Noda

Noda
Tidak Tertolong


__ADS_3

Kennan menjatuhkan tubuhnya di sofa setelah mendengar kabar tentang Athreya. Gadis itu bunuh diri dan kini koma di rumah sakit. Ada apa gerangan? Bukankah Athreya sangat disayang oleh keluarganya, lalu apa yang membuatnya bunuh diri? Apakah dia akan selamat? Apakah suatu saat nanti mereka bisa bertemu lagi?


Berbagai pertanyaan berputar-putar dalam pikiran Kennan.


"Athreya, kesulitan apa yang sudah menimpamu? Ya Allah, tolong selamatkan dia," bisik Kennan dengan gemetaran.


Kemudian, dia menggeram dan memukuli udara hampa. Merasa kesal karena pekerjaan menahannya untuk tetap di sana.


"Jika semuanya sudah beres, aku akan menyusulmu, Kai," ucap Kennan. "Ah, andai saja aku bisa pergi sekarang." Untuk kesekian kali, dia menggeram dan meluapkan emosi.


_____________


Dentuman keras terdengar menggema dari pintu mobil yang dibanting kasar oleh Kaivan. Disusul derap langkah yang tergesa menyusuri paving di halaman rumah sakit, di Kota Jakarta. Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, akhirnya Kaivan berhasil mendatangi adiknya.


Kaivan berhenti di depan IGD. Kedatangannya disambut oleh Reza, Niken, dan juga Nicko. Wajah ketiganya tampak cemas, terlebih lagi Nicko, sampai memucat.


"Bagaimana keadaan Reya, Om?" tanya Kaivan tanpa basa-basi.


"Dokter belum keluar. Sudah tiga jam lebih kami menunggu," jawab Reza.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengannya, Om? Ada masalah apa? Kenapa sampai bunuh diri?" Kaivan melayangkan banyak pertanyaan.


"Om juga tidak tahu, Kai. Selama ini dia baik-baik saja, hanya lima hari terakhir Athreya mengeluh pusing dan tidak kuliah. Tapi, berkali-kali kutawari ke rumah sakit dia menolak." Reza menghela napas panjang. "Om tidak menyangka akhirnya akan seperti ini. Tadi sungguh kaget saat melihat mulutnya berbusa," sambungnya.


"Hari ini, dia sama sekali nggak keluar kamar, bahkan makanan yang Bibi antar juga tidak disentuh. Tadi sore aku menelepon Mbak Kirana dan memberitahukan keadaan Athreya. Waktu Mbak Kirana ingin bicara, Athreya menolak, katanya ngantuk dan ingin tidur. Setelah itu, kami nggak mengganggu lagi. Rencananya, kami akan mengajak bicara esok pagi, tapi ternyata dia sudah nekat. Tadi, Nicko yang pertama kali mengetahui keadaan Athreya." Niken turut menyahut.


Kaivan mengepal. Selain sedih dan kecewa kepada pamannya, dia juga kecewa pada dirinya sendiri. Sejak hubungannya dengan Luna merenggang, Kaivan jarang menghubungi Athreya, bahkan membalas chat-nya pun sering terlambat. Dia menyibukkan diri dengan pekerjaan dan sedikit melupakan benda pipih itu. Kini, penyesalan mengimpit dada hingga sesak. Andai waktu dapat diputar, dia akan memprioritaskan Athreya meski perasaannya sedang tidak baik-baik saja.


"Andai aku selalu ada untuk Reya, pasti dia punya tempat untuk berbagi, dan hal ini mungkin tidak akan terjadi. Reya, masalah apa yang menimpamu?" ucap Kaivan dalam hatinya.


Ketika sesak makin menyeruak, Kaivan mengingat keberadaan Nicko. Lalu, dia mendongak dan menatap lelaki itu. Nicko sebaya dengan Athreya, bahkan kuliahnya pun di universitas yang sama. Besar kemungkinan dia memahami masalah Athreya.


"Apa yang terjadi dengan Reya?" tanya Kaivan.


Kaivan meradang. Mendengar suara yang tertahan, juga wajah yang pucat dan berkeringat, Kaivan menduga lelaki itu menyembunyikan sesuatu.


"Aku tahu jawabanmu tidak sepenuhnya jujur." Kaivan makin mendekat.


"Aku udah jujur, Kak. Aku___"

__ADS_1


"Tatap mataku kalau kamu memang jujur!" pungkas Kaivan dengan bentakan, tangannya pun turut bergerak dan mencengkeram baju Nicko.


"Jangan menyalahkan Nicko! Adikmu memang tidak bicara apa-apa pada kami!" bentak Niken. Dia kurang suka dengan tindakan Kaivan.


"Sudah, jangan ribut di sini! Nanti kita bicarakan baik-baik setelah dokter keluar," lerai Reza. Dia berusaha menenangkan Kaivan yang perangainya tak jauh beda dengan Darren—emosi tinggi ketika orang yang disayangi terusik.


"Tapi, Om___"


Ucapan Kaivan terhenti karena pintu IGD tiba-tiba terbuka. Dengan cepat Kaivan melepaskan cengkeram dan menghambur kepada dokter yang sedang berdiri lesu di depan pintu.


Berulang kali Reza dan Kaivan menanyakan keadaan Athreya, tetapi dokter masih diam, sekadar menatap nanar dengan bibir yang bergetar.


"Dokter, bagaimana keadaan adik saya? Tolong jawab, Dokter!"


"Maaf." Satu jawaban yang membuat Kaivan kesulitan menelan ludah.


"Saya hanya bisa menyelamatkan Nona Athreya, sedangkan bayinya ... sudah tidak tertolong," sambung dokter.


Bersambung...

__ADS_1


Yang tahu atau ingat dengan nama istrinya Reza, komenin ya, entar aku edit. Gara-gara HP rusak, rekapan nama-nama tokoh ikut ilang. Kemarin baca beberapa bab nggak nemu nama istrinya Reza (atau mungkin belum pernah aku tulis). Aku lupa, jadi bikin nama baru.


Yang tahu tolong ingetin ya🙂🙂🙂


__ADS_2