
"Begitukah caramu menyapa calon ipar? Nggak sopan!" sindir Kaivan ketika wajah Kennan kembali muncul di layar.
"Kok, yang angkat kamu sih, Kai?"
"Kebalik! Harusnya aku yang nanya, kenapa yang telpon kamu?" sahut Kaivan masih dengan nada yang jauh dari kata ramah.
"Aku ... aku ada sedikit penting sama Athreya, soal ... pekerjaan," jawab Kennan.
"Kamu___"
"Kak Kai!" teriak Athreya dari belakang Kaivan.
Sontak, Kaivan menoleh dan melayangkan tatapan tajam. Athreya tak berani mengucap kata, sekadar menunduk sambil mencengkeram piring yang berisi mie.
"Kai, jangan marahi dia! Aku yang bersikeras merayu. Kalau kamu mau marah, marahi saja aku, jangan adikmu." Kennan membuka suara, dan sukses membuat Kaivan kembali menoleh ke arahnya.
"Kamu tahu kalau dia adikku?" Kaivan menaikkan kedua alisnya.
Sebenarnya, Kaivan bukan tidak setuju dengan hubungan mereka, melainkan sedikit kecewa karena tidak ada yang jujur. Selain itu, Kaivan juga takut lagu lama akan terulang lagi. Mengingat keadaan Athreya yang sudah tidak sempurna, sedangkan Kennan adalah perjaka yang belum pernah mengenal cinta, benarkah rasa yang hadir akan tulus?
Kaivan takut perasaan Kennan hanya sebatas penasaran, yang akan luntur sewaktu-waktu. Pun dengan Athreya, bisa saja perasaan itu hanya tempat pelarian. Kaivan tidak ingin hubungan mereka renggang karena salah rasa. Bagaimanapun juga, Kennan adalah sahabat dekatnya, sedangkan Athreya adalah adik yang amat disayangi. Keduanya adalah orang yang berharga, jadi jangan sampai ada yang terluka.
__ADS_1
"Sorry, Kai, aku nggak bermaksud___"
"Dalam setengah jam, kamu harus tiba di sini!" potong Kaivan dengan cepat.
"Tapi, Kai, aku___"
"Aku tunggu!" Usai bicara, Kaivan langsung mengakhiri sambungan VC. Dia tak peduli meski di seberang sana Kennan keberatan dengan perintahnya.
Tanpa meletakkan ponsel, Kaivan kembali menatap Athreya dan menyuruhnya duduk. Gadis itu menurut. Ia duduk dengan kepala yang tetap menunduk, pun piring yang dibawa, masih setia di genggamannya.
"Kamu nggak ingin mengatakan apa pun?" ujar Kaivan setelah cukup lama terdiam. Dia menunggu Athreya bicara, tetapi gadis itu terus bungkam.
"Maaf."
"Sejak kapan kamu ada hubungan dengan Kennan?" tanya Kaivan.
"Aku nggak ada hubungan apa-apa, Kak. Aku nggak pernah bilang iya meskipun dia sering bilang cinta. Pertama kalinya dia ngelakuin itu pas aku dirawat di Jakarta. Waktu itu, Kak Kai lagi jenguk Mbak Nadhea, aku bosen dan pengin keluar kamar. Kak Kennan yang ngantar," terang Athreya.
"Kamu nggak bilang iya, tapi nyuruh dia ngelakuin ini-itu? Kamu bahkan mengubah dia menyerupai Gara. Apa maksudmu, Reya?" Suara Kaivan mulai meninggi.
"Kamu tahu, Kennan itu sahabatku. Kenapa kamu melakukan itu? Jika tidak cinta, katakan tidak. Jangan memberi harapan palsu, apalagi menyuruhnya melakukan ini-itu. Kamu pernah disakiti, Reya, tahu benar, kan, seperti apa rasanya? Lalu kenapa sekarang menyakiti orang lain? Kamu___"
__ADS_1
"Kak, aku nggak ada maksud nyakitin dia, apalagi mengubah dia seperti Gara. Aku ... aku hanya suka aja melihat cowok yang penampilannya kayak remaja," pungkas Athreya. Suaranya makin pelan pada kata kalimat yang terakhir.
"Nggak nyakitin? Kamu kira diberi harapan palsu itu nggak sakit?" Kaivan membuang pandangan, lalu mendaratkan tubuhnya dengan kasar. "Sudahi sikapmu ini. Nanti aku akan menyuruh Kennan berhenti, nggak perlu melakukan ini-itu dan nggak perlu lagi ngejar kamu. Aku nggak mau dia kecewa dan patah hati," sambungnya.
Athreya terkejut dan berteriak, "Kak, jangan!"
Kaivan menoleh, "Kenapa?"
"Aku ... aku___"
"Kamu jangan egois, Reya. Kalau nggak cinta, ya udah lepaskan. Biarkan dia move on dan cari yang lain, jangan ditahan-tahan. Dia anak orang, berhak bahagia," potong Kaivan.
"Tapi, Kak!"
"Nanti dia ke sini, aku akan kasih penjelasan panjang biar dia nggak bodoh lagi. Kamu juga jangan ulangi hal kayak gini! Nyakitin orang itu nggak baik, bisa kualat." Usai bicara, Kaivan bangkit dan melangkah pergi.
Melihat punggung Kaivan yang makin menjauh, Athreya memberanikan diri menyuarakan isi hati. Diletakkannya piring ke atas meja, lalu beranjak dan mengejar Kaivan.
"Kamu yang egois, Kak! Nggak mau ngerti bagaimana perasaan aku, bagaimana sulitnya jadi aku!" teriak Athreya.
Bukannya marah, Kaivan justru mengulum senyum. Entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas teriakan Athreya membuatnya bernapas lega.
__ADS_1
Bersambung...