ruangan dapur, cukup jauh dari ruang tengah.


Aku berhenti di depan pintu kamar mandi, yang kebetulan saat ini sedang sepi. Aku menoleh ke belakang dan menatap Kak Darren.


"Silakan, Kak, ini kamar mandinya," ucapku padanya.


Kak Darren bergeming di tempatnya. Tidak bergerak, juga tidak mengucapkan sepatah kata. Hanya netranya yang menatapku tanpa kedip.


"Kak," panggilku, setelah jeda cukup lama.


"Aku nggak mau ke kamar mandi, aku hanya ingin bicara hal penting sama kamu," jawab Kak Darren yang lantas membuatku mengernyit heran.


"Hal penting?" Aku mengulangi ucapannya.


"Cemburu?" Lagi-lagi aku hanya mengulangi ucapannya.


"Mungkinkah dia cemburu sama Reza?" ucapku dalam hati.


"Aku hanya menyapanya, Ren. Apa itu salah?" sahut seseorang yang tiba-tiba datang menyusul kami.


Aku menoleh dan menatap seseorang yang tak lain adalah Reza. Dia melangkah mendekat sembari menyibakkan rambutnya yang memanjang. Penampilannya memang sedikit berbeda dari terakhir kali kami bertemu.


"Tutup mulutmu! Kau pikir aku tidak bisa membaca pandangan matamu. Ngaku saja, Za, gadis yang kau maksud itu dia, 'kan?" Kak Darren menunjuk ke arahku.


Apa yang terjadi di antara mereka?


Keduanya saling menatap tajam, dan deru napasnya pun sama-sama memburu. Terlihat jelas jika mereka sedang menahan emosi. Apa yang telah Reza katakan pada Kak Darren?

__ADS_1


"Dia atau bukan, itu tidak ada urusannya denganmu." Reza berkata sambil memicingkan matanya. Bukan hanya itu saja, kulihat tangannya juga mengepal, seakan siap memberikan bekas lebam di wajah Kak Darren.


"Dia calon istriku, dia milikku. Jadi, jangan harap kamu bisa mendekatinya. Buang jauh-jauh perasaanmu, dia tidak butuh itu." Kak Darren mencengkeram kerah kemeja Reza dengan erat.


"Kak, sudah, Kak, jangan emosi. Semua masalah bisa diselesaikan dengan baik. Jangan seperti ini," kataku dengan intonasi yang sedikit tinggi.


Kak Darren tidak menjawab, namun dia langsung melepaskan cengkeramannya. Kini, keduanya saling membuang pandangan dengan napas yang tetap memburu.


"Pertemuan yang kunantikan ... ternyata seperti ini. Kau pernah khilaf, harusnya kau juga bisa menyadari kekhilafan seseorang, kecuali ... kau pribadi yang tidak punya hati. Jika kau masih menganggapku, beri aku kesempatan untuk bicara. Akan kujelaskan semua hal yang berkaitan dengan kala itu," ucap Reza dengan nada datar.


Tanpa menunggu jawaban, dia melangkah pergi meninggalkan aku dan Kak Darren. Hanya dalam hitungan detik, tubuhnya menghilang di balik dinding penyekat. Aku menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Keresahan ini semakin menjadi, kala mengingat wajahnya yang dipenuhi gurat kecewa. Apakah aku telah melukainya?


"Sayang, apa kamu akan menemuinya?" Pertanyaan Kak Darren menyadarkanku dari lamunan.


"Tidak." Aku menggeleng.


Kak Darren menunduk sembari mengusap wajahnya, entah apa yang dia pikirkan. Aku pula ikut menunduk, mencoba menenangkan perasaan yang semakin tidak nyaman.


Setelah cukup lama saling diam, Kak Darren kembali membuka suara. Intonasinya rendah, namun terkesan tegas dan berat. Dari sana aku bisa menebak, jika Kak Darren sedang menahan emosi yang siap meledak.


"Maaf, jika cemburuku berlebihan. Semua itu karena cintaku padamu juga berlebihan. Aku cemburu bukan tanpa alasan, semua ini terjadi karena aku ingat dengan apa yang pernah Reza katakan ... tentang kamu," ucap Kak Darren.


"A ... apa yang dia katakan?" tanyaku penasaran.


Kak Darren tidak langsung menjawab, dia justru menatapku dengan lekat. Kutilik sebentar wajahnya yang cemas. Kulihat bibirnya gemetaran, seakan kesulitan mengungkapkan kata.


"Kak," panggilku.


"Tolong jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu, Kirana," bisik Kak Darren.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2