Noda

Noda
Menanti Jawaban


__ADS_3

Sejak hari itu, Bu Fatimah tak pernah lagi bertanya tentang Daniel, juga tak pernah menyinggung tentang maksud ucapannya.


Setiap kali aku mencoba bertanya, beliau hanya menjawabnya dengan seulas senyum.


Perihal rencana Tante Nia, perlahan aku mulai melupakan. Pasalnya, tidak ada yang aneh dari sikap beliau. Berulang kali kami bersua, tak ada tanda-tanda kebencian yang beliau tunjukkan.


Apakah waktu itu aku salah dengar? Atau mungkin yang dimaksud bukan Kirana diriku?


Entahlah. Apapun jawabannya, aku berharap itu bukanlah sesuatu yang merugikanku.


Setelah melewati penantian panjang, akhirnya waktu mengantarku pada batas yang telah ditentukan. Dua bulan sudah waktu berjalan, terhitung sejak Daniel meminta tempo untuk mengenal Islam.


Sejak terjaga dari lena, perasaanku mulai diselimuti rasa cemas dan waswas. Daniel sudah menghubungiku dan katanya dia akan memberikan jawabannya hari ini juga.


"Semoga Allah memberikan hidayah untuk ayahmu, Nak, agar kita bisa hidup bahagia dalam cinta." Kusisir rambut Dara dengan jemari sambil kutatap manik cokelatnya yang setengah terpejam.


"Ya Allah, Engkau yang Maha Tahu bagaimana perasaan hamba, Engkau pula yang Maha Tahu apa yang baik untuk hamba.


Semoga apa yang hamba rencanakan, tidak beda jauh dari apa yang telah Engkau gariskan, Ya Allah," sambungku dalam hati.


Usai menenangkan Dara dan membuatnya kembali terlena, aku bangkit dari tidurku dan melangkah keluar kamar. Berkali-kali kuusap wajahku dengan kasar, guna menghapus bintik keringat yang membasahi kening dan pelipis.


"Bunda," panggilku, setelah tiba di dapur.


Bu Fatimah menoleh dan menatapku sambil tersenyum, dan begitu halnya dengan Bibi pelayan.


"Dara kok ditinggal?" tanya Bu Fatimah.


Dara sudah memasuki usia 6 bulan, dan dia tumbuh menjadi anak yang aktif. Dia mulai belajar duduk dan merangkak. Hal ini membuat Bu Fatimah kerap kali khawatir. Beliau melarangku meninggalkan Dara sendirian di kamar, karena takut jika dia akan terbangun dan jatuh.


"Masih anteng, Bunda. Tidurnya lelap banget," jawabku.


"Kamu yakin? Dia mulai aktif lho, Ra, jangan sembrono." Bu Fatimah berkata sambil mencuci potongan wortel.


"Yakin, Bunda." Aku tersenyum lebar sambil melangkah mendekati Bu Fatimah.


"Tapi Bunda khawatir, Ra. Ranjang kamu itu lumayan tinggi. Lagipula, cuma masak untuk sarapan kok, biar Bunda dan Bibi saja yang menyiapkan." Bu Fatimah masih tetap pada kekhawatirannya.


"Mmm, Bibi," panggilku pada Bibi pelayan.


"Iya, Mbak."


"Biar aku saja yang membantu Bunda, Bibi yang menjaga Dara saja, ya," ucapku.


"Tapi, Mbak." Bibi menggaruk kepalanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bi. Mau ya?" pintaku untuk yang kedua kali.


"Baiklah, kalau begitu saya tinggal ya, Mbak, Buk." Bibi tersenyum dan melangkah meninggalkan kami.


Aku bernapas lega, sekarang tinggal aku dan Bu Fatimah yang ada di ruangan ini. Aku biasa leluasa berbicara tentang Daniel pada beliau.


"Bunda," panggilku.


"Iya, Ra." Bu Fatimah menjawab sambil meracik bumbu cap cay.


"Semalam ... Daniel menghubungiku, Bunda," ucapku pelan.


"Oh ya, apa katanya?" tanya Bu Fatimah dengan antusias.


"Dia___"


"Dia gagal mengenal Islam?" pungkas Bu Fatimah.


Bola mata beliau melebar, dan garis tawanya mulai tampak samar-samar.


"Tidak, Bunda, tidak seperti itu," sahutku dengan cepat.


"La ... lalu? Dia berhasil jatuh cinta dengan agama kita?" tanya Bu Fatimah, kali ini dengan sedikit gugup.


