
Suasana mendadak hening. Reyvan, Athreya, bahkan Darren dan Kirana tak ada yang bersuara. Mereka sekadar berpandangan dan berusaha merangkai kalimat yang paling tepat. Meski selama ini paham bahwa Kaivan adalah pribadi yang payah dalam pendidikan, tetapi mereka tak menyangka bila sejauh ini kegagalannya.
"Kai___"
"Marah saja, Bunda, kalau perlu tampar sekalian. Aku memang pantas mendapatkan itu," pungkas Kaivan dengan cepat.
"Kai, Bunda tidak marah. Bunda___"
"Aku bodoh, tidak seperti Reyvan dan Reya yang sering membawa pulang piagam dan piala. Aku tidak bisa dibanggakan, malah mengecewakan dan memberikan aib yang besar untuk Bunda dan Papa." Lagi-lagi Kaivan memotong ucapan Kirana.
"Kaivan, jangan bicara sembarangan! Bunda dan Papa bangga punya kamu. Bagi kami, kalian bertiga itu sama," sahut Kirana dengan intonasi yang sedikit tinggi.
"Kai___"
"Maaf, aku gagal memenuhi keinginan Papa." Kaivan mendongak dan menatap ayahnya. "Aku terima apa pun hukuman yang akan Papa berikan. Tapi, jangan hari ini! Aku masih butuh waktu untuk sendiri," sambungnya.
Sebelum orang tuanya menyahut, Kaivan sudah membalikkan badan dan berlari menuju kamarnya—di lantai dua. Sejak tadi matanya memanas, itu sebabnya memilih menghindar. Dia tidak rela air matanya dilihat orang tua dan kedua adiknya. Cukup diri sendiri dan Tuhan saja yang tahu.
Sepeninggalan Kaivan, Kirana mendekati Reyvan dan Athreya.
"Nak, untuk sementara waktu kalian jangan membahas sekolah, ya, karena Kak Kai sedang sedih. Mari kita hibur dia agar tidak berputus asa!" ucapnya.
"Iya, Bunda."
"Kalian tidak keberatan, kan, dengan permintaan Bunda?" Kirana menatap kedua anaknya secara bergantian.
"Tentu tidak, Bunda. Aku paham bagaimana perasaan Kak Kai," jawab Reyvan.
__ADS_1
"Aku ingin Kak Kai kembali ceria seperti hari-hari kemarin, Bunda. Aku akan melakukan apa pun untuk menghibur dia," timpal Athreya.
"Kita pasti bisa menghibur dan membuat Kak Kai kembali ceria seperti sedia kala. Terima kasih ya, Nak untuk pengertiannya. Kalian adalah adik yang terbaik." Kirana mengulum senyum.
"Dan Kak Kai adalah kakak yang terbaik. Apa pun keadaannya, bagi kami dia adalah sosok kakak yang paling sempurna," jawab Reyvan.
"Betul. Aku sangat setuju dengan Kak Rey," sahut Athreya.
Kirana melebarkan senyuman," Ya sudah, sekarang kalian mandi, gih, sudah sore!"
"Oke, Bunda."
Setelah Reyvan dan Athreya pergi ke kamar masing-masing, Kirana mendekati suaminya.
"Kak, apa yang harus kita lakukan? Kenyataan ini pasti sangat memukul Kai," bisiknya.
"Kak!"
"Aku akan bicara dengannya," sahut Darren dengan lirih.
Setelah istrinya mengangguk, Darren melangkah pergi dan menuju lantai dua. Dia hendak menemui putra sulungnya. Setibanya di sana, berulang kali Darren mengembuskan napas kasar. Pintu kamar Kaivan tertutup rapat dan dia ragu untuk mengetuknya, takut bila kedatangannya justru mengacaukan perasaan Kaivan.
Setelah berpikir panjang, Darren membulatkan niat untuk menemui anaknya. Dia mengetuk pintu dan memanggil Kaivan berulang-ulang. Namun, tak ada jawaban dari dalam ruangan. Karena cukup lama menunggu dan Kaivan tak jua membuka suara, Darren memutuskan untuk membukanya sendiri, kebetulan memang tidak dikunci.
