
"Hallo, Kaivan. Kamu masih ada di sana?" tanya seseorang di seberang.
Kaivan mengernyit. Dia heran kenapa orang itu mengetahui namanya. Lantas, dengan suara lirih dia menanyakan identitas lawan bicara.
"Aku Prawira, Kai, mertua kamu. Aku sedang ada di Malang, Luna sakit sejak kemarin lusa," tutur seseorang yang ternyata adalah ayahnya Luna.
"Om Wira." Kaivan sedikit gugup. "Mmm, Luna sakit apa, Om? Dia tidak bilang apa-apa sama saya," sambungnya.
Terdengar embusan napas berat dari seberang. Lalu beberapa detik kemudian, Prawira kembali bicara.
"Pusing dan lemas, tensinya rendah. Tapi, nggak apa-apa, sudah diperiksa dokter, juga sudah diberi obat. Aku sengaja ke sini untuk menangani pekrjaannya, agar dia bisa istirahat maksimal," ungkapnya.
"Syukurlah kalau tidak apa-apa. Mmm, Om, boleh saya bicara dengan Luna? Sebentar saja," ujar Kaivan.
"Maaf, Kai, sepertinya sekarang kurang tepat. Luna baru saja tidur."
"Oh, begitu. Ya sudah, Om, nanti saja saya telepon lagi."
"Iya. Nanti kusampaikan sama Luna. Akan kusuruh menghubungimu segera jika sudah bangun," ucap Prawira.
"Iya, Om. Terima kasih."
Dengan sedikit kecewa, Kaivan memutus sambungan telepon. Kemudian, dia merenung dan memijit pelipis. Entah mengapa tak terselip rasa khawatir meski Luna sedang sakit, justru perasaan curiga yang lebih mendominasi.
"Biasanya, sekedar flu saja dia selalu bilang. Kenapa kali ini tidak?" batin Kaivan.
Pada waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Di kediaman Aluna Aldamaya, pria baruh baya sedang berdiri sambil melipat tangan di dada. Matanya menatap tajam ke arah putri yang selama ini disayangi. Untuk pertama kalinya, pria itu menyimpan rasa kecewa.
"Apa kamu tidak memikirkan kami, Luna? Sejak kecil aku dan ibumu selalu mengistimewakan kamu, bahkan sampai mengabaikan keberadaan Nadhea. Apa pun yang kamu mau selalu kami turuti. Tapi, apa balasanmu?" ujar Prawira dengan intonasi tinggi.
__ADS_1
"Maaf, Pa. Aku tidak sengaja melakukannya," jawab Luna dengan suara lirih, nyaris seperti bisikan.
"Tidak sengaja katamu? Sampai seperti ini kamu bilang nggak sengaja! Aku tidak sebodoh itu, Luna!" bentak Prawira.
"Aku khilaf, Pa." Luna makin menunduk. Air matanya berderaian membasahi pipi dan pangkuan. Dia menyesali kesalahan silam yang kini membuatnya terjebak dalam kehancuran.
Bukan jawaban yang Luna terima, melainkan tamparan keras yang mendarat begitu saja di wajahnya. Luna mendongak dan menatap ayahnya dengan nanar.
"Papa___" bisik Luna. Dia tak percaya ayahnya benar-benar menampar.
"Itu tidak sebanding dengan kecewanya Papa, Luna." Prawira menunjuk-nunjuk wajah Luna. "Papa tidak mau tahu bagaimana caranya, yang penting kamu harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Jangan sampai ini mencuat keluar! Atau kalau tidak ... Papa juga akan mencoret namamu dari daftar keluarga. Paham!" sambungnya.
"Pa___"
"Masalah pekerjaan sudah Papa urus, jadi kamu tidak ada alasan lagi untuk membiarkan masalah ini berlarut-larut," pungkas Prawira. Lantas dia melangkah pergi sebelum Luna melontarkan jawaban.
Setelah tubuh ayahnya menghilang di balik dinding, Luna beranjak sambil memegangi pipinya. Jika di masa lalu, dia tertawa melihat tamparan mendarat di wajah Nadhea. Namun kini, dirinya sendiri yang merasakan sakitnya tamparan itu. Di tengah rasa kecewa, Luna menggeram dan merutuki keadaan, yang menurutnya sangat tidak adil.
Tak lama kemudian, Luna dikejutkan oleh dering ponsel. Kali ini bukan Kaivan yang menelepon, melainkan Rega. Dengan tangan yang mengepal, Luna menerima telepon itu. Dia memejam ketika lelaki di seberang menyapanya dengan tawa renyah. Luna berusaha meredam emosi agar keadaan lekas membaik.
