
Aku membuka mata dan menatap langit-langit ruangan yang serba putih. Perlahan hidungku mencium aroma disinfektan yang sangat kuat. Apakah aku di rumah sakit? Dalam rasa pening, aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Lantas, aku tersentak kala melihat bayangan Dara yang pucat dan berlumpur. Semoga itu sekadar mimpi, pikirku dalam kekhawatiran.
"Sayang! Syukurlah kamu sudah bangun, Sayang."
Aku menoleh dan mendapati Kak Darren sedang berdiri di samping sembari mengusap keningku dengan lembut. Matanya memerah, seolah baru saja menangis. Lalu, aku kembali teringat dengan Dara. Mungkinkah ini ada hubungannya?
"Kak ... aww." Aku mengaduh karena rasa sakit tiba-tiba mendera pipiku.
"Sayang, sakit, ya? Pelan-pelan, jangan terlalu dipaksa," ucap Kak Darren.
Ia mengulurkan jemari dan menangkup pipiku. Hangat, tetapi juga menyisakan rasa perih. Kemudian, ingatanku pada kejadian sebelumnya makin jelas. Mayra dan Amanda bersekongkol, lalu melukaiku dan membunuh Dara. Aku tersentak seketika, lantas bangkit dengan susah payah. Kak Darren sempat menenangkan, tetapi perasaanku telanjur tak karuan.
"Di mana Dara? Katakan padaku di mana Dara, Kak?" Aku berteriak sambil mencengkeram lengan Kak Darren.
Ia tak segera menjawab, sekadar menunduk sambil menghela napas panjang. Aku terus mendesak, sampai akhirnya ia mendongak dan menatapku dengan lekat.
"Sayang, yang sabar ya. Dara ... sudah damai dalam surga-Nya," kata Kak Darren dengan gemetaran.
Aku menegang seketika dan air mata luruh tanpa dipinta. Ternyata bukan mimpi. Gadis kecil yang selalu kusayangi, kini telah pergi.
"Tidak! Ini tidak mungkin, Kak! Katakan ini bohong, Kak!" pekikku dengan napas yang sedikit tersengal.
__ADS_1
"Ini bukan bohong, Sayang." Kak Darren memelukku dengan erat. "Sekarang ... dia sudah dimakamkan. Hari sudah sore dan kamu belum sadar-sadar. Jadi ... dia terpaksa dimakamkan tanpa hadirmu," sambungnya.
Aku tak bisa berkata-kata, kenyataan ini terlalu pahit untuk kuterima. Dengan tubuh yang gemetaran, aku menatap setiap jengkal ruangan dan tak mendapati Bu Fatimah ataupun Ibu.
"Apakah Bunda dan Ibu ikut ke makam?" bisikku.
"Iya." Kak Darren mengangguk.
"Ayo susul mereka, Kak! Cepat, Kak!" Aku berucap sembari menarik-narik lengan baju milik Kak Darren.
"Sayang, kondisimu belum stabil. Kamu baru saja siuman dan ... mungkin mereka juga hampir pulang," sahut Kak Darren.
Kak Darren membuang napas kasar, "baiklah. Tunggu di sini, aku akan memanggil dokter."
Aku mengangguk dan membiarkan Kak Darren pergi. Lantas, aku menunduk dan menumpahkan tangis di atas pangkuan.
"Ya Allah, berikan kekuatan untuk hamba dalam melewati semua ini. Ujian ini sangat berat, Ya Allah," bisikku, mengadu pada Yang Maha Esa karena hanya Dia yang paling mengerti bagaimana perasaan ini.
Sabrina Dara Azzahra, gadis kecil yang belum mengenal dosa. Kini telah berpulang ke pangkuan-Nya. Ibarat bunga, ia mengering sebelum mekar. Sebagai wanita yang dipercaya meminjamkan rahim untuknya, semoga aku kuat menghadapi semua ini.
_________________
__ADS_1
Sang surya makin bergulir ke arah barat, tetapi tak menyurutkan niatku untuk menyusul Ibu dan Bu Fatimah, yang belum pulang dari makam.
Rasa perih di pipi, juga rasa nyeri di lengan kiri yang baru saja ditancapi slang infus, tak sedikit pun kuacuhkan. Pikiranku hanya tertuju pada Dara, yang kuharap belum dibaringkan di bawah tanah. Pandanganku lurus ke depan, menatap jalanan yang rasanya lebih panjang dari bayangan.
"Kak, ayo!" ucapku pada Kak Darren. Entah sudah keberapa kalinya aku menyuruhnya menambah laju.
"Sayang, ini hampir melewati batas maksimal," jawab Kak Darren.
Aku membuang napas kasar, meski ucapan Kak Darren benar, tetapi bagiku laju mobil ini masih sangat lambat.
Lalu, aku menyandarkan punggung dan membuang pandangan ke samping, mengerjap cepat guna menghalau air mata yang lagi-lagi ingin merembas.
Setelah cukup lama melaju, mobil yang kami tumpangi tiba di depan gerbang TPU. Banyak mobil yang berjajar di sana, salah satunya milik Bu Fatimah dan Mama Renata.
Aku bergegas keluar dan memasuki TPU dengan langkah cepat. Kak Darren pun turut serta dan berjalan di sampingku.
Aroma kemboja yang khas menyeruak dalam hidung, beriringan dengan angin yang membelai dan mengibarkan kerudung yang kukenakan. Di sela-sela batu nisan, aku dan Kak Darren terus berjalan, sampai akhirnya aku menatap sesuatu yang membuat tubuhku lemah tak berdaya.
"Sayang! Sayang!" panggil Kak Darren kala aku terjatuh di sampingnya.
Bersambung....
__ADS_1