
"Pernah apa?" Aku memberanikan diri untuk bertanya, karena Kak Darren menggantungkan kalimatnya dalam waktu yang cukup lama.
Kak Darren menatapku dengan sendu, lantas perlahan menggerakkan bibirnya.
"Aku memilih jalan curang dalam merintis karier. Aku menjadi simpanan demi mengejar jabatan," jawab Kak Darren.
"Simpanan?" gumamku, sangat pelan.
"Iya." Kak Darren mengangguk. "Amanda Rocella, dia adalah atasanku. Suaminya lumpuh akibat kecelakaan 3 tahun yang lalu. Suami Amanda bukanlah lelaki dari kalangan atas, dia adalah lelaki sederhana yang memiliki wajah tampan. Awalnya, rumah tangga mereka baik-baik saja. Namun, semua berubah sejak sang suami kecelakaan. Amanda tidak bisa menerima kekurangan suaminya, itu sebabnya dia mencari kesenangan di luar," sambungnya.
"Lanjutkan, Kak."
"Perusahaan milik Amanda termasuk perusahaan yang cukup berpengaruh di Negara Indonesia. Kendati kantornya tidak terlalu besar, tapi dia menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan ternama di Ibu Kota.
Suatu keberuntungan bisa menjadi staf di sana, karena gajinya lumayan besar. Tapi aku serakah dan tidak kuat iman. Dengan iming-iming menempati kursi direktur, aku menerima ajakannya untuk bersenang-senang. Cukup lama aku menjalani kehidupan yang seperti itu, Kirana," terang Kak Darren.
Kak Darren menunduk, menyembunyikan raut wajahnya yang penuh dengan gurat penyesalan. Aku masih tak bisa berkata-kata, aku hanya menatapnya sembari menggigit bibir. Tanpa dipinta, pikiranku mulai berkelana. Menjelajah memori lama yang nyaris menghilang bersama putaran waktu.
Pada masanya, aku pernah kagum dengan karier Kak Darren. Dia berhasil menduduki posisi puncak hanya dalam waktu singkat. Kupikir, semua itu karena kecerdasannya. Namun tak kusangka, ada hal curang yang ikut berperan.
Sekeras itukah bujuk rayu dunia?
"Kamu adalah satu-satunya orang yang tahu tentang ini, Kirana. Mama, Papa, juga Mama Imah, mereka sama sekali tidak mengerti," kata Kak Darren, sebelum aku membuka suara.
"Lantas, kenapa begitu mudahnya kamu menceritakan semua ini padaku, Kak?" tanyaku padanya.
"Karena niatku serius. Aku tidak mau kamu menyesal setelah mengambil keputusan, hanya karena aku terlambat mengatakan kebenaran. Kirana, kamu adalah orang yang membuatku berhenti menjalani kehidupan itu. Setelah aku tahu apa yang terjadi padamu, hatiku tergerak untuk mengejarmu. Perasaan ini masih sama besar seperti dulu, itu sebabnya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, karena aku ingin menguntai masa depan." Kak Darren menjawab sambil menatapku.
"Sekarang, bagaimana hubunganmu dengan Amanda, Kak?" Aku kembali bertanya.
"Aku sudah berpisah dengannya. Aku sudah memutuskan untuk mengkhiri jalan hidupku yang salah, aku pulang ke sini dan melepas jabatanku sebagai direktur," jawab Kak Darren.
"Apakah dia menerima keputusanmu, Kak?" Aku terus bertanya.
__ADS_1
"Hubungan kami tidak dilandasi cinta, kami bersama sekedar mencari keuntungan serta kesenangan. Aku sudah memberikan penjelasan panjang lebar padanya, dan dia menerima.
Berkat dirimu, aku mampu menemukan kembali cahaya hidupku. Aku merangkak keluar dari belenggu dosa dan berusaha memperbaiki diri. Namun, aku belum seteguh dirimu, Kirana, hati ini sering bimbang jika keadaan tak sesuai dengan harapan. Maafkan aku yang sempat marah-marah, aku tak bisa mengendalikan diri saat kamu menjaga jarak dan enggan memberiku kesempatan." Kak Darren menjelaskan sembari mengusap wajahnya.
"Apa ada ... hal lain, Kak?"
Berkaca dari kehidupanku sendiri, pergaulan bebas membuatku hamil dan melahirkan Dara. Mungkinkah Kak Darren juga mengalami hal yang sama?
"Tidak." Kak Darren menggeleng. "Dia mandul," sambungnya. Dia langsung paham dengan maksud pertanyaanku.
Aku hanya mengangguk pelan, tanpa mengucapkan sepatah kata. Aku berpikir sejenak sembari menimang jawaban yang tepat. Menerima atau menolak.
"Kak Darren," panggilku, pelan.
"Hmmm."
"Masa lalumu tidak lebih buruk dariku, Kak. Kau tahu 'kan, aku sudah memiliki anak bersama Daniel. Menikahiku, tentu saja harus menerima anakku. Apa kamu sanggup, Kak?" tanyaku padanya.