"Mau apa lagi kamu?" tanya Luna setelah muak mendengarkan basa-basi Rega.
"Aku ada dua pilihan untuk kamu, pilih salah satu, ya. Tenang aja, pilihannya nggak sulit kok," jawab Rega.
"Jangan macam-macam!"
"Enggak, cuma dua macam kok. Jadi gini, untuk menyelesaikan masalah yang kemarin kamu mau pisah sama Kaivan dan nikah sama aku, atau kamu serahkan perusahaan yang kamu pegang ke aku."
"Kamu jangan ngelunjak, ya! Aku sudah memberikan ratusan juta ke kamu. Jadi, aku tidak akan memberikan___"
__ADS_1
"Nggak mau ya nggak apa-apa, tapi ... aku nggak janji yang kemarin akan aman," pungkas Rega diiringi tawa.
"Tolong jangan menindas lagi! Antara kita sudah berakhir sejak kamu pergi, jadi jangan terus mengusik! Kamu nggak lupa, kan, dulu yang mengakhiri hubungan ini siapa?" Nada suara Luna menurun. Dia sadar emosi akan memperkeruh suasana. Itu sebabnya, dia rela menurunkan sedikit ego.
Rega terkekeh-kekeh, "Sangat ingat, tapi ... ah, tawaranku juga tidak terlalu buruk. Kalau kamu bersedia menikah denganku, aku akan jadi suami yang paling sempurna. Aku akan selalu menyayangi kamu, memanjakan kamu, dan memuaskan kamu juga. Atau kalau kamu lebih merelakan perusahaan, itu pun bukan pilihan yang buruk. Om Wira masih kaya, kamu bisa merintis perusahaan baru dengan dukungan beliau. Aku janji setelah ini nggak akan mengusik lagi."
"Aku tidak bisa___"
"Kalau kamu memilih yang pertama, kamu hanya kehilangan Kaivan. Kalau memilih yang kedua, kamu hanya kehilangan perusahaan. Tapi, kalau kamu tidak memilih keduanya, reputasimu yang dipertaruhkan. Pada akhirnya, Kaivan dan perusahaanmu akan hilang." Rega kembali memungkas ucapan Luna. Kali ini dengan nada dingin dan tegas.
Luna terdiam cukup lama. Otaknya sudah buntu dan tak bisa mencari jalan lain.
"Oke, karena kamu pernah menyenangkan malam-malamku, aku beri sedikit toleransi. Aku kasih waktu satu minggu untuk berpikir. Jika dalam tempo itu kamu tidak memberikan pilihan, maka ... aku akan berbuat sesukaku."
Sedetik setelah bicara, Rega memutus sambungan telepon. Sementara Luna, tubuhnya mendadak lemas dan dia terjatuh begitu saja. Karier yang diperjuangkan sekian lama, sekarang berada di ambang kehancuran. Rega, lelaki dari masa lalu yang pernah ada di lembaran hati, kini menyudutkannya tanpa belas kasih.
Luna yakin, apa pun pilihan yang diambil, pada akhirnya Rega-lah yang paling untung. Karena dia lelaki licik, tidak mungkin bertingkah sesederhana itu. Sebenarnya, satu-satunya jalan adalah menghancurkan Rega dan semua bukti yang dia punya. Namun, bagaimana caranya? Jangankan untuk memutarbalikkan keadaan, mengetahui posisi Rega saja Luna tak bisa.
_____________
Jarum jam baru menunjukkan angka delapan pagi. Namun, Kaivan dan Kennan sudah berada di pusat perbelanjaan Kota Bandung. Mereka membeli sedikit keperluan sebelum masuk kerja. Kebetulan, pemotretan dimulai dari jam sebelas.
Kennan sibuk memilih parfume, sedangkan Kaivan hanya melangkah datar di sampingnya. Kali ini, Kaivan tidak banyak memilih—asal ambil begitu saja. Karena Luna tak ada menghubungi hingga pagi ini, pikiran dan perasaan Kaivan makin kacau. Itu sebabnya, dia tak memusingkan diri dengan barang belanjaan—yang penting dapat.
"Kai! Kai!" panggil Kennan dengan sedikit tergesa, bahkan sambil menepuk-nepuk bahu Kaivan.
"Hmm?" jawab Kaivan tanpa menoleh.
Karena tak ada jawaban dari mulut Kennan, Kaivan menoleh sekilas. Mata beningnya menyipit kala menatap ekspresi sahabatnya yang jauh dari kata baik.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Kaivan.
Bersambung...