"Kai!" panggil Darren setelah kakinya melangkah memasuki kamar.
"Kai! Kamu di mana?" Darren menatap ke setiap jengkal ruangan dan mencari keberadaan anaknya.
__ADS_1
Akan tetapi, bukan sosok Kaivan yang dia temukan, melainkan lembaran-lembaran foto yang menghiasi seluruh dinding. Darren melanjutkan langkah dan menyentuh salah satunya, sebuah foto yang menampilkan keindahan senja di tepi pantai. Sebenarnya, objek dalam foto itu sangat sederhana, hanya pasir dan lautan lepas yang kemudian diterpa cahaya senja. Namun, entah mengapa foto itu terlihat istimewa sampai memancing rasa penasaran akan keindahan aslinya.
Darren beralih menatap foto yang lain, yang objeknya sama-sama sederhana—gulungan ombak yang sudah pecah dan hampir mengenai botol kosong di atas pasir putih. Untuk kedua kalinya Darren mengagumi keindahan foto, yang diciptakan oleh anaknya sendiri.
"Apa memang ini masa depanmu, Kai?" gumam Darren.
Kaivan memang berbeda dengan kedua adiknya. Selain berotak payah, dia sama sekali tidak ada cita-cita untuk mengurus bisnis milik sang ayah. Hobinya menikmati keindahan alam dan mengabadikannya dalam sebuah potret. Beberapa bulan lalu, dia mengutarakan keinginan terbesarnya, yakni mendaki gunung. Namun, Darren tak mengizinkan. Menurutnya, itu sangat berbahaya karena Kaivan masih remaja. Terlebih lagi, gunung yang dipilih adalah Gunung Rinjani. Selain lokasinya yang jauh dari tempat tinggal, Puncak Rinjani merupakan puncak tertinggi nomor lima di Indonesia. Darren sangat tidak tega melepas Kaivan mendaki di sana.
Darren mengalihkan pandangan ke atas meja dan menilik kamera DSLR yang dibeli tiga tahun silam. Kala itu, Kaivan masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Kaivan ulang tahun dan meminta kamera pada sang ayah untuk mengganti kamera lama yang dibeli dari uang sakunya.
Papa membelikan kamera yang terbaik untukmu. Tapi ingat, Kai, sekedar hobi. Masa depanmu adalah mengurus bisnis Papa. Itu lebih menjamin dibandingkan menjadi fotografer. Papa percaya kamu bisa.
Aku tidak tertarik dengan bisnis, Pa.
Kamu putra sulung Papa, kelak kamulah yang membimbing Reyvan dan Athreya. Belajar yang rajin, Kai! Kamu harus bisa!
Kala itu, wajah Kaivan langsung murung. Meski tidak ada kalimat bantahan, tetapi juga tidak ada anggukan atau senyuman.
Hal itu terus berlanjut hingga Kaivan duduk di kelas 3 SMA. Darren selalu menekankan bahwa masa depannya adalah pembisnis, bukan fotografer. Tak pernah ada penolakan dari bibir Kaivan, tetapi makin hari dia menjadi pribadi yang tertutup.
Kendati senang bercanda dan mendengarkan cerita adik-adiknya, tetapi Kaivan tak pernah bercerita tentang dirinya, termasuk pengalaman saat menikmati tempat wisata. Padahal, dulu dia selalu bercerita panjang lebar dan dengan bangga menunjukkan hasil jepretannya.
"Apakah sikapku selama ini salah?" gumam Darren seorang diri.
Lantas, dia kembali teringat dengan tujuan awal—mencari Kaivan. Lalu dia melayangkan pandangan ke segala arah dan tatapannya tertuju pada pintu yang menuju balkon, sedikit terbuka. Darren mengulum senyum dan segera berjalan ke arah sana. Namun, dua detik kemudian langkahnya terhenti. Pandangan Darren tertuju pada sesuatu yang ada di sudut ruangan. Dia langsung terpaku di tempatnya. Barang yang disimpan Kaivan membuatnya kesulitan menelan ludah.
Bersambung...
__ADS_1