Noda

Noda
Terungkap


__ADS_3

Setibanya di ruang tamu, Luna dan Kaivan disambut oleh Bi Mina—salah satu pelayan yang bekerja di rumah Prawira. Dia hendak membantu Kaivan membawakan ransel ke kamar. Namun, Kaivan menolak dengan ramah. Bahkan, ketika Bi Mina akan mengantarnya ke sana, Kaivan justru menanyakan keberadaan Prawira.


"Kai, kamu habis nyetir lama, pasti lelah. Istirahatlah dulu! Nanti___"


"Aku nggak lelah, Luna. Aku___"


"Kai, jangan bohong! Aku tahu kamu lelah. Lebih baik istirahat dan membersihkan diri terlebih dahulu, nanti sekalian salat. Nggak lama lagi masuk waktu magrib, kan?" Luna menggandeng lengan Kaivan. "Nanti menyapa Papa sambil makan malam aja, ya?" sambungnya.


"Baiklah," jawab Kaivan setelah berpikir sejenak.


"Mmm, Non, apa nggak sebaiknya___"


"Bi, tolong kerjakan yang lain saja! Kaivan biar saya sendiri yang mengantar," potong Luna sembari mengedipkan matanya.


"Bukan itu, Non. Engg ... anu, Non." Bi Mina memberikan kode lewat tatapan mata.


"Kenapa, Bi?" timpal Kaivan. Dia menangkap kegelisahan dalam raut wajah Bi Mina.


"Mungkin Bi Mina nggak enak kalau aku yang ngantar kamu, karena biasanya beliau yang melakukan itu. Tapi ... ini kan kamu, Kai, jadi ... beda dong." Luna menyahut sambil tersenyum.


Bi Mina tak lagi membuka suara, sekadar menunduk sambil membatin, "Kenapa Non Luna tidak mengerti dengan kode tadi?"


Di sisi lain, Luna tersenyum lega, lantas membimbing Kaivan berjalan menuju lantai dua. Di belakang punggung yang makin menjauh, Bi Mina terpaku sambil menggigit bibir.

__ADS_1


"Semoga semua baik-baik saja," gumamnya.


Untuk tiba di lantai dua, mereka terlebih dahulu melintas di ruang tengah. Luna mempercepat langkah karena tak ingin Kaivan berjumpa dengan seseorang yang menjadi beban hidupnya. Di sela-sela langkahnya, Luna melirik ke kamar ayahnya, tertutup rapat.


"Kupikir dia di kamar Papa, ternyata tidak. Ah, syukurlah kalau dia di kamarnya sendiri. Dengan begitu nggak akan ketemu sama Kaivan. Setelah ini, aku akan mengusirnya. Lagian ngapain juga ke sini, mengusik kenyamananku saja," batin Luna. Dia merasa tenang karena kamar seseorang yang dimaksud berada di belakang ruang tengah.


"Luna, Sayang!"


"Eh, ehmm, iya," jawab Luna sedikit terbata.


"Aku ajak bicara loh sejak tadi," ucap Kaivan. Sembari menapakkan kaki di anak tangga, Kaivan menatap kekasihnya yang sedari tadi tampak gelisah.


"Sorry, sorry, mendadak kepalaku kayak ... pusing." Luna memijit pelipis sambil melontarkan dustanya.


Sebenarnya, Kaivan merasakan sedikit kejanggalan. Mulai dari ekspresi pelayan dan kekasihnya, juga mobil Lamborghini yang entah siapa pemiliknya. Jika ada tamu, otomatis mereka akan berjumpa, tetapi sedari tadi hanya pelayan yang dilihatnya. Bahkan, calon mertua pun tidak kelihatan batang hidungnya.


Kaivan mengembuskan napas kasar, "Aku tidak boleh berprasangka buruk lagi. Luna gadis baik, aku tidak boleh membuatnya kecewa," batinnya.


Kaivan dan Luna terus berjalan hingga tiba di ujung tangga. Baru saja menapakkan kaki di lantai dua, mereka disambut oleh seorang wanita.


"Hai, Luna! Hai, Adik Ipar," sapa wanita itu.


Kaivan tertegun untuk beberapa detik lamanya. Suara yang familiar, serta wajah yang sangat serupa dengan 'Gadis Tipis Otak' yang ditemui di Gunung Rinjani. Benarkah itu dia? Atau sekadar mirip belaka?

__ADS_1


Kaivan meniliknya dari ujung kaki hingga ujung kepala, penampilan natural dan sedikit berantakan. Menatap rambut yang digulung asal, serta liontin daun yang sama persis dengan waktu lalu, Kaivan yakin bahwa dia memanglah Nadhea.


"Kenapa dia ada di sini dan mengapa memanggilku 'adik ipar'?" batin Kaivan.


Di sampingnya, Luna mengepalkan tangan dengan penuh amarah. Matanya memicing dan menatap Nadhea dengan tajam. Dia sangat benci dengan wanita itu. Walaupun ada ikatan darah di antara keduanya, tetapi Luna tak mau mengakui. Dia tidak pernah menganggap Nadhea sebagai kakaknya karena wanita itu bodoh dalam segala hal.


Sebelum Kaivan dan Luna menjawab sapaan Nadhea, seorang lelaki datang menghampiri mereka. Dalam balutan kemeja biru dan celana hitam panjang, dia tampak rupawan walau usianya cukup matang. Tatapan dan tingkah lakunya yang berwibawa membuat siapa pun bisa menebak bahwa dirinya berkedudukan tinggi.


Lelaki yang saat ini memasuki usia 35 tahun, berdiri di samping Nadhea dan merangkul lengannya.


"Kenalkan, saya Arsenio William Osric dan ini istri saya, Nadhea Queenaya. Kamu calon suaminya Luna, kan? Nah, kenalkan, Nadhea adalah kakak kandungnya Luna. Dia adalah putri sulung dari pasangan Prawira Bagaskara dan Rania Kusuma," ucap Arsen dengan lantang dan tegas, bahkan setiap suku kata diberi penekanan.


"Ka-kakak kandung?" Kaivan kaget dan tak percaya. Selama ini, Luna selalu menegaskan bahwa dirinya adalah putri tunggal dan Prawira pun membenarkan hal itu. Bahkan, dunia luar juga menganggap demikian.


"Aku tidak heran kalau kamu kaget___" Arsen menatap Kaivan dengan tajam, "___karena dia___"


"Mas, jangan!" pungkas Nadhea.


"Tidak apa-apa, Sayang. Dia, kan, sudah tunangan dengan Luna. Sebentar lagi menjadi bagian dari keluarga kita ... oh, maaf salah. Maksudku calon keluarga Pak Prawira Bagaskara. Jadi, tidak ada salahnya, kan, memberitahu dia tentang silsisah keluarga. Siapa tahu bisa menjadi bahan pertimbangan sebelum melangkah ke pelaminan." Arsen kembali menatap Kaivan.


"Calon Adik Ipar, aku sangat maklum kalau kamu terkejut. Sejak kecil keberadaan Nadhea tidak pernah dianggap, bahkan ... sejak beberapa tahun lalu namanya sudah dicoret dari daftar keluarga. Mereka selalu mengatakan bahwa Luna adalah putri tunggal. Jadi, sangat wajar kalau kamu tidak tahu kebenaran ini," sambung Arsen.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2