"Lebih dari sanggup. Aku mencintaimu, tentu saja aku siap menerima apapun yang ada dalam dirimu, termasuk ... Dara," jawab Kak Darren.
"Sekarang, apa jawabanmu?" Kak Darren kembali bertanya sebelum aku berhasil menemukan jawaban.
"Bolehkah ... aku meminta tenggang waktu?" Aku balik bertanya.
"Aku tidak pandai berkawan dengan harapan, aku takut jika kenyataan tak sesuai dengan bayangan," sahut Kak Darren.
Aku menghela napas panjang karena tahu makna ucapannya. Dia keberatan jika aku mengulur waktu.
"Kirana."
"Aku tidak menutupi kenyataan, perasaan untukmu masih belum ada, Kak, tapi ... mulai detik ini aku akan belajar mencintaimu," jawabku dengan jantung yang berdetak cepat. Aku telah membuat keputusan untuk masa depan. Semoga saja pilihan ini tidak salah.
"Kamu, kamu menerimaku, Kirana?" Kak Darren memastikan jawabanku dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Iya." Aku mengangguk.
"Terima kasih, Kirana. Aku sangat senang kau beri kesempatan. Aku tidak akan menyia-nyiakan dirimu. Mulai saat ini, kebahagiaanmu adalah prioritasku. Dalam waktu dekat, aku akan membawa orang tuaku bertandang ke rumahmu. Secepatnya aku akan menghalalkan kamu," kata Kak Darren diiringi senyuman lebar.
"Aku menunggumu, aku akan memberitahukan kabar baik ini pada Ibu. Semoga Allah meridhoi niat kita, Kak," sahutku juga dengan senyuman.
"Amin." Kak Darren menjawab sembari merogoh saku celananya. Ia mengambil benda kecil berwarna merah.
Kutilik wajah Kak Darren yang semakin tersenyum, membuatku semakin penasaran dengan benda kecil yang ia genggam. Detik selanjutnya, Kak Darren meletakkan barang itu di atas meja. Dia membukanya, dan tampak di sana sebuah cincin yang berhiaskan permata warna biru safir.
"Untuk kamu," ucap Kak Darren.
Aku terkesiap, tak menyangka jika dia akan memberiku cincin secepat ini. Kapan dia mempersiapkannya?
"Kak, kamu ... mmm___"
"Maaf, aku terlalu percaya diri." Kak Darren tersenyum sambil menggaruk kepalanya. "Aku membeli ini tadi pagi, setelah Mama Imah mengabariku untuk bertemu denganmu," sambungnya.
Perlahan kuularkan tangan dan kuraih cincin yang disodorkan di hadapanku. Kugenggam kotak beludru merah itu dengan erat. Lantas aku kembali menatap Kak Darren, aku ingin meluruskan satu hal yang masih mengganjal.
"Kak, kamu tahu apa hubunganku dengan Bunda?" tanyaku.
"Iya, aku tahu, dan hal itu membuatku paham mengapa kau mirip dengan Arina. Aku pernah bilang 'kan padamu, kamu itu mirip dengan adikku yang sudah tiada. Adik yang kumaksud adalah Arina, anak Mama Imah," ucap Kak Darren.
"Apa orang tuamu juga tahu, Kak?" Aku kembali bertanya dan Kak Darren menjawabnya dengan anggukan.
"Lantas bagaimana tanggapan mereka tentangku? Ibuku banyak salah sama Bunda. Gara-gara Ibu, Ayah pergi meninggalkan Bunda. Ayah pula meninggalkan Kak Arina, sampai ia mengembuskan napas terakhirnya. Aku anak haram, dan aku pula melahirkan anak di luar nikah, apa mereka tidak masalah kamu memilih wanita sepertiku sebagai istri?" Mataku mulai berkaca-kaca. Mengingat tentang masa lalu, selalu saja membuat hatiku pedih.
"Kamu tidak andil salah, Kirana. Bukan maumu terlahir dengan cara seperti itu, tapi, siapa yang bisa melawan takdir. Mama dan Papa tidak mempermasalahkan hal ini, justru mereka sangat menantikan kehadiran kamu sejak beberapa waktu lalu. Mereka ikut bahagia, karena berkat kamu, Mama Imah tidak murung seperti dulu. Soal Dara, Mama dan Papa tidak masalah. Mereka sadar bahwa kekhilafan bisa terjadi pada siapa pun," jawab Kak Darren. Sebuah penjelasan yang membuat bibirku mengulas senyuman lebar.
"Ya Allah, semoga ini jalan yang Engkau tunjukkan untuk hamba meniti masa depan. Dengan bismillah, hamba menerima pinangannya. Semoga ini pilihan yang benar, Ya Allah," ucapku dalam hati.
"Kirana, kenapa?" tanya Kak Darren. Mungkin dia heran melihatku memejamkan mata.
__ADS_1
"Aku bahagia," bisikku, masih dengan mata yang terpejam.
Bersambung...