Noda

Noda
Titik Terang


__ADS_3

Melihat air mata Kaivan, emosi Darren perlahan mereda. Lantas, dengan perlahan pula dia melepaskan cengkeramannya. Darren terus menatap mata sang anak yang makin lama makin memburam.


"Maafkan aku, Pa." Kaivan berbisik sambil menunduk.


"Duduk!" perintah Darren masih dengan suara tegas.


Kaivan kembali duduk di tempat semula dengan kepala yang masih tertunduk. Darren pun turut duduk. Namun, dia tak jua bicara, sekadar menatap lurus ke depan sambil mengatur napas yang sempat memburu.


"Mulai sekarang, Papa tidak akan memaksamu. Kejar apa yang kamu inginkan! Walaupun itu jauh dari bisnis Papa, Papa akan berusaha memahaminya," ucap Darren beberapa saat kemudian.


Kaivan tak menyahut, hanya menoleh dan menatap ayahnya yang masih memandang lurus ke depan. Di belum yakin bahwa ayahnya benar-benar memberikan izin.


"Jika duniamu memang fotografi, maka berjuanglah di sana!" imbuh Darren.


"Pa, aku ... aku___"


"Satu hal yang harus kamu ingat, jangan sekali-kali mencari pelarian pada sesuatu yang salah. Tinggalkan kedua benda itu, Papa akan mendukungmu mengejar keinginan." Darren memotong ucapan Kaivan sambil melemparkan tatapan tajam.


"Maaf, Pa, aku sudah melakukan kesalahan fatal." Kaivan kembali menunduk.


"Papa memaafkanmu."


"Terima kasih, Pa."


"Tapi ingat, Kaivan, jangan sekali-kali diulangi! Jika suatu saat nanti kamu masih melakukan hal yang sama, Papa tidak segan lagi. Papa akan bertindak tegas!" ucap Darren.


"Tidak akan, Pa. Aku janji ini terakhir kalinya," jawab Kaivan.

__ADS_1


"Bagus. Papa pegang janji kamu." Darren menepuk bahu Kaivan.


"Iya, Pa."


"Satu lagi yang harus kamu tahu. Zaman sekarang, segala sesuatu sering diukur dengan uang. Papa menyuruhmu terjun ke dunia bisnis bukan tanpa alasan, melainkan demi masa depanmu. Kelak jika kamu dewasa dan merencanakan pernikahan, pekerjaan adalah sesuatu yang patut dipertanyakan. Papa hanya khawatir, profesi yang kurang mendukung membuatmu gagal dalam cinta. Walaupun kamu punya Papa dan kelak mewarisi salah satu aset Papa, tapi jika kamu sendiri tidak bisa menangani, semua akan sia-sia," ungkap Darren dengan panjang lebar.


"Tidak semua wanita memandang uang, Pa." Kaivan menyahut pelan.


"Kamu benar. Tapi, juga tidak semua wanita bisa menerima apa adanya. Terkadang, harta dan kekuasaan menjadi pertimbangan yang pertama." Darren menghela napas panjang. "Papa beruntung bertemu dengan bundamu, wanita yang bisa menerima Papa apa adanya. Tapi ... belum tentu kamu punya keberuntungan yang sama, Kaivan," sambungnya.


"Aku paham, Pa, dan aku tidak menyesal dengan pilihanku," jawab Kaivan.


"Baiklah. Papa akan mendukungmu!"


Asap yang mengepul dari bekas rokok Kaivan sudah padam, bersamaan dengan padamnya emosi Darren. Dia sadar, tindakannya selama ini salah. Dia terlalu menekan Kaivan tanpa berpikir bahwa itu akan mengakibatkan hal fatal. Walaupun berat, tetapi mulai saat ini Darren akan berusaha memahaminya. Dia akan mengizinkan dan mendukung apa pun cita-cita Kaivan.


"Tidak lulus bukan akhir dari segalanya. Lanjutkan sekolahmu!" kata Darren.


"Iya, Pa." Kaivan mengangguk.


Tak lama kemudian, mereka dikejutkan oleh suara seseorang, yang kehadirannya tak disadari oleh keduanya.


"Apa yang terjadi?" tanya Kirana. Dia mengernyit saat melihat serpihan botol vodka berserakan di lantai, juga sisa batang rokok yang ada di antaranya.


"Bunda," gumam Kaivan.


"Kai, kamu___"

__ADS_1


"Maafkan aku, Bunda." Kaivan beranjak dan berjongkok di bawah kaki Kirana. "Bunda boleh marah, boleh menampar, boleh memukul, tapi tolong jangan kecewa. Aku janji akan memperbaiki semua ini. Tolong maafkan aku, Bunda," sambungnya.


Kirana masih bergeming, tak percaya bahwa putranya mengonsumsi alkohol dan rokok. Rasanya dia gagal menjadi seorang ibu.


"Bunda, tolong maafkan aku, Bunda." Kaivan masih terus meminta maaf.


Kirana mengerjap cepat guna menahan air mata yang mulai menggenang. Lantas, dia membungkuk dan menggenggam lengan Kaivan. Kendati belum ada perkataan yang terucap, tetapi dia membimbing putranya untuk bangun dan mengusap air matanya.


"Apa yang membuatmu melakukan itu?" tanya Kirana.


Sebelum Kaivan menyahut, Darren terlebih dahulu menjawab. Dia menjelaskan tentang perasaan Kaivan yang tertekan. Dia juga menerangkan bahwa setelah ini akan mendukung apa pun cita-cita Kaivan, termasuk menjadi fotografer.


Kirana tak membuka suara, tetapi melayangkan tatapan intens kepada suaminya. Sejak dulu dia kurang setuju dengan keinginan Darren, yang memaksa Kaivan untuk tekun dalam bisnis. Pasalnya, dia tahu kemampuan Kaivan bukan di sana. Akan tetapi, Darren selalu menyanggah, dengan alasan fotografer bukan profesi yang menjanjikan.


"Maaf, aku salah, tidak mendengarkan pendapatmu. Mulai sekarang aku akan memperbaiki sikap dan tidak akan memaksa lagi. Aku akan mendukung apa pun keinginan Kaivan," kata Darren. Dia tak enak hati dengan tatapan istrinya.


Kirana tersenyum. Lantas mengusap-usap lengan Kaivan guna memberikan semangat padanya. Walau dalam hati terselip rasa kecewa, tetapi Kirana tak kuasa untuk meluapkan emosi. Apa yang dilakukan Kaivan saat ini, tidak sebanding dengan kesalahannya di masa silam. Dia jauh lebih buruk daripada Kaivan.


"Setelah ini belajar yang rajin, Kai! Lanjutkan sekolahmu dengan baik. Kelak, jika sudah tamat SMA, Papa akan mengizinkanmu mendaki gunung," ucap Darren beberapa saat kemudian.


"Terima kasih, Papa. Terima kasih, Bunda."


Kaivan tersenyum lebar. Bayang-bayang Puncak Rinjani mulai memenuhi pikirannya. Entah takdir apa yang tersembunyi di sana, mengapa dia sangat mendambakan tempat itu—sebuah lokasi yang jauh dari kota asalnya.


Hati Kaivan terus berbunga-bunga. Harapan yang seakan terbentang di depan mata membuatnya lupa dengan olokan-olokan kawan, yang mungkin akan dia terima ketika mengulang sekolah setahun ke depan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2