"Oh begitu. Ya sudah, Kirana, tenangkan pikiran kamu, jangan terlalu khawatir. Kita boleh berencana, tapi yang berhak menentukan hanyalah Allah. Percayalah, Kirana, apapun yang digariskan oleh Allah, itulah yang terbaik untuk hidup kamu," ucap Bu Fatimah dengan panjang lebar.


"Iya, Bunda." Aku mengangguk sambil tersenyum.


________


Detak jarum jam terus berputar merangkai menit dan juga waktu. Detik demi detik yang berjalan, mengantarku pada kegugupan yang kian mencekam.


Matahari sudah merangkak tinggi, dan Bu Fatimah pun sudah berangkat ke toko. Kini, aku sendirian di dalam kamar, menunggu Daniel yang katanya sedang dalam perjalanan.


"Apa ya kira-kira jawaban Daniel," gumamku, pelan.


Kutautkan jemariku sambil kutatap wajah mungil Dara yang sedang bermain di atas karpet. Tanpa sadar, pikiranku mulai menerawang jauh. Dalam senyuman Dara, aku seakan melihat sosok Daniel yang juga tersenyum padaku. Wajah keduanya sangat serupa, wajar jika aku selalu mengingat Daniel setiap kali menatap Dara.


Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk dari luar. Jantungku mulai berdetak cepat, mungkinkah Daniel sudah datang?


"Mbak," panggil Bibi pelayan.


"Iya, Bi." Aku menyahut sambil membuka pintu.


"Ada tamu yang mencari Mbak Kirana," ucap Bibi, ketika pintu sudah terbuka lebar.

__ADS_1


"I ... iya, Bi," jawabku sedikit gugup.


Kuangkat tubuh Dara dan kubawa dia keluar kamar. Bibi berjalan menuju dapur, sedangkan aku langsung menuju ruang tamu.


Hatiku berdebar keras kala menatap sosok Daniel yang sedang duduk di atas sofa. Dia melayangkan senyuman manis ketika mata kami saling beradu.


"Kirana, bagaimana kabarmu?" tanya Daniel, tanpa memudarkan senyumannya.


"Aku baik, dia juga baik." Aku menjawab sambil menatap Dara. Aku sengaja mengalihkan pandangan, karena perasaan ini semakin tak karuan bila menatap manik cokelatnya.


"Sudah besar sekarang Dara yang manis. Sini, Nak, gendong Ayah, Ayah udah kangen banget sama kamu, Nak." Daniel meraih tubuh Dara dan membawanya ke dalam gendongan.


Aku duduk di sofa sambil tersenyum getir. Aku masih tidak tahu bagaimana jawaban Daniel. Bisakah aku mengobati luka hati, andai saja dia tidak bisa mencintai keyakinanku?


Namun perlahan, rasa getirku mulai memudar. Tawa Dara terdengar renyah saat bercanda dengan Daniel, dan tanpa sadar, aku pula ikut tersenyum.


"Kirana," panggil Daniel, yang lantas membuat jantungku kembali berdetak cepat.


"Hmmm." Aku bergumam sambil menatap ke arahnya.


"Seperti yang kukatakan semalam, hari ini aku akan memberikan jawabanku sama kamu," kata Daniel.


"Katakan apa keputusanmu," ucapku dengan cepat.


"Aku___" Ucapan Daniel terhenti karena Bibi pelayan datang menghampiri kami.


"Ini kopinya, silakan diminum mumpung masih hangat." Bibi meletakkan secangkir kopi hitam di depan Daniel.


"Terima kasih, Bi," kata Daniel.


Bibi mengangguk dan kemudian melangkah pergi meninggalkan kami.


"Daniel, katakan apa___"


Aku tercengang dan tertegun dalam waktu yang cukup lama. Sedari tadi Dara memainkan kancing kemeja Daniel. Warnanya memang mencolok, wajar jika dia tertarik. Sekarang, kancing itu terlepas, dan aku melihat jelas sebuah benda yang selama ini belum pernah Daniel kenakan.


Seketika, hati dan perasaanku bergejolak tak karuan. Dadaku sesak, seakan tak ada sedikit pun rongga untuk bernapas.


Oh Tuhan, mungkinkah Daniel?


"Kirana, kamu kenapa?" tanya Daniel. Mungkin dia menyadari ekspresiku yang mendadak berubah.


"Kirana, hei, ada apa?" Suara Daniel naik satu oktaf, namun tak lantas membuatku membuka suara. Aku masih butuh waktu untuk menata